SRIPADA NECTAR dari Banyuwangi
By Prema Vilasini DD
Nama Om Visnupadaya Krsna Prestaya Bhutale
Srimate Bhaktisvarupa Damodara Svamin Iti Namine.
All glories to Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami Sripada maharaj,
All glories to Jagat-Guru Srila Prabhupada,
All glories to Sri Sri Gaura Nitai,
All glories to Sri Sri Radha Damodara.
Diksa Pertama adalah Di Banyuwangi
Pertama kali Srila Sripada Mendiksa di Indonesia adalah pada tahun 1998. Diksa waktu diadakan di Sri Sri Radha Damodara Ashram Banyuwangi dan Krishna Balaram Ashram Padanggalak-Denpasar. Namun secara kronologis Diksa Di Banyuwangi lebih duluan dari pada di Krishna Balaram. Jad Diksa Pertama Srila Sripada Di Indonesia adalah Di Banyuwangi.
GM datang pertama kali ke Banyuwangi pada bulan November 1997. Pada waktu itu, sudah berdiri ashram di Banyuwangi, hanya saja belum terdapat arca yang dipuja disana. Kegiatan hare krishna sendiri di Banyuwangi sudah berjalan sejak tahun 1994. Saat GM akan kembali ke Bali dari kunjungan beliau ke Banyuwangi, beliau berkata kepada prabhu Arunambhara dan prabhu govinda (yang saat itu belum di diksa): “I am in touch with you” dan enam bulan lagi saya akan kembali ke sini dan mendiksamu.
Kemudian pada bulan April 1998 dalam kunjungan yang kedua kalinya ke Banyuwangi, GM mengadakan diksa I (sekaligus menjadi diksa pertama kali beliau di Indonesia). Peserta diksa saat itu tidak hanya dari Banyuwangi saja, ada beberapa penyembah dari Bontang dan Lombok.
Merupakan suatu karunia yang sungguh luar biasa bagi kami peserta diksa I khususnya dan penyembah-penyembah Banyuwangi pada umumnya menerima kunjungan GM maupun karunia diksa dari beliau.
Beberapa Lilamrita Srila Sripada di Banyuwangi:
Berikut adalah kenangan dari beberapa penyembah Banyuwangi tentang kegiatan dan petuah Rohani Srila Sripada Maharaj ketika berada di Banyuwangi mulai dari Diksa Pertama, Penstanaan Arca Vigraha, berkunjung ke rumah penyembah dan berbagai lila rohan lainnya. Sekelengkapnya dapat dilihat dalam kutipan-kutipan berikut ini:
Arunambhara Chaitanya dasa, “Pada saat penyelenggaraan pendiksaan Pertama di Banyuwangi, GM membawakan dan menginstall (mengistanakan) langsung arca Gaura Nitai. Hal Ini juga merupakan pertama kalinya di Indonesia, beliau sendiri yang mengistanakan arca secara langsung.
Pada kunjungan GM yang kedua, beliau mengistanakan arca Radha Damodara. Setelah mengistanakan arca, beliau berkata “Setiap kali saya selesai mengistanakan arca, biasanya akan turun hujan”. Kemudian pada malam harinya setelah pengistanaan arca, GM kami antar ke Surabaya. Selama perjalanan dari Banyuwangi hingga daerah Wongsorejo turun hujan lebat dan sepanjang jalan banjir. Di dalam mobil beliau berkata “Ini seperti sungai gangga”. Sepanjang perjalanan disaat yang lain tertidur, GM terus bhajan dengan suara yang nyaring seperti suara seorang wanita (Gopi Voice-ed). Saat tiba di Situbondo, beliau berkata “Aruna, hujannya sudah berhenti dan kemudian beliau langsung tertidur”.
Kundalata devi dasi, “Saat pertama kali GM datang ke Banyuwangi, ada seorang murid beliau dari Amerika yang juga ikut. Saat itu murid tersebut berkata bahwa dia sudah mencari GM kemana-mana dan berkata ‘Anda semua di Banyuwangi sungguh beruntung karena beliau sendiri yang langsung mendatangi dan meminta menginap di rumah anda’. GM suka sekali dipijat selama berada di Banyuwangi. Beliau mempersilahkan anak-anak kecil penyembah untuk ikut memijat beliau.
GM menyempatkan untuk mengunjungi rumah-rumah semua penyembah selama beliau berada di Banyuwangi. Dan beliau pun sempat berkunjung ke beberapa pura di Banyuwangi, termasuk pura Blambangan yang merupakan pura terbesar di Banyuwangi.
Purna Avatara dasa, “Lila GM yang paling berkesan di Banyuwangi adalah saat beliau mengistanakan arca Sri Sri Gaura Nitai dan Sri Sri Radha Damodara yang langsung beliau bawa dari Banyuwangi, saat beliau bersedia berkunjung ke pura Blambangan, dan saat beliau membawakan grup penari dan pemusik dari Manipuri untuk pentas di Banyuwangi.
Priya Darshan Dasa, “Lila GM yang paling saya ingat adalah ketika beliau berkunjung ke pura, beliau selalu menunjukkan sikap tunduk hati dan hormat pada ista dewata yang melinggih/beristana di Pura tersebut. Hal ini terlihat di setiap kali GM memasuki area dalam Pura, beliau langsung menuju padmasana seraya menaruh tangan padma beliau di padmasana untuk beberapa saat. GM pun menunjukkan sikap toleransi beliau dengan menggunakan udeng saat ke pura seperti halnya yang digunakan umat hindu pada umumnya.
Arjuna putra dasa, “Saya tidak pernah menyangka saya akan diksa di Banyuwangi, karunia GM sungguh luar biasa bagi saya. Sehari setelah GM mengistanakan arca Radha Damodara, berkat karunia Radha Damodara dan GM, entah mengapa saya diajak beliau ke Kalimantan. Pada saat di Kalimantan, rombongan kami menempuh perjalanan jauh selama sehari penuh. Saat itu saya merasa sangat kasihan pada GM, karena beliau harus jalan kaki menaiki jalan tanjakan dan melewati semak-semak disepanjang jalan yang jauh. Tapi beliau tampak sangat bersemangat. Selama di Kalimantan beliau menghadiri pertemuan dan mengundang tokoh-tokoh hindu disana, yang juga tampak antusias mendengarkan ceramah GM”
Prema vilasini devi dasi, “Lila GM yang paling saya ingat adalah setiap GM menginap dirumah, biasanya tiap pagi hari saya akan terbangun karena mendengar suara GM bhajan sembari beliau berkeliling di taman yang ada di halaman rumah. Beliau selalu memberi makan ikan-ikan yang terdapat di kolam sambil bhajan, setelah kunjungan beliau pasti ada saja ikan yang mati (dan di setiap kunjungan beliau berikutnya, GM pasti tahu jika ikannya berkurang).”
“Saat beliau menginap di rumah, beliau setiap pagi suka duduk-duduk di kursi goyang yang ada di halaman depan rumah sembari bhajan dan menggunting kuku beliau. Kemudian saat beliau mengunjungi semua rumah-rumah penyembah di Banyuwangi dan sempat berfoto bersama keluarga yang dikunjungi. Dan saat beliau bersama rombongan penari menampilkan pertunjukan sendratari Ramayana di acara piodalan pura Giri Waseso, semua masyarakat yang hadir sangat antusias menonton pertunjukan ini.”
Lila dari GM yang paling berkesan dan diingat oleh seluruh penyembah Banyuwangi adalah ketika beliau dengan tangan padma beliau mengepel langsung lantai setelah upacara diksa dimana beliau disini sekaligus mengajarkan pada para penyembah bagaimana cara membersihkan kunda setelah yajna berlangsung dan beliau juga pernah melayani persad para penyembah dengan membagikan langsung prasadam kepada para bhakta yang hadir saat itu di Sri Sri Radha Damodara Ashram.
Bersambung ….
Prema- vilasini adalah interviewer/reporter sripadanectar.com di Banyuwangi.saudara kita di Banyuwangi dan sekitarnya yang mau bercerita pengalamannya dapat menghubungi dia.
Popularity: 11% [?]
hi, excellent web blog, and a very good understand! one for my bookmarks.