Oleh T.D. Singh, Ph.D.

Vedanta and Sains Indo

hanya Rp. 35.000

Apakah yang Vedanta sampaikan kepada kita tentang Brahman, Kebenaran Mutlak? Dalam Srimadbhagavatam (1.2.11), kita menemukan tiga kategori Kebenaran Mutlak: vadanti tat tattva-vidas tattvaà yaj jnänam advayam brahmeti paramätmeti bhagavän iti çabdyate Terjemahan: Para Rohaniwan Terpelajar-yang mengetahui Kebenaran Mutlak- menyebut Substansi-Yang-Tunggal itu (Tuhan-ed) dengan tiga sebutan sebagai berikut: Brahman (Yang Mutlak-Yang Tanpa Atribut), Paramätma (Roh Yang Utama yang bersemayam dalam segala sesuatu), atau Bhagavän (Pribadi Tuhan Yang Mahaesa Sendiri). Swami Prabhupäda menjelaskan dalam ulasannya, “Kebenaran Mutlak adalah baik subyek maupun obyek, dan tidak ada perbedaan kualitatif di sana. Oleh karena itu, Brahman, Paramätmä dan Bhagavän secara kualitatif adalah satu dan sama saja. Substansi yang sama diinsyafi sebagai Brahman yang bersifat impersonal oleh penganut Upanisad, sebagai Paramätma yang berada di suatu tempat oleh para Hiranyagarbha atau para yogi, dan sebagai Bhagavän oleh para Bhakta Tuhan. Dengan kata lain, Bhagavän atau Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, adalah kata terakhir tentang Kebenaran Mutlak. Paramätmä merupakan representasi sebagian dari Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, Brahman yang impersonal merupakan cahaya yang menyilaukan Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, seperti halnya sinar matahari dengan matahari sendiri.”29 Jadi menurut Vedanta, terdapat tiga aspek Kebenaran Mutlak atau Tuhan. Semua aspek ini membentuk fondasi Realitas Tertinggi ’Ultimate Reality”. Brahman: tidak memiliki atribut dan merupakan Prinsip abstrak dari Kebenaran Mutlak. Brahman adalah aura transendental Tuhan. Brahman adalah tujuan  perguruan spiritual para impersonalis advaita vedänta. Aspek Paramätma Kebenaran Mutlak dapat dirasakan melalui fakta dalam praktek ilmiah, keagamaan dan seni, kita sering mendapatkan inspirasi, tunduk dengan rendah hati kepada arahan dari dalam hati dan intuisi yang muncul secara tiba-tiba.30 Menurut Vedanta, semua inspirasi ini berasal dari Paramätma, yang membimbing setiap makhluk hidup dari dalam (hati). Ketika terjadi perubahan musim, berbagai jenis burung bermigrasi ke berbagai belahan dunia karena diarahkan oleh Paramätma dari dalam hatinya. Tuhan Yang Mahaesa dalam bentuk Paramätma membimbing setiap makhluk hidup termasuk mikroorganisme di alam semesta ini. Bhagavän berarti aspek Pribadi Kebenaran Mutlak. Aspek Bhagavan diinsyafi oleh para bhakta-Nya yang sepenuhnya telah sangat letih mengenyam pengalaman alam material dan telah menjadi sempurna dengan mempraktekkan sembilan jenis jalan Bhaktiyoga.31 Rincian penjelasan mengenai hal ini akan disajikan pada tulisan yang lain. Inilah tujuan dari dvaita vedänti atau Vaisnava vedänti. Paradigma Kesadaran Menurut Vedanta Sejak beberapa dekade terakhir, kesadaran telah muncul sebagai sebuah bidang studi yang penting dalam mata pelajaran ilmiah dan filosofis. Terdapat suatu peningkatan minat untuk meneliti ’Kesadaran’ di kalangan ahli Fisika Kuantum,  ahli fisiologi syaraf, filosof dan rohaniwan yang haus pengetahuan. William James32, von Neumann33, Eugene Wigner34, Erwin Schrodinger35, dan David Bohm36 adalah beberapa perintis dalam Studi tentang Kesadaran (Consciousness Study). Salah satu segi yang umum di kalangan ahli fisika quantum yaitu bahwa mereka semua berusaha menjelaskan runtuhnya fungsi gelombang melalui suatu reaksi dari pikiran atau kesadaran. Namun, terdapat sedikit bukti bahwa keruntuhan semacam itu dari fungsi gelombang sungguh-sungguh terjadi. Menurut pendapat penulis, mekanika quantum, dengan dengan keterbatasan-keterbatasannya dalam bahasa matematika, dapat, paling banter, menunjukkan adanya kesadaran namun tidak dapat membuktikannya ataupun menjelaskannya. Max Planck menyatakan, “Adalah sebuah kenyataan bahwa terdapat suatu titik, satu titik tunggal suatu ruang dari pikiran dan materi yang tak dapat diukur oleh sains dan oleh karenanya setiap metode riset sebab musabab tak dapat diterapkan, tidak hanya dalam bidang praktis, melainkan juga dalam bidang logika, dan tetap tak akan dapat diterapkan. Inilah titik dari kesadaran individual kita.” Terdapat banyak pandangan yang berbeda di kalangan para sarjana mengenai kesadaran dan diperlukan studi yang lebih dalam. Menurut Vedanta, Kesadaran adalah energi hidup dan sifat mendasar dari partikel-kehidupan (spiriton/atman-ed) dan ia sepenuhnya spiritual (bukanlah hasil interaksi matter-ed). Terdapat dua kategori kesadaran, universal dan individual. DIA Yang Tertinggi sadar akan segala sesuatu di alam semesta sedangkan para makhluk hidup hanya sadar akan diri mereka saja. Hakikat ontologis atau keberadaan Kesadaran adalah bersifat non-fisik. Säìkhya darshan dalam Srimadbhagavatam (Skanda 3, Bab 26) menjelaskan bahwa jiva, kehidupan, berdasarkan pada kehadiran suatu Kuantum Kesadaran dan ia tetap sebuah bidang terpisah. Inilah sumber dari seluruh pengetahuan dan pengalaman kami. Selanjutnya, Vedanta menjelaskan materi sebagai bidang dari aktifitas dan menurut sifatnya, materi bersifat tak giat dan tidak memiliki kesadaran. Namun terdapat interaksi antara partikel-kesadaran individu dengan materi melalui kesadaran-universal. Lebih jauh, peristiwa-peristiwa alamiah yang terjadi di dunia material merupakan peta dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia spiritual (kesadaran). Sekitar empat abad yang silam, seorang ahli filsafat Francis Rene Descartes menyimpulkan bahwa yang pasti dia mengetahui satu hal: “Saya berpikir, oleh karena itu saya ada……”37 Dari sudut pandang Vedanta, ungkapan, ‘aku’ adalah kesadaran langsung dan sifat transendental dari sang-diri. Ribuan tahun sebelum Descartes, para resi Veda menginsyafi prinsip itu bahkan selangkah lebih jauh, aham brahmäsmi, yang berarti, aku adalah Brahman, aku adalah sang jiva-diri yang memiliki kesadaran. Inilah Kesadaran yang dalam bahasa Sanskerta disebut cetana. Tindakan berpikir yang dilakukan oleh manusia merupakan gejala dari kesadaran dan itu merupakan milik kehidupan. Kesadaran palsu ditunjukkan di bawah kesan bahwa ‘saya adalah produk dari alam material ini.’ Banyak ilmuwan cemerlang abad dua puluh yang telah lewat juga setuju bahwa kesadaran tidak dapat dijelaskan dengan istilah-istilah paradigma material. Niels Bohr mengungkapkan, “Tak dapat disangkal kita tidak menemukan apa-apa dalam fisika atau kimia yang bahkan sangat jauh hubungannya dengan kesadaran. Namun kita semua mengetahui bahwa memang ada hal semacam itu yang dikenal sebagai kesadaran, semata-mata karena kita sendiri memilikinya. Karena itu kesadaran pastilah bagian dari alam, atau lebih umum, bagian dari realitas, yang berarti bahwa, sungguh-sungguh terlepas dari hukum-hukum fisika dan kimia, sebagaimana ditetapkan dalam teori quantum, kita juga harus mempertimbangkan suatu alam yang sungguh berbeda.38 Demikian juga, ilmuwan Inggris yang terkenal Michael Polanyi berpendapat, “… begitu ia disadari, dalam bidang-bidang lain, bahwa kehidupan melampaui fisika dan kimia, tidak akan ada alasan untuk menolak mengakui kenyataan sebelumnya bahwa kesadaran adalah suatu prinsip yang secara fundamental melampaui bukan hanya fisika dan kimia melainkan juga prinsip-prinsip mekanistik dari para makhluk hidup.”39 Vedanta menjelaskan bahwa kesadaran adalah di luar pikiran dan kecerdasan dan Vedanta juga memberikan hirarkinya sebagai berikut (Gambar 1) (Bhagavadgétä 3.42):

indriyäni paräëy ähur

indriyebhyaù paraà manaù

manasas tu parä buddhir

yo buddheù paratas tu saù

Terjemahan: “Indera-indera yang bekerja lebih tinggi daripada materi yang mati, pikiran lebih tinggi daripada indera-indera, kecerdasan masih lebih tinggi daripada pikiran, dan dia [sang jiwa] bahkan lebih tinggi lagi daripada kecerdasan.” Interaksi dari kesadaran dengan kecerdasan, pikiran, dan indera-indera dijelaskan dalam Kaöha Upaniñad (1.3.3-4) sebagai sebuah kereta imajiner sebagai berikut:

ätmänaà rathinaà viddhi

çaréraà ratham eva ca

buddhià tu särathià viddhi

manaù pragraham eva ca

indriyäëi hayän ähur

viñayäàs teñu gocarän

ätmendriya-mano-yuktaà

bhoktety ähur manéñiëaù

Terjemahan: “Individu adalah sang penumpang dalam kereta badan material, dan kecerdasan adalah kusirnya. Pikiran adalah tali kekangnya, sedangkan indera-indera adalah kuda-kuda dari kereta itu. Seperti itulah hal ini dimengerti oleh para pemikir yang mulia.” Kereta imajiner tersebut dilukiskan pada Gambar 2. Kesadaran individual atau partikel kehidupan diumpamakan seperti penumpang karena dia adalah penumpang yang berkuasa dan dengan demikian dia menikmati dan menderita perjalanan yang dilakukannya. Kuda-kuda menunjukkan indera-indera yang selalu menarik kereta badan manusia ke arah obyek-obyek indera-indera. Kecerdasan diumpamakan sebagai kusir kereta karena sang kusir melakukan pemilihan-pemilihan yang diperlukan demi sukses dan nyamannya perjalanan. Pikiran diumpamakan sebagai tali kekang karena ia berhubungan langsung dengan kuda-kuda (indera-indera) dan dikendali oleh kusir (kecerdasan). Seorang kusir yang cakap (kecerdasan) memegang kendali tali kekang (pikiran) yang berhubungan dengan kuda-kuda (indera-indera) untuk menjalankan kereta dengan baik ke arah tempat tujuan dengan kemampuan memilah-milah. Dengan demikian sang penumpang atau sang jiwa akan dapat mencapai tempat tujuan yang diinginkan dengan mempergunakan seluruh komponen dengan baik. Sebaliknya, jika salah satu saja dari komponen-komponen itu tidak terkendali atau tak terkoordinir sebagaimana mestinya menurut urutannya, cepat atau lambat kereta tersebut pasti akan mengalami kecelakaan. Kesadaran sebagai Kategori Realitas yang lain

Banyak tradisi-tradisi spiritual dunia, khususnya tradisi Veda India telah menyatakan bahwa kesadaran adalah sebuah realitas yang memiliki sifat yang berbeda dengan partikel dan gelombang. Beberapa ilmuwan modern juga telah mendukung kebijaksanaan purba ini. Misalnya, Thomas Huxley menyatakan, “Nampak jelas bagi saya bahwa terdapat sesuatu yang ketiga di jagat raya ini, untuk mengetahui sesuatu, kesadaran, yang …saya tidak bisa mengatakannya sebagai materi atau tenaga, ataupun suatu modifikasi yang dapat dipahami dari keduanya.”40 Observasi yang serupa bergema dalam kata-kata seorang ahli fisika yang terkenal, Eugene Wigner, yang menyatakan, “Terdapat dua macam realitas atau eksistensi; eksistensi dari kesadaran saya dan realitas atau eksistensi dari segala sesuatu yang lain.41 Menurut Vedanta, aktifitas manusia dilaksanakan atas kehendak dari partikel kehidupan yang memiliki kesadaran, yang kemudian diterjemahkan melalui kecerdasan dan pikiran ke badan manusia. Pikiran berinteraksi dengan badan melalui otak. Otak adalah seperti central processing unit dari sebuah computer di mana semua sinyal kegiatan keluar dan masuk, namun dia bekerja sesuai dengan kehendak dari sang programmer. John Eccles mengusulkan psychon sebagai unit fundamental dari pikiran dan ia berinteraksi dengan otak melalui dendron42. Karl Pribram telah mengusulkan bahwa psychon adalah sesuatu yang seperti fungsi Gabor, suatu fungsi gelombang (lihat artikel, “Sains is Spiritual”, hal.38). Namun, Vedanta mengisyaratkan bahwa partikel kehidupan berada di luar sifat partikel dan gelombang. Oleh karena itu, interaksi dari partikel kehidupan dengan kecerdasan merupakan sebuah interaksi yang sangat kompleks dan sungguh di luar jangkauan sains modern. Akan sangat wajar bahwa para ahli biologi dan biokimia modern seharusnya memasukkan studi kesadaran dalam karya riset mereka. Bidangnya seharusnya tidak kebanyakan diserahkan kepada para ilmuwan ahli syaraf, ahli fisika quantum, ahli psikologi dan ahli filsafat saja. Untuk membaca lebih lanjut tentang topik ini silahkan baca di buku: Seri Vedanta dan Sains : Kehidupan dan Asal Mula Jagat raya

Popularity: 53% [?]

Leave a Reply