<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sripada Nectar &#187; makna dan misteri hidup</title>
	<atom:link href="http://www.sripadanectar.com/tag/makna-dan-misteri-hidup/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sripadanectar.com</link>
	<description>All About Srila Sripada (DR. T.D. Singh, Ph.D)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 03:18:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Memadukan  Science dan Spirituality</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/memadukan-science-dan-spirituality.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/memadukan-science-dan-spirituality.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 04:57:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Sankirtan Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Bhaktivedanta Institute Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[conciousness]]></category>
		<category><![CDATA[Institut Bhaktivedanta Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[internasional seminar]]></category>
		<category><![CDATA[International seminar Science and Spirituality]]></category>
		<category><![CDATA[life mystery]]></category>
		<category><![CDATA[makna dan misteri hidup]]></category>
		<category><![CDATA[makna kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[misteri jagatraya]]></category>
		<category><![CDATA[misteri kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[misteri ruang dan waktu]]></category>
		<category><![CDATA[mysteries of life]]></category>
		<category><![CDATA[Sains dan Spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Science and GOd]]></category>
		<category><![CDATA[Science and Spirituality]]></category>
		<category><![CDATA[Scientific Spirituality]]></category>
		<category><![CDATA[Seminar BI]]></category>
		<category><![CDATA[sintesis sains dan agama]]></category>
		<category><![CDATA[td singh]]></category>
		<category><![CDATA[time travel]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan dan makna kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Unud seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[Memadukan Science dan Spirituality untuk sebuah Masyarakat yang lebih Harmonis dan Damai &#160; &#160; by DR. T.D. Singh, Ph.D Pendiri Yayasan Institut Bhaktivedanta Indonesia (YIBI) &#160; &#160; &#160; “Emosi yang paling mendasar dan indah yang dapat kita rasakan/alami adalah sensasi-sensasi sesuatu yang bersifat mistik.”                                                                                                         &#8212;Albert Einstein &#160; If somehow we can bring together the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Memadukan</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Science</em></strong><strong> dan <em>Spirituality</em></strong></p>
<p align="center"><strong>untuk </strong></p>
<p align="center"><strong>sebuah Masyarakat yang lebih Harmonis dan Damai</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">by <strong>DR. T.D. Singh, Ph.D</strong></p>
<p align="center"><strong>Pendiri Yayasan Institut Bhaktivedanta Indonesia (YIBI)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<strong><em>Emosi yang paling mendasar dan indah yang dapat kita rasakan/alami adalah sensasi-sensasi sesuatu yang bersifat mistik.”</em></strong></p>
<p><strong>                                                                                                        &#8212;Albert Einstein</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>If somehow we can bring together the idea of openness present in science with religious thinking that has ideas of love and peace at its base, maybe that is the way.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Jika entah bagaimana, kita mampu menggabungkan ide <strong>‘keterbukaan’</strong> yang ada dalam ‘Science’ dengan ide <strong>‘love and peace’</strong> yang merupakan dasar pemahaman relijius, mungkin ini adalah jalan yang lebih baik (untuk pengetahuan yang lebih lengkap-ed).</em></p>
<p>&#8211;<strong>William D. Phillips (Peraih Nobel Fisika)</strong></p>
<p><strong><em>&#8220;Individu-individu yang bijak dapat melihat campuran sempurna antara sains dan spiritualitas di dalam laboratorium raksasa alam semesta ini.&#8221;</em></strong></p>
<p><strong>&#8211; T.D. Singh</strong></p>
<p><a href="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2011/08/Unud_Internasional_seminar.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-415" title="Unud_Internasional_seminar" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2011/08/Unud_Internasional_seminar-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p>Kontribusi utama <strong><em>Spirituality</em></strong> (jalan kerohanian) adalah mengakui bahwa Tuhan merupakan fondasi segala realitas yang ada. Tuhan menciptakan objek yang bergerak maupun yang tidak bergerak dengan tujuan rohani. Dan demikianlah objek-objek yang bergerak (para makhluk hidup-ed) bukanlah sekedar produk reaksi-reaksi kimia molekuler kompleks <em>belaka</em>, melainkan, makhluk hidup merupakan sebuah kombinasi antara <em>matter</em> (partikel material)&#8211;yang tak bergerak dan partikel spiritual (<em>spiriton, </em>atau <em>atman</em> dalam bahasa sansekerta)&#8211;entitas hidup yang kekal. Dengan kata lain, partikel fundamental <em>matter</em> tidak bisa berubah menjadi <em>spiriton</em> (entitas hidup) maupun berevolusi perlahan-lahan menjadi s<em>piriton</em> (partikel spiritual atau kehidupan itu sendiri).<em> Matter</em> dan <em>Spiriton</em> adalah berbeda dan merupakan entitas yang terpisah. Tetapi pada waktu penciptaan alam material ini, <em>spiriton</em> (<em>atma)</em> ini berinteraksi dengan partikel-partikel material, atom dan molekul. Dengan rencana dan hukum Tuhan membentuk entitas bergerak yang disebut para makhluk hidup. Interaksi ini diuraikan di dalam literatur-literatur Veda dan Vedanta India.</p>
<p>Atom dan molekul awalnya tidak memiliki makna <strong><em>‘meaning or values’</em></strong>. Bagaimanapun juga, atom-atom dan molekul ini akan memiliki makna, ketika berhubungan dengan sang daya hidup, sang entitas spiritual ‘<strong><em>spiriton</em></strong><em>’</em>. Sebagai contoh, selembar kertas, yang terbuat dari selulosa, awalnya tidak memiliki nilai “<strong><em>Values”</em></strong>. Namun, ketika pemerintah memberikan nilai-nilai tertentu kepada kertas itu dalam bentuk uang, maka ia akan memiliki makna dan sangat berguna. Demikian pula halnya dengan molekul-molekul (berbagai zat) yang membentuk badan manusia ini akan memiliki makna yang luar biasa sepanjang <strong>“sang pribadi di dalam badan”—sang roh (spiriton)</strong> itu masih ada. Oleh karena itu, ketika seseorang mati, badan material tidak memiliki nilai begitu pula tanpa makna dan tujuan atom-atom dan molekul tidak memiliki nilai. Lebih lanjut kedamaian merupakan sebuah kunci yang terbuat dari <strong><em>makna, tujuan dan pemenuhan akan kehidupan</em></strong> dan <strong><em>tanpa kedamaian tidak akan pernah ada kebahagiaan dan nilai dalam hidup.</em></strong></p>
<p>Kata “makna” memiliki arti yang spesial dalam setiap dialog perdamaian. Adalah sebuah persepsi yang umum bahwa pendekatan saintifik akan kehidupan bersifat <strong><em>reduksionisme</em></strong> dan <strong><em>materialisme</em></strong>. Di dalam kedua faham ini, tujuan hidup adalah semata untuk mempromosikan <strong><em>kemajuan ekonomi dan sosial</em></strong> dengan memanfaatkan <strong>pemikiran (riset) ilmiah</strong>. Dalam sudut pandang seperti ini, tujuan dan makna kehidupan manusia adalah untuk memeroleh uang sebanyak mungkin dan menikmati sebanyak mungkin tanpa mempedulikan sisi etis dan makna sejati kehidupan. Para materialis mencoba mengisi kehampaan&#8211;yang tercipta akibat pengabaian akan Tuhan dan Jalan Spiritualitas&#8211;ini dengan berbagai ideologi ciptaan mereka sendiri, seperti, Rasisme, Komunisme, Nasionalisme, dan berbagai ideologi lainnya. Di dalam peradaban Saintifik Modern dewasa ini, kita sudah melihat bahwa sebagian kelompok manusia, sedang me-materialis-kan (lebih menonjolkan sisi materialistic agama ketimbang sisi spiritual yang universal-ed) Agama mereka, yang merupakan akar pertengkaran global (termasuk kekerasan atas nama agama-ed) dewasa ini. Maka dengan makna kehidupan yang salah atau palsu seperti ini tidak akan membawa kedamaian yang permanen di dunia ini.</p>
<p>Solusi atau jawaban atas pertanyaan akan <strong><em>makna kehidupan</em></strong>, sesungguhnya berada pada pendekatan komplementer Sains dan Spiritualitas. <em>Spiritual wordview</em> atau <em>religious worldview</em>, di dalam bentuknya yang paling murni, mengembangkan sifat moral umat manusia dengan memahami dimensi dalam akan realitas (inner dimensions of reality), Sains, di lain pihak membantu umat manusia untuk mengertikan beberapa aspek realitas fisika. Jadi, demikianlah, ketika dipadukan bersama, dua sistem pengetahuan ini, Science dan Spirituality akan  menjadi komplementer satu sama lain. Sebagai contoh, spiritualitas atau bentuk agama paling murni membimbing masyarakat manusia dengan visi yang tepat untuk menciptakan masyarakat yang penuh makna dan adil, sedangkan sains memberikan alat dan keterampilan untuk mencapainya (tujuan agama tadi), demikianah cara menapaki jalan untuk mencapai kedamaian dunia abadi.</p>
<p>Menurut tradisi-tradisi spiritual dunia, alam semesta ini bukanlah sebuah produk dari ‘kebetulan yang buta’, melainkan telah diciptakan oleh Tuhan untuk memfasilitasi sebuah evolusi kesadaran bagi para makhluk hidup. Seperti halnya di sekolah-sekolah kita memiliki mainan bagi anak-anak dan buku-buku tentang <em>advanced mathematics and arts</em> bagi murid-murid yang sudah senior dan matang, (demikian) juga Tuhan telah menciptakan alam semesta ini, untuk memfasilitasi evolusi kesadaran bagi para makhluk hidup dari kesadaran yang lebih rendah menuju kesadaran yang lebih tinggi.</p>
<p>Tuhan juga menciptakan planet Bumi yang indah ini, sebuah campuran ekselen akan ‘rasa kagum’ dan ‘keindahan.’ Kecerdasan umat manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk melihat dunia kuantum partikel-partikel fundamental yang indah dan penuh misteri. <strong>Kita dicengangkan oleh jumlah mikroorganisme yang tak terhitung jumlahnya. Semua ini adalah hadiah dari <em>scientific enterprise</em>. Dilain pihak, kita juga dapat menghargai keagungan ciptaan Tuhan seperti gunung-gunung tinggi, air terjun, danau-danau dan samudra luas dengan makhluk-makhluk hidupnya yang besar dan kecil yang berada didalamnya</strong>. Kita juga dapat menikmati pemandangan hutan-hutan lebat, berbagai jenis bunga-bunga harum dan banyak burung-burung yang penuh warna warni menyanyi dan bersiul ‘<em>cooing</em>’ di dalam suara mereka yang sangat indah dan merdu, di alam mekar yang penuh damai dan tenang, secara terus menerus mengumandangkan keagungan Yang Kuasa. <strong><em>Individu-individu yang bijak dapat melihat campuran sempurna antara sains dan spiritualitas di dalam laboratorium raksasa alam ini. Einstien melihat sifat-sifat alam ini dalam petualangannya pada jalan sains dan spiritual.</em></strong> Dia berkata, “<strong><em>Emosi yang paling mendasar dan indah yang dapat kita rasakan/alami adalah sensasi-sensasi sesuatu yang bersifat mistik.”</em></strong> Itu merupakan penabur bagi semua sains sejati. Dengan mengetahui bahwa apa yang tak ditembus bagi ikita benar-benar eksis, memanifestasikan dirinya sendiri sebagai kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang cemerlang yang mana dengan alat-alat kita yang tumpul, yang hanya dapat memahami misteri alam ini hanya dalam bentuknya yang paling primitif—pengetahuan ini, perasaan ini berada dalam pusat kesalehan sejati.”</p>
<p>Di alam ini, <em>persediaan</em> telah disediakan bagi semua bentuk kehidupan untuk mengangkat kesadaran mereka dari tingkat kesadaran yang lebih rendah kepada kesadaran yang lebih tinggi, lewat proses <strong>evolusi spiritual</strong>. Seperti halnya elektron tidak dapat dilihat tetapi keberadaannya dapat disimpulkan dengan berbagai gejala atau tanda-tanda, sama halnya secara material kita tidak dapat melihat Tuhan namun eksistentsiNya dapat disimpulkan dari keberadaan ciptaanNya. Tradisi-tradisi spiritual dunia mengajarkan kita tujuan, visi dan rencana Tuhan dibalik ciptaan yang luar biasa ini. Lebih lanjut tradisi-tradisi spiritual ini mengajarkan kita bagaimana bertindak agar sejalan dengan rencana kosmikNya.</p>
<p>Bertindak sesuai dengan pemahaman dan pengetahuan spiritual memerlukan kita untuk menginsyafi kesatuan diantara semua makhluk hidup sebagai “anak-anak Tuhan” dan menghargai bahwa Kosmos adalah satu keluarga besar. Demikianlah kita adalah anak-anakNya diikat bersama dengan ikatan persaudaraan yang erat. Seseorang dapat mengamati kecenderungan ini; banyak orang yang memiliki hewan dan burung peliharaan dan mencintai hewan peliharaan ini sebagai anggota keluarga mereka sendiri. <strong>Demikianlah <em>spirituality</em> melampaui segala tembok perbedaan.</strong></p>
<p>Semakin kita menyadari bahwa kita semua adalah saudara dan saudari, dalam sebuah keluarga spiritual yang sama, maka secara mudah dapat kita pahami hubungan universal antara satu dengan lainnya. <strong><em>Jadi bagian penting dari proses perdamaian adalah menghargai dan mendukung satu sama lain meskipun berbeda budaya dan agama</em></strong>. Dan lagi, kultur persahabatan antara komunitas yang berbeda agama dan bangsa termasuk persahabatan antara sains dan spiritualitas akan mempercepat dan memfasilitasi lebih jauh untuk terbentukya perdamaian.</p>
<p>Pada titik kritis <span style="text-decoration: underline;">sekarang</span> ini, ketika eksistensi umat manusia dihadapkan dengan banyak krisis, satu-satunya jalan untuk bertahan adalah merajut benang-benang pemahaman dan saling pengertian, baik antar individu, komunitas, dan antar Negara, dalam rangka membangun <em>damai dan harmoni</em> di atas sebuah fondasi spiritual.</p>
<p>Bagaimanapun juga, <strong><em>mengakui Tuhan sebagai sumber segala ciptaan di dalam sebuah ranah realitas rohani akan memerlukan sebuah pendekatan rasional atau semi rasional, yang masih sangat kurang (diterapkan oleh berbagai agama</em></strong>-ed). Karena kekurangan pemahaman yang tepat akan makna kitab-kitab suci mereka, <strong><em>maka banyak kelompok agama (relijius) sering dikuasai oleh fanatikisme yang berlebihan dan berbagai jenis tujuan-tujuan materialistik</em></strong>. Demikianlah, karena fanatikisme (yang berlebihan), satu agama sering berbenturan dengan agama yang lain sehingga membahayakan bagi kemanusiaan. Oleh karena itu, atas dasar skenario yang sering terjadi dewasa ini, maka adalah sangat penting bagi berbagai tradisi agama untuk menanamkan semangat ilmiah dan rasional.</p>
<p>Di lain pihak, kita semua sadar bahwa <strong><em>meskipun kemajuan dalam sains dan teknologi dewasa ini telah membawa keuntungan yang dahsyat bagi umat manusia, namun kemajuan Sains dan Teknologi modern ini secara terus-menerus meningkatkan masalah-masalah etis.</em></strong> Nilai-nilai etis <em>‘ethical values’</em> tidak mampu untuk menjaga kecepatan perkembangan sains dan teknologi yang eksplosif. Tren atau kecenderungan ini secara serius menguji umat manusia. Jadi, <strong><em>sangatlah penting dibutuhkan tuntunan umum etika dalam riset saintifik, yang bergantung pada kebijaksanaan spiritual</em></strong> yang bersifat tak lekang oleh waktu, khususnya dalam <em>bioengineering</em> dan bioteknologi. Sebuah pendekatan yang seimbang antara semangat saintifik dan nilai-nilai spiritual harus dijamin atau dipastikan. Walaupun telah ada berbagai usaha untuk kedamaian dunia dengan tradisi religius, komunitas sains dan perkumpulan politik, <strong><em>perdamaian dunia yang akan datang akan tinggal impian jika usaha kerja sama antara sains dan spiritual tidak mendapat kedudukan.</em></strong></p>
<p>Untuk ikut mewujudkan tujuan luhur ini dan Dalam Rangka Dies Natalis Universitas Udayana yang ke 49, Universitas Udayana bekerja sama dengan Yayasan Institut Bhaktivedanta Indonesia (YIBI) sebagai pusat kajian Sains dan Spirituality, akan menyelenggarakan Seminar Internasional pada tanggal <strong>3 September 2011, bertempat di </strong><strong>Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Indonesia, Jalan P.B. Sudirman. Tiket terbatas. Harga tiket Cuma Rp. 150.oo (dpt dibeli di Gramedia Denpasar atau hubungi panitia:</strong>Dr. Made Wardhana, melalui email: made_wardhana@yahoo.com atau HP:  +62 85 637 045 91.Suastawa: 08980717379, Alex: 087860209229Gung De: 081916101691,  Nariata: 081999805458; Romeo: 081237592245<strong>)<br />
</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=413&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/memadukan-science-dan-spirituality.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vedanta dan Kebenaran Mutlak</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/vedanta-dan-kebenaran-mutlak.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/vedanta-dan-kebenaran-mutlak.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 14:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scientific Article]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta and Science]]></category>
		<category><![CDATA[Ajaran VEdanta sutra]]></category>
		<category><![CDATA[keistimewaan hidup manusia]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran adalah realitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kesadaran dan Fisika Kuantum]]></category>
		<category><![CDATA[keunikan hidup manusia]]></category>
		<category><![CDATA[makna dan misteri hidup]]></category>
		<category><![CDATA[makna dan tujuan kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[menguak misteri hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan agama]]></category>
		<category><![CDATA[spiriton partike kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[studi tentang kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[Tiga aspek Kebenaran Mutlak]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan dalam VEdanta]]></category>
		<category><![CDATA[TUhan dan Ultimate Reality]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta dan Kebenaran Mutlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Oleh T.D. Singh, Ph.D. Apakah yang Vedanta sampaikan kepada kita tentang Brahman, Kebenaran Mutlak? Dalam Srimadbhagavatam (1.2.11), kita menemukan tiga kategori Kebenaran Mutlak: vadanti tat tattva-vidas tattvaà yaj jnänam advayam brahmeti paramätmeti bhagavän iti çabdyate Terjemahan: Para Rohaniwan Terpelajar-yang mengetahui Kebenaran Mutlak- menyebut Substansi-Yang-Tunggal itu (Tuhan-ed) dengan tiga sebutan sebagai berikut: Brahman (Yang Mutlak-Yang Tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh T.D. Singh, Ph.D.</p>
<div id="attachment_357" class="wp-caption alignleft" style="width: 106px"><img class="size-full wp-image-357" title="Vedanta and Sains Indo" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/Vedanta-and-Sains-Indo.jpg" alt="Vedanta and Sains Indo" width="96" height="150" /><p class="wp-caption-text">hanya Rp. 35.000</p></div>
<p align="center">
<p>Apakah yang Vedanta sampaikan kepada kita tentang <em>Brahman,</em> Kebenaran Mutlak? Dalam <em>Srimadbhagavatam</em> (1.2.11), kita menemukan tiga kategori Kebenaran Mutlak:  <em>vadanti tat tattva-vidas tattvaà yaj jnänam advayam</em> <em>brahmeti paramätmeti bhagavän iti çabdyate</em> <strong>Terjemahan:</strong> Para Rohaniwan Terpelajar-yang mengetahui Kebenaran Mutlak- menyebut Substansi-Yang-Tunggal itu (Tuhan-ed) dengan tiga sebutan sebagai berikut: <em>Brahman </em>(Yang Mutlak-Yang Tanpa Atribut), <em>Paramätma</em> (Roh Yang Utama yang bersemayam dalam segala sesuatu), atau <em>Bhagavän</em> (Pribadi Tuhan Yang Mahaesa Sendiri).  Swami Prabhupäda menjelaskan dalam ulasannya, “Kebenaran Mutlak adalah baik subyek maupun obyek, dan tidak ada perbedaan kualitatif di sana. Oleh karena itu, <em>Brahman, Paramätmä</em> dan <em>Bhagavän</em> secara kualitatif adalah satu dan sama saja. Substansi yang sama diinsyafi sebagai <em>Brahman </em>yang bersifat impersonal oleh penganut Upanisad, sebagai <em>Paramätma</em> yang berada di suatu tempat oleh para Hiranyagarbha atau para yogi, dan sebagai <em>Bhagavän</em> oleh para Bhakta Tuhan. Dengan kata lain, <em>Bhagavän</em> atau Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, adalah kata terakhir tentang Kebenaran Mutlak. <em>Paramätmä</em> merupakan representasi sebagian dari Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, <em>Brahman </em>yang impersonal merupakan cahaya yang menyilaukan Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, seperti halnya sinar matahari dengan matahari sendiri.”<sup>29</sup> <span id="more-356"></span> <strong>Jadi menurut Vedanta, terdapat tiga aspek Kebenaran Mutlak atau Tuhan. Semua aspek ini membentuk fondasi Realitas Tertinggi ’<em>Ultimate Reality</em>”.</strong> <em>Brahman:</em> tidak memiliki atribut dan merupakan Prinsip abstrak dari Kebenaran Mutlak. <em>Brahman </em>adalah aura transendental Tuhan. Brahman adalah tujuan  perguruan spiritual para impersonalis <em>advaita vedänta.</em> Aspek <em>Paramätma</em> Kebenaran Mutlak dapat dirasakan melalui fakta dalam praktek ilmiah, keagamaan dan seni, kita sering mendapatkan inspirasi, tunduk dengan rendah hati kepada arahan dari dalam hati dan intuisi yang muncul secara tiba-tiba.<sup>30</sup> Menurut Vedanta, semua inspirasi ini berasal dari <em>Paramätma,</em> yang membimbing setiap makhluk hidup dari dalam (hati). Ketika terjadi perubahan musim, berbagai jenis burung bermigrasi ke berbagai belahan dunia karena diarahkan oleh <em>Paramätma</em> dari dalam hatinya. Tuhan Yang Mahaesa dalam bentuk <em>Paramätma</em> membimbing setiap makhluk hidup termasuk mikroorganisme di alam semesta ini. <em>Bhagavän </em>berarti aspek Pribadi Kebenaran Mutlak. Aspek <em>Bhagavan</em> diinsyafi oleh para bhakta-Nya yang sepenuhnya telah sangat letih mengenyam pengalaman alam material dan telah menjadi sempurna dengan mempraktekkan sembilan jenis jalan <strong><em>Bhaktiyoga</em></strong><em>.</em><sup>31</sup> Rincian penjelasan mengenai hal ini akan disajikan pada tulisan yang lain. Inilah tujuan dari <em>dvaita vedänti</em> atau <em>Vaisnava vedänti.</em> <strong>Paradigma Kesadaran Menurut Vedanta</strong> Sejak beberapa dekade terakhir, kesadaran telah muncul sebagai sebuah bidang studi yang penting dalam mata pelajaran ilmiah dan filosofis. <strong>Terdapat suatu peningkatan minat untuk meneliti ’Kesadaran’ di kalangan ahli Fisika Kuantum,  ahli fisiologi syaraf, filosof dan rohaniwan yang haus pengetahuan. </strong><strong>William James<sup>32</sup>, von Neumann<sup>33</sup>, Eugene Wigner<sup>34</sup>, Erwin Schrodinger<sup>35</sup>, dan David Bohm<sup>36</sup> adalah beberapa perintis dalam Studi tentang Kesadaran (<em>Consciousness Study</em>).</strong> Salah satu segi yang umum di kalangan ahli fisika quantum yaitu bahwa mereka semua berusaha menjelaskan runtuhnya fungsi gelombang melalui suatu reaksi dari pikiran atau kesadaran. Namun, terdapat sedikit bukti bahwa keruntuhan semacam itu dari fungsi gelombang sungguh-sungguh terjadi. Menurut pendapat penulis, mekanika quantum, dengan dengan keterbatasan-keterbatasannya dalam bahasa matematika, dapat, paling <em>banter</em>, menunjukkan adanya kesadaran namun tidak dapat membuktikannya ataupun menjelaskannya. <strong>Max Planck</strong> menyatakan, <strong><em>“Adalah sebuah kenyataan bahwa terdapat suatu titik, satu titik tunggal suatu ruang dari pikiran dan materi yang tak dapat diukur oleh sains dan oleh karenanya setiap metode riset sebab musabab tak dapat diterapkan, tidak hanya dalam bidang praktis, melainkan juga dalam bidang logika, dan tetap tak akan dapat diterapkan. Inilah titik dari kesadaran individual kita.”</em></strong> Terdapat banyak pandangan yang berbeda di kalangan para sarjana mengenai kesadaran dan diperlukan studi yang lebih dalam.  Menurut Vedanta, <strong>Kesadaran adalah energi hidup dan sifat mendasar dari partikel-kehidupan (<em>spiriton</em>/atman-ed) dan ia sepenuhnya spiritual </strong>(bukanlah hasil interaksi <em>matter</em>-ed). Terdapat dua kategori kesadaran, universal dan individual. DIA Yang Tertinggi sadar akan segala sesuatu di alam semesta sedangkan para makhluk hidup hanya sadar akan diri mereka saja. Hakikat ontologis atau keberadaan Kesadaran adalah bersifat non-fisik. <em>Säìkhya darshan</em> dalam <em>Srimadbhagavatam</em> (Skanda 3, Bab 26) menjelaskan bahwa <em>jiva,</em> kehidupan, berdasarkan pada kehadiran suatu Kuantum Kesadaran dan ia tetap sebuah bidang terpisah. Inilah sumber dari seluruh pengetahuan dan pengalaman kami.  Selanjutnya, Vedanta menjelaskan materi sebagai bidang dari aktifitas dan menurut sifatnya, materi bersifat tak giat dan tidak memiliki kesadaran. Namun terdapat interaksi antara partikel-kesadaran individu dengan materi melalui kesadaran-universal. Lebih jauh, peristiwa-peristiwa alamiah yang terjadi di dunia material merupakan peta dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia spiritual (kesadaran).  Sekitar empat abad yang silam, seorang ahli filsafat <strong>Francis Rene Descartes </strong>menyimpulkan bahwa yang pasti dia mengetahui satu hal: <strong>“Saya berpikir, oleh karena itu saya ada&#8230;&#8230;”<sup>37</sup> Dari sudut pandang Vedanta, ungkapan, ‘aku’ adalah kesadaran langsung dan sifat transendental dari sang-diri</strong>. Ribuan tahun sebelum Descartes, para resi Veda menginsyafi prinsip itu bahkan selangkah lebih jauh, <em>aham brahmäsmi</em>, yang berarti, aku adalah <em>Brahman,</em> aku adalah sang <em>jiva</em>-diri yang memiliki kesadaran. Inilah Kesadaran yang dalam bahasa Sanskerta disebut <em>cetana.</em> Tindakan berpikir yang dilakukan oleh manusia merupakan gejala dari kesadaran dan itu merupakan milik kehidupan. Kesadaran palsu ditunjukkan di bawah kesan bahwa ‘saya adalah produk dari alam material ini.’  Banyak ilmuwan cemerlang abad dua puluh yang telah lewat juga setuju bahwa kesadaran tidak dapat dijelaskan dengan istilah-istilah paradigma material. <strong>Niels Bohr </strong>mengungkapkan, <strong><em>“Tak dapat disangkal kita tidak menemukan apa-apa dalam fisika atau kimia yang bahkan sangat jauh hubungannya dengan kesadaran. Namun kita semua mengetahui bahwa memang ada hal semacam itu yang dikenal sebagai kesadaran, semata-mata karena kita sendiri memilikinya. Karena itu kesadaran pastilah bagian dari alam, atau lebih umum, bagian dari realitas, yang berarti bahwa, sungguh-sungguh terlepas dari hukum-hukum fisika dan kimia, sebagaimana ditetapkan dalam teori quantum, kita juga harus mempertimbangkan suatu alam yang sungguh berbeda.</em></strong>”<sup>38</sup> Demikian juga, ilmuwan Inggris yang terkenal <strong>Michael Polanyi</strong> berpendapat, “… begitu ia disadari, dalam bidang-bidang lain, bahwa kehidupan melampaui fisika dan kimia, tidak akan ada alasan untuk menolak mengakui kenyataan sebelumnya bahwa kesadaran adalah suatu prinsip yang secara fundamental melampaui bukan hanya fisika dan kimia melainkan juga prinsip-prinsip mekanistik dari para makhluk hidup.”<sup>39</sup> Vedanta menjelaskan bahwa kesadaran adalah di luar pikiran dan kecerdasan dan Vedanta juga memberikan hirarkinya sebagai berikut (Gambar 1) (<em>Bhagavadgétä</em> 3.42):</p>
<p align="center"><em>indriyäni paräëy ähur</em></p>
<p align="center"><em>indriyebhyaù paraà manaù</em></p>
<p align="center"><em>manasas tu parä buddhir</em></p>
<p align="center"><em>yo buddheù paratas tu saù</em></p>
<p align="center">
<p><strong>Terjemahan: </strong>“Indera-indera yang bekerja lebih tinggi daripada materi yang mati, pikiran lebih tinggi daripada indera-indera, kecerdasan masih lebih tinggi daripada pikiran, dan dia [sang jiwa] bahkan lebih tinggi lagi daripada kecerdasan.”  Interaksi dari kesadaran dengan kecerdasan, pikiran, dan indera-indera dijelaskan dalam <em>Kaöha Upaniñad </em>(1.3.3-4) sebagai sebuah kereta imajiner sebagai berikut:</p>
<p align="center"><em>ätmänaà rathinaà viddhi</em></p>
<p align="center"><em>çaréraà ratham eva ca</em></p>
<p align="center"><em>buddhià tu särathià viddhi</em></p>
<p align="center"><em>manaù pragraham eva ca</em></p>
<p align="center">
<p align="center"><em>indriyäëi hayän ähur</em></p>
<p align="center"><em>viñayäàs teñu gocarän</em></p>
<p align="center"><em>ätmendriya-mano-yuktaà</em></p>
<p align="center"><em>bhoktety ähur manéñiëaù</em></p>
<p align="center">
<p><strong>Terjemahan:</strong> “Individu adalah sang penumpang dalam kereta badan material, dan kecerdasan adalah kusirnya. Pikiran adalah tali kekangnya, sedangkan indera-indera adalah kuda-kuda dari kereta itu. Seperti itulah hal ini dimengerti oleh para pemikir yang mulia.”  Kereta imajiner tersebut dilukiskan pada Gambar 2. Kesadaran individual atau partikel kehidupan diumpamakan seperti penumpang karena dia adalah penumpang yang berkuasa dan dengan demikian dia menikmati dan menderita perjalanan yang dilakukannya. Kuda-kuda menunjukkan indera-indera yang selalu menarik kereta badan manusia ke arah obyek-obyek indera-indera. Kecerdasan diumpamakan sebagai kusir kereta karena sang kusir melakukan pemilihan-pemilihan yang diperlukan demi sukses dan nyamannya perjalanan. Pikiran diumpamakan sebagai tali kekang karena ia berhubungan langsung dengan kuda-kuda (indera-indera) dan dikendali oleh kusir (kecerdasan). Seorang kusir yang cakap (kecerdasan) memegang kendali tali kekang (pikiran) yang berhubungan dengan kuda-kuda (indera-indera) untuk menjalankan kereta dengan baik ke arah tempat tujuan dengan kemampuan memilah-milah. Dengan demikian sang penumpang atau sang jiwa akan dapat mencapai tempat tujuan yang diinginkan dengan mempergunakan seluruh komponen dengan baik. Sebaliknya, jika salah satu saja dari komponen-komponen itu tidak terkendali atau tak terkoordinir sebagaimana mestinya menurut urutannya, cepat atau lambat kereta tersebut pasti akan mengalami kecelakaan.  <strong>Kesadaran sebagai Kategori Realitas yang lain</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Banyak tradisi-tradisi spiritual dunia, khususnya tradisi Veda India telah menyatakan bahwa kesadaran adalah sebuah realitas yang memiliki sifat yang berbeda dengan partikel dan gelombang. Beberapa ilmuwan modern juga telah mendukung kebijaksanaan purba ini. Misalnya, <strong>Thomas Huxley</strong> menyatakan, <strong>“Nampak jelas bagi saya bahwa terdapat sesuatu yang ketiga di jagat raya ini, untuk mengetahui sesuatu, kesadaran, yang …saya tidak bisa mengatakannya sebagai materi atau tenaga, ataupun suatu modifikasi yang dapat dipahami dari keduanya</strong>.”<sup>40</sup> Observasi yang serupa bergema dalam kata-kata seorang ahli fisika yang terkenal, <strong>Eugene Wigner</strong>, yang menyatakan, <strong><em>“Terdapat dua macam realitas atau eksistensi; eksistensi dari kesadaran saya dan realitas atau eksistensi dari segala sesuatu yang lain.</em></strong>”<sup>41</sup> Menurut Vedanta, aktifitas manusia dilaksanakan atas kehendak dari partikel kehidupan yang memiliki kesadaran, yang kemudian diterjemahkan melalui kecerdasan dan pikiran ke badan manusia. Pikiran berinteraksi dengan badan melalui otak. Otak adalah seperti <em>central processing unit</em> dari sebuah computer di mana semua sinyal kegiatan keluar dan masuk, namun dia bekerja sesuai dengan kehendak dari sang <em>programmer.</em> John Eccles mengusulkan <em>psychon</em> sebagai unit fundamental dari pikiran dan ia berinteraksi dengan otak melalui dendron<sup>42</sup>. Karl Pribram telah mengusulkan bahwa <em>psychon</em> adalah sesuatu yang seperti fungsi Gabor, suatu fungsi gelombang (lihat artikel, “Sains is Spiritual”, hal.38). Namun, <strong>Vedanta mengisyaratkan bahwa partikel kehidupan berada di luar sifat partikel dan gelombang</strong>. Oleh karena itu, <strong>interaksi dari partikel kehidupan dengan kecerdasan merupakan sebuah interaksi yang sangat kompleks dan sungguh di luar jangkauan sains modern.</strong> Akan sangat wajar bahwa para ahli biologi dan biokimia modern seharusnya memasukkan studi kesadaran dalam karya riset mereka. Bidangnya seharusnya tidak kebanyakan diserahkan kepada para ilmuwan ahli syaraf, ahli fisika quantum, ahli psikologi dan ahli filsafat saja.  Untuk membaca lebih lanjut tentang topik ini silahkan baca di buku:  Seri Vedanta dan Sains : Kehidupan dan Asal Mula Jagat raya</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=356&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/vedanta-dan-kebenaran-mutlak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

