Vasudhaiva Kutumbakam
Kita Semua adalah Saudara, Hormati Perbedaan yang ada
Oleh
T.D. Singh Ph.D
(Sri Srimad Bhaktisvarupa Damodara Swami Srila Sripada)
Cinta Tuhan terlalu besar untuk dikangkang, hanya oleh satu kelompok atau hanya oleh satu agama saja.
- Uskup Agung Desmond M. Tutu (Peraih Nobel dalam bidang Perdamaian)
Di Indonesia yang terdiri atas berbagai etnik, suku dan agama ini sudah sangat sering terjadi gesekan antar golongan keyakinan dan atau antar agama, seperti konflik ambon, poso, dan lain sebagainya. Dan tiga terakhir ini kekerasan atas nama agama semakin marak di indonesia, penusukan terhadap keyakinan suatu agama oleh keyakinan oleh agama yang lain. Salah satu penyebab dari konflik-konflik ini adalah rasa amarah yang tidak terkendali. Kesalahpahaman ini sering terjadi karena fanatik buta dan kurangnya dialog dari hati ke hati. Oleh karena itu, DR. T.D. Singh, Ph.D memberikan solusi perlunya menginsyafi bahwa kita semua saudara dan berasal dari Tuhan yang sama, meskipun kita memiliki banyak perbedaan namun sebenarnya kita tetaplah bersaudara. Oleh karena itu, dalam kolom ini kami akan menyajikan tulisan DR. TD Singh secara berseri tentang Sains Dialog Lintas Agama, sebagai usaha kami memberikan kontribusi kecil untuk Indonesia yang Harmonis dan Damai.
Umat manusia yang menghuni bumi ini, memiliki banyak perbedaan. Mereka memiliki bahasa yang berbeda, warna kulit yang berbeda, budaya kehidupan berbeda, kebiasaan makan yang berbeda, filosofi kehidupan yang berbeda, memiliki pikiran yang berbeda, memiliki visi yang berbeda, agama yang berbeda, konsep realitas yang berbeda, pakaian yang berbeda, rupa yang berbeda, pemahaman akan ‘benar-salah’ atas suatu tindakan (nilai moral dan ethis) yang berbeda, dan bahkan tingkat fanatic–yang berada diluar kebijaksanaan rasio (wisdom of rationality)–yang berbeda, dalam berbagai tradisi-tradisi relijius yang berbeda pula.
Pada abad 21 (millennium ketiga), secara teori, umat manusia harus membuat kemajuan yang pesat di segala bidang kultur manusia dalam nama kemajuan saintifik. Bagaimanapun juga, umat manusia telah menyaksikan dua perang dunia. Ada sebuah perlakuan yang serius akan penggunaan senjata nuklir yang memiliki kemampuan menghancurkan seluruh umat manusia dan berbagai bentuk kehidupan di muka bumi ini. Kita juga telah menyaksikan sejarah pembunuhan beberapa dekade terakhir seperti pembunuhan Mahatma Gandhi, Martin Luther King, J.F. Kennnedy, dan Rajiv Gandhi, adalah beberapa diantaranya. Pada tanggal 11 September 2001, serangan teroris yang tak manusiawi pada WTC, New York City menunjukkan wajah yang paling jelek peradaban umat manusia.
Salah satu akar penyebab dari tindakan tragis ini adalah rasa amarah yang tak terkendali. Adalah sebuah aib bagi peradaban dan kultur manusia dan dapat dikatakan sebagai sebuah kejahatan yang serius kepada ciptaan Tuhan. Ditengah-tengah kejahatan ini, kita kehilangan esensi dan nilai-nilai kehidupan manusia yang sesunggguhnya. Keuntungan yang diberikan oleh sains dan teknologi adalah bahwa kita dapat berkomunikasi dan mengenal satu sama lain lebih cepat sekarang daripada di masa lalu. Kita tidak dapat mengisolasi diri kita dari segala kejadian yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Kita tidak dapat buta ‘cuek’ terhadap segala kejadian baik kecil maupun besar. Sekarang waktunya telah tiba bahwa kita harus secara kolektif dan satu-padu mencoba untuk menemukan cara dan alat untuk menghilangkan segala kesalahpahaman lewat dialog, ‘bridge buildings’ pembangunan jembatan (komunikasi) dan lain sebagainya, diantara berbagai komunitas.
Salah satu harapan bahwa agama-agama memberikan pemahaman kepada umat manusia bahwa kita semua adalah “Anak-anak” Tuhan. Tuhan dipanggil dengan berbagai nama yang berbeda dalam berbagai komunitas yang berbeda. Namun bagaimanapun juga, Dia adalah Our Common Father, Dia adalah Ayah kita yang sama. Demikianlah kita semua memiliki prinsip yang sama. Kita semua adalah saudara dan saudari (Vasudhaiva Kutumbakam-ed). Di dalam keluarga, jika salah satu orang melakukan kesalahan, kesalahan itu harus dikoreksi, dan bukan merupakan hukuman. Proses ini adalah bagian dari pendidikan. Hal ini harus dilakukan secara kolektif. Fanatik-isme harus dikoreksi (diperbaiki). Wahyu-wahyu baru dapat datang lewat generasi-generasi baru melalui pengaturan Tuhan.
Pendidikan spiritual menekankan bahwa kita semua adalah “Anak-anak” Tuhan dan kita harus menghormati satu sama lain. Pemahaman ini adalah fondasinya dan segala sesuatu akan mengikuti secara otomatis jika kita menerapkan prinsip ini. The science of value ‘Sains akan Nilai’ disebut juga dengan istilah “Global Ethics” atau “Universal Ethics” akan memiliki makna ketika kita memasukkan esensi dari nilai-nilai spiritual semua tradisi relijius (agama) kedalamnya.
Taken From “The Science Of Interreligious Dialogue” Chapter 1, by DR. TD Singh, Ph.D
TD Singh adalah aktivis spiritual dan tokoh dan pemimpin interfaith-dialogue, beliau adalah Co-Founder of URI (United Religion Initiative), oraginasi terbesar dalam Dialog Lintas agama. beliau juga seorang penulis produktif, yang lahir di Manipur India pada tanggal 9 Desember 1937. Dalam tiga dekade terakhir ini beliau telah menerbitkan lebih dari tiga lusin buku dan puluhan bulletin dan jurnal dalam bidang sintesis sains dan agama dan dalam bidang dialog lintas agama, harmoni dan perdamaian. TD Singh pernah mendapatkan penghargaan oleh United Nation yang diserahkan oleh asisten sekjen, DR. Muller, disamping itu beliau juga pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah Italia dan Metanexus Institut USA atas usahanya menggalang perpaduan antara Sains dan Agama yang selama ini terjadi perang. Selain itu, TD Singh, juga adalah Founder Director dari Bhaktivedanta Insitute yang memiliki berbagai cabang di seluruh dunia, beliau juga mendirikan ISR, UBC, Vedanta dan Science Educational Research Foundation. TD Singh adalah tamatan Universitas bergengsi di Amerika serikat, University of California, namun walo posisi karir yang menjanjikan, panggilan suci membuatnya membuatnya meninggalkan segala keduniawian dan menjadi seorang Sanyasi (Bhiksu), sepenuhnya berkeliling dunia mengabdi pada Yang Kuasa demi ikut and berkontribusi pada Harmonisasi dan Perdamaian Umat manusia. TD Singh sering berkunjung ke Indonesia dan pernah mengadakan URI Asia Pasifik Assembly di Bali yang juga dihadiri oleh Presiden Gus DUr.
Popularity: 2% [?]