Prinsip-prinsip Ilmiah Reinkarnasi

Posted on September 13 2009 by Sripada

Seminar Sains dan Agama di Bandung

(kerjasama Radhe Syam Center dan KMHDI dengan Bhaktivendata Institute Indonesia)

Oleh

T.D. Singh Ph.D[1]

(Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami Srila Sripada)

(Berikut adalah rekaman dari seminar tentang Prinsip Ilmiah reinkarnasi. Dalam seminar berikut DR TD SINGH membicarakan perluya perpaduan antara sains dan agama untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam akan makna hidup dan makna akan alam semesta ini. Beliau juga membicarakan berbagai hal seperti Asal-usul kehidupan, apakah sebenarnya kehidupan itu? Apakah DNA sudah dapat dikatakan suatu kehidupan? Apakah perbedaan antara Matter dan Life? Pemahaman akan kehidupan sangat penting untuk mendapatkan makna hidup yang lebih mendalam. Pemahaman makan kehidupan ini sangat penting sebagai salah satu landasan untuk mencapai perdamaian dan kedamaian dunia. Selama ini terjadi banyak terjadi kejahatan oleh teknologi dan juga kekerasan atas nama agama, salah satunya disebabkan oleh pemahanan hidup yang materialistik maupun terlalu fanatik buta terhadap agama tertentu, oleh karena itu DR TD Singh selalu menganjurkan Dialog antar agama dan juga Dialog antara Sains dan Agama, Dialog antara Ilmuwan dan Agamawan. Mengapa ? karena Sains dan Agama merupakan dua kekuatan yang sangat dominan memengaruhi umat manusia di muka bumi ini. Jadi dialog-dialog Sains dan Agama mutlak diperlukan untuk mencapai perdamaian dunia. Nah bagiamana detail pemaparan Beliau dapat disima dalam Seminar berikut:–ed)

Namaskara, Swastyastu

Saya sangat senang sekali bisa hadir di tengah–tengah bapak–bapak dan ibu– ibu di Bandung, Jawa Barat. Kemarin saya mengadakan seminar di Jakarta. Saya secara teratur datang ke Bali dan baru kali ini mendapatkan kesempatan untuk hadir di Jawa Barat, khususnya di kota Bandung ini. Saya sangat terkesan dengan semangat bapak– bapak dan ibu–ibu serta adik–adik sekalian untuk menyelenggarakan seminar ini. Saya terus menerus bekerja keras untuk mensintesa (memadukan-ed) antara agama dan ilmu pengetahuan (sains). Dan topik yang akan dibicarakan malam ini adalah Prinsip– Prinsip Reinkarnasi dan (Reinkarnasi) ini merupakan salah satu point (titik temu) antara spiritualitas dan sains.

Sains dan Agama: Dua kekuatan yang sangat berpengaruh

Pada zaman modern ini, kehidupan manusia sangat didominasi oleh ilmu pengetahuan (Sains) dan ilmuwan (Saintist). Dan dalam kehidupan kita juga, sains dan agama sangat mendominasi kehidupan manusia. Dan semua agama dan tradisi keagamaan yang ada baik Hindu, Islam, Kristen dan lain-lain setuju bahwa ada suatu realitas yang disebut realitas tertinggi (Ultimate Reality), yang tidak bisa tercapai dengan persepsi indria–indria material. Karena itu, sains tentang kehidupan adalah ilmu pengetahuan yang sangat penting dan sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Dan karena itu kita tertarik untuk mengetahui apa awal dari kehidupan itu sendiri (Life’s Origin). Hal lainnya yang menarik adalah kemajuan bioteknologi dan juga banyak sekali orang yang bertanya mengenai kloning[2] dan tujuannya. Inilah konsep–konsep yang selalu ada di benak manusia untuk mengerti tentang rahasia dan mencari jawaban atas rahasia–rahasia tersebut. Dan ini merupakan suatu bukti bahwa pikiran itu ada walaupun kita tidak bisa melihatnya. Tetapi, sains modern sekarang ini hanya tertarik kepada bidang physic atau penampakan luar saja. Seperti dalam fisika atau kimia, dengan memberikan rumus–rumus tentang gerak dan memberikan kontribusi yang besar terhadap kehidupan manusia. Dan Newton memberikan tentang hukum gravitasi. Kita juga mengenal adanya partikel–partikel kecil yang selama ini kita kenal sebagai proton, elektron, neutron dan sebagainya. Sebagai contohnya, gelas ini terbuat dari partikel–partikel alam. Dan gelas ini merupakan suatu senyawa kimia yang bahannya beranama silikon. Gelas ini sebenarnya terbuat dari pasir, seperti pasir yang ada di pantai. Tetapi para ilmuwan, para ahli kimia dan fisika dapat memberi uraian mengenai apa saja yang terkandung dalam pasir. Dan kalau diteliti lebih lanjut lagi, maka kita dapat menemukan bahwa unsur–unsur itu seperti silikon adalah unsur–unsur yang fundamental yang menyusun alam ini. Dan bagaimana tentang kehidupan itu sendiri?

The Scince Of Life Origin

Dalam Sains ada yang disebut dengan sains biologi. Sukses yang dicapai oleh sains seperti fisika dan kimia membuat para ilmuwan dalam bidang biologi juga ingin mencapai sukses yang sama dengan memanfaatkan teori-teori yang sudah ada baik dalam bidang kimia ataupun fisika. Kalau kita menganalisa badan kita sebagai manusia ini, atom–atom dari badan kita terdiri dari 4 unsur (atom) utama, seperti unsur oksigen, karbon, hidrogen dan nitrogen. Jika unsur–unsur ini dikombinasikan akan membentuk molekul-molekul. Dalam molekul-molekul ini ada protein, karbohidrat, lypid. Dan kalau diselidiki, mereka (para ilmuwan) hanya akan menemukan unsur–unsur ini saja (O2, C, H2, N) yang membentuk badan ini. Mereka tidak akan menemukan jawaban tentang roh (jiwa) yang memberikan kehidupan pada badan itu sendiri. Jadi, ini merupakan lapangan pengetahuan yang sangat besar sekali. Dan ini yang disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang asal mula kehidupan (The Sceince Of Life’s Origin). Jadi, tanpa mengetahui keberadaan tentang sang roh, para ilmuwan menyimpulkan bahwa badan ini hanyalah merupakan suatu campuran zat-zat kimia/ molekul-molekul saja. Karena itu, anak–anak di sekolah diberikan pelajaran bahwa badan ini hanyalah campuran zat-zat kimia/molekul -molekul saja.

Dalam Veda tidak ada pertentangan antara Sains dan Agama

Dan di Amerika, sekarang terjadi dialog-dialog spiritualitas, mereka membuat group studi evolusi untuk mendiskusikan tentang masalah ini. Jadi, kesimpulan tentang proses ini adalah: kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Darwin adalah dia tidak mengenali keberadaan sang roh yang ada pada badan ini. Seperti sedari awal sudah dikatakan bahwa ilmu pengetahuan itu sangat terbatas. Karena itu, prinsip spiritual dalam kehidupan harus diterima apa adanya. Dan prinsip–prinsip spiritual ini sudah diberikan secara jelas sekali dalam kitab suci Hindu yang disebut dengan Bhagavad Gita. Dalam bab 2 dan 17 sudah dijelaskan secara mendetail tentang prinsip–prinsip kehidupan ini. Hal ini juga terdapat dalam buku Kehidupan dan Evolusi Spiritual yang saya tulis. Jadi dalam buku-buku tersebut, terdapat system yang berbeda tentang materi dan keagamaan. Di Amerika terjadi pertentangan yang keras antara tokoh–tokoh ilmuwan dengan tokoh–tokoh rohaniawan, karena itu Amerika merupakan lapangan pertempuran yang besar sekali. Tetapi, dalam kesusastraan Veda kita tidak mengenal pertentangan antara tokoh spiritual dan ilmuwan ini.

Elektron: Sang Partikel Material

Dalam seminar 2 hari yang lalu di Jakarta, sudah dijelaskan tentang perbedaan alam (material) dan spiritual. Dan untuk mengerti tentang prinsip–prinsip reinkarnasi, kita harus mengerti perbedaan antara spirit dan matter (perbedaan antara ruh/atma dengan benda mati/materi—ed). Jadi, kita dapat mengerti dan ini sudah diterima oleh orang banyak, bahwa hal yang fundamental dari alam (matter) ini adalah elektron. Dan ini juga harus kita mengerti, karena jika tidak kita tidak akan mengerti apa itu ilmuwan (saintis) atau ilmu pengetahuan (science) itu. Dalam kehidupan kita sejak dahulu kita dan ilmuwan sudah menggunakan elektron, tetapi kita tidak menyadarinya. Kita sudah mempunyai istilah tentang elektron yang dalam Bahasa Sanskrta disebut sebagai anumana. Seperti contohnya di negara–negara dingin, seperti Amerika dan Eropa, ketika ada pesawat yang terbang tinggi sampai kita tidak bisa melihatnya, tetapi dari asap yang membentuk garis lintasan kita dapat menyimpulkan bahwa itu ada suatu pesawat yang terbang. Ini adalah titik ion yang dilewati oleh elektron. Dijelaskan bahwa elektron didesak oleh ion sehingga membentuk  sehingga dia akan terkondensasi menjadi garis mendung. Kita melihat pergerakan itu, tapi kita tidak bisa melihat elektron.

Spiriton: Sang Partikel Spiritual

Begitu juga keberadaan tentang sang jiwa/ruh yang terdapat dalam setiap badan makhluk hidup. Dia tidak dapat dilihat tapi dia ada. Saya menggunakan istilah spiriton[3] untuk sang jiwa berdasarkan pandangan–pandangan seperti elektron.  Dan spiriton yang sangat penting ini ada pada setiap kehidupan, mulai dari makhluk sekecil mikro-organisme, sampai manusia.

Dijelaskan bahwa DNA bukanlah suatu bentuk kehidupan. DNA adalah molekul yang penting sekali dalam pembentukan kehidupan. Walaupun DNA tidak bisa hidup dan bagian darinya juga tidak hidup. Jadi apa itu kehidupan? Tanpa mengerti istilah tentang kehidupan ini, kita tidak akan mengerti apa itu kehidupan. Seperti contohnya: orang tua memiliki ikatan yang sangat kuat terhadap anak–anak, suami isteri juga saling mencintai satu sama lain dan semua orang di dunia ini memberikan perhatian yang sangat besar sekali untuk kesejahteraan seluruh umat manusia.

Ketika orang yang sangat kita cintai seperti suami, isteri, anak, orang tua, jika spiriton-nya meninggalkan badannya, kita tidak lagi mencintai badannya yang sudah mati. Kita  pasti akan memroses badan tersebut karena kalau dibiarkan dia akan bau dsb. Ini merupakan bukti bahwa kita tidak mencintai badannya, tetapi kita mencintai unsur kehidupan yang ada di dalam badan ini.

Mengapa terjadi kekerasan atas nama agama?

Kita berbicara tentang kualitas atau sifat-sifat dari moralitas kehidupan. Kita memberikan perhatian pada terorisme yang terjadi berulang kali seperti contohnya yang baru saja terjadi di Inggris. Ini disebabkan karena kita tidak tahu tentang kualitas kehidupan, tidak tahu apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Semua agama menyangkut peraturan tentang prinsip kehidupan, tetapi dalam penerapannya tidak ada penjelasan secara mendetail. Sedangkan di dalam Veda semua prinsip tersebut dijelaskan secara mendetail dan saya menjelaskannya secara ilmiah agar dapat berkomunikasi dengan kita. Hal ini sangat perlu untuk kita mengerti yaitu perbedaan antara spirit dan matter atau perbedaan antara jiva yang mengandung unsur–unsur kehidupan dengan alam yang tidak hidup. Tanpa mempelajari prinsip–prinsip kehidupan ini, maka kita tidak akan dapat memehami makna kehidupan, dan kita tidak akan mampu menerapkan hal ini untuk memecahkan masalah dalam kehidupan ini. Misalnya ketika siswa tidak lulus banyak siswa yang bunuh diri. Kenapa demikian? Karena pemahamannya akan kehidupan yang sangat sempit. Mereka menganggap bahwa jika mereka tidak dapat mencapai tujuannya maka hidup mereka tidak berarti lagi. Karena pemahaman seperti ini, di kota–kota besar seperti Amerika setelah pengumuman kelulusan banyak yang bunuh diri karena tidak lulus.

Memahami spiriton salah satu kunci perdamaian atas kekerasan atas nama agama

Pada saat ini seluruh dunia mendambakan perdamaian yang kekal. Ini dapat terwujud jika kita menyadari bahwa kita adalah makhluk yang bersifat rohani. Banyak terdapat agama tetapi kita salah memahami dan mengerti konsepsi agama sehingga agama dipakai alat untuk saling bertentangan dan saling membunuh. Ini adalah salah pengertian yang besar terhadap agama. Karena itu jika kita sungguh–sungguh memahami perbedaan antara alam dan spirit dan memahami bahwa kita adalah makhluk rohani maka kita akan memahami bahwa semua makhluk adalah saudara kita. Senua agama menyatakan bahwa kita adalah saudara, kita adalah anak dari Tuhan yang sama. Tujuan tertinggi dari kehidupan adalah untuk mengerti tentang apa itu kehidupan. Karena itu, ini merupakan jalan keluar dari masalah–masalah kehidupan.

Perlunya sintesis antara agama dan sains

Kadang kita satu sama lain berkelahi atas dasar politik, gender, agama dan kadang kita berkelahi di kalangan masyarakat karena hal tersebut.semua ini terjadi karena kita salah mengidentifikasikan diri kita sendiri. Jika kita benar–benar telah memahami perbedaan antara alam dan roh, semua masalah akan terpecahkan. Ada satu anjuran yang sangat penting yaitu para rohaniawan harus mengetahui ilmu pengetahuan modern dan para ilmuwan harus mempelajari filsafat–filsafat rohani karena para ilmuwan yang tidak mengerti tentang filsafat rohani akan disalahgunakan. Perdamaian tidak akan pernah terwujud bila para ilmuwan dan para rohaniawan berjalan di jalannya masing–masing dan tidak ada yang mempertemukan mereka.

Toward Culture of Peace and Harmony

Saya telah menyusun sebuah buku yang berjudul Jalan menuju Kehidupan yang damai dan harmonis. Di dalam buku ini terdapat uraian pendapat dari 9 peraih nobel baik dari kalangan ilmuwan maupun rohaniawan seperti ulama dsb. Semua ini bisa dilakukan karena kalangan ilmuwan dan rohaiawan saling berinteraksi satu sama lain untuk mencari tahu tentang nilai–nilai kehidupan dan bagaimana mencapai kehidupan yang damai dan harmonis. Mereka memberikan latar belakang betapa pentingnya ilmu pengetahuan tentang reinkarnasi ini. Sekarang marilah kita melihat apa yang ada di slide/.

Ini adalah pernyataan proses pembelajaran dari prinsip–prinsip reinkarnasi. memelajari prinsip–prinsip reinkarnasi secara ilmiah akan memberikan kita semangat/ sinar pencerahan tentang fenomena–fenomena yang ada dengan menerima teori–teori. Dan fenomena yang ada memiliki banyak variabel dalam bentuk–bentuk kehidupan dengan kemampuan yang sangat jelas dan tidak dapat diperoleh dari alam ataupun lingkungan dan pengalaman menjelang kematian.

Bio-varieties artinya bermacam–macam jenis kehidupan. Ada banyak bentuk kehidupan. Kenapa ada  begitu banyak jenis kehidupan seperti binatang, burung, pohon, serangga, kehidupan dalam air dan makhluk yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang seperti organisme mikroba. Di dalam kitab suci disebutkan bahwa terdapat 8.400.000 jenis kehidupan. Ketika saya berdiskusi dengan para ilmuwan, saya mengatakan bahwa ada 8.400.000 jenis kehidupan. Mereka sependapat bahwa terdapat begitu banyak jenis kehidupan. Tetapi mereka heran bagaimana Veda sudah bisa mampu menjelaskan dan memberikan informasi tentang  jumlah kehidupan tersebut. Dalam sastra mana hal itu dijelaskan.

Di dalam satra dijelaskan bahwa setelah berulang kali mengalami berbagai jenis kehidupan kita berevolusi dan akhirnya mendapatkan badan manusia ini. Jadi dapat kita simpulkan berdasarkan informasi sastra bahwa setelah kita mengalami 8.400.000 jenis kehidupan barulah kita mencapai kehidupan sebagai manusia ini yang dianggap sebagai kehidupan tertinggi. Karena itulah semua kitab suci dan orang bijaksana menerima bahwa kehidupan sebagai manusia sebagai kehidupan yang paling utama dan paling penting untuk mengerti masalah evolusi kehidupan. Bagaimana kita dapat mengerti kehidupan ini dengan menggunakan argumen ilmiah?

Kesalahan Darwin: tidak mengetahuan keberadaan Spiriton

Darwin membuat teorinya berdasarkan fosil–fosil yang dia temukan dan mungkin berumur ribuan atau jutaan tahun. Berdasarkan penemuan fosil inilah dia membuat teorinya. Dia menyatakan bahwa badan ini yang berevolusi menurut pengaruh waktu, keadaan dsb. Badan ini yang berevolusi dari bentuk kehidupan yang paling rendah sampai kehidupan yang paling tinggi. Badan inilah yang mengalami evolusi bukan sang jiva atau spiritonnya.

Interpretasi Darwin yang berdasarkan fosil ini salah karena dia dia tidak menyertakan keberadaan sang roh. Jika Darwin mengerti perbedaan antara spiriton dan matter dia tidak akan keliru menyusun teorinya. Veda menjelaskan bahwa sang rohlah yang berevolusi dari tingkat kesadaran yang paling rendah kemudian naik sampai tingkat kesadaran yang paling tinggi dan saya telah berulang kali memberikan perbedaan yang jelas antara spiriton dan elektron tersebut. Yang pertama yaitu spiriton memiliki kesadaran sedangkan elektron tidak memiliki kesadaran. Inilah perbedaan yang paling mendasar. Karena itu spiriton/ jiva inilah yang berpindah dari satu jenis kehidupan ke kehidupan yang lain berdasarkan hukum karma. Karma adalah suatu jenis kegiatan yang menimbulkan reaksi sesuai dengan apa yang dilakukannya. Karena itu ilmu pengetahuan biologi yang menganggap dirinya mempelajari tentang kehidupan tetapi faktanya mereka tidak mempelajari kehidupan karena mereka hanya mempelajari badan material saja.

Logika Renkarnasi

Saya ingin memberikan penjelasan singkat mengapa terdapat berbagai macam jenis kehidupan di dunia ini. Seperti di daerah Bandung terdapat banyak bangunan yang besar dan rumah yang mahal. Tetapi gubug yang kecil pun ada. Ada beberapa rumah yang memiliki rumah dengan kebun yang indah sedangkan rumah yang lain tidak memiliki kebun. Orang yang membuat rumah ini akan membangun rumah sesuai dengan keinginan pemilik rumah. Demikian juga jenis–jenis kehidupan ini diciptakan sesuai dengan maksud dan tujuannya. Pada saat kita akan membangun rumah, jika kita memiliki kapasitas dan kemampuan atau uang yang banyak jumlahnya maka kita dapat membangun rumah yang besar dan bagus, tetapi jika kita hanya memiliki kemampuan yang kecil yaitu kita cukup membanggun rumah yang kecil saja. Yang disebut sebagai kapasitas yang diibaratkan sebagai uang adalah karma yang sangat dikenal oleh Filosofi Hindu dan Budha. Karma sangat fundamental dalam Kitab Suci Veda. Perjalanan spiriton dari suatu bentuk kehidupan ke bentuk kehidupan yang lain sesuai dengan kapasitas karma yang mereka perbuat yang akan mengantar spiriton dari suatu bentuk kehidupan ke bentuk kehidupan yang lain sampai pada bentuk kehidupan manusia. Jika anda bercita–cita untuk memiliki mercedes tetapi uang anda tidak cukup untuk membelinya maka anda cukup membeli sebuah toyota yang kecil. Jika keinginan anda terlalu besar untuk memiliki mobil mercedes ini mungkin anda akan merampok bank. Jika anda tertangkap maka anda akan mengatakan bahwa anda ingin memiliki sebuah mercedes tetapi uang anda tidak cukup sedangkan mercedes tersebut sangat penting untuk anda. Tetapi apa yang anda dapatkan bukanlah mobil mercedes yang anda inginkan, anda akan dimasukkan ke penjara. Jika kita mengerti secara jelas tentang spiriton dan karma, maka kita akan berpuas hati dengan apa yang kita miliki sekarang ini.

Dua Jenis Reinkarnasi

Dalam kehidupan yang kita jalani ini kita telah menjalani berbagai reinkarnasi. Ada dua jenis reinkarnasi. ada seorang dokter dari Amerika yang mengadakan riset tentang reinkarnasi. Dia datang ke India (Bangalore) dimana lahir seorang anak yang menyatakan bahwa dirinya dapat mengingat kehidupannya yang lalu. Sekarang pengetahuan tentang reinkarnasi ini telah diselidiki berdasarkan informasi–informasi yang telah diteliti kebenarannya mengenai hal ini.

Seperti contohnya migren, ilmu kedokteran mungkin mempunyai obatnya. Tetapi migren dapat dengan mudah disembuhkan dengan mempelajari kehidupannya yang lampau. Ini disebut dengan terapi regresing untuk mengerti apa yang terjadi pada kehidupan sebelumnya. Regresing mempelajari kehidupan yang lampau. Untuk mengerti tentang prinsip–prinsip reinkarnasi, kita hendaknya memahami dengan baik ”Apakah kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan yang kekal/ transedental? Ataukah kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan yang bersifat sementara? Ataukah kehidupan merupakan kombinasi molekul–molekul yang bergerak berdasarkan hukum fisika atau kimia?

Saat ini pandangan ilmiah menyatakan bahwa hukum–hukum alam yang buta dan perubahan alamlah yang mengatur kosmos ini. Mereka menyatakan bahwa tidak ada pencipta/ pendesain kosmos ini, tidak ada Tuhan, tidak ada kekuatan, tidak ada kecerdasan yang melatarbelakangi seluruh fenomena alam. Karena itu, para ilmuwan hanya mempelajari tentang fisik saja. Mereka tidak mengerti tentang spiriton sama sekali, mereka tidak membuat kemajuan sama sekali. Jadi yang disebut dengan chemistry mereka hanya mengerti bahwa kehidupan berasal dari percampuran–percampuran kimia dan alam saja. Seorang ahli kimia-biologi yang menemukan vitamin c menyatakan bahwa kehidupan tidak hanya berasal dari percampuran–percampuran kimia dan alam saja tetapi juga ada hal lain diluar percampuran tersebut.

Slide berikutnya adalah mengenai paradigma baru tentang unsur kehidupan dan kebenaran yang mutlak. Untuk mempelajari reinkarnasi sacara ilmiah kita memerlukan ilmu baru yang mampu menjelaskan asal mula dari kehidupan, ciri–cirinya, dan bagaimana dia bertindak di alam ini. Ciri–ciri dari kebenaran mutlak di luar ciri fisik artinya kita harus mempelajari unsur spirit dari kebenaran mutlak ini.

Dalam Veda dijelaskan bahwa terdapat dua jenis pengetahuan. Yang pertama adalah Paravidya-pengetahuan spiritual yang mempelajari kehidupan—masuk dalam tataran ini. Yang kedua adalah Aparavidya yang berhubungan dengan fisik/alam material ini. Tetapi dalam kehidupan kita ada interaksi antara fisik dengan spiritual. Dijelaskan bahwa kehidupan ini berada di dalam fisik. Karena itu, dalam interaksi antara spiriton dengan badan material ini ada campur tangan Tuhan yang berupa kecerdasan dalam kehidupan ini. Dalam bagian akhir slide dijelaskan tentang Superior Power Tuhan/ Sakti (tenaga yang lebih tinggi) yang berupa atma/ Entitas hidup/ Spiriton. Tenaga yang lebih rendah disebut dalam Veda sebagai prakrti. Semua ilmu pengetahuan seperti kimia dan fisika merupakan kelompok prakrti. Karena itu elektron merupakan bagian dari prakrti, sedangkan spiriton adalah bagian dari Paravidya. Itulah perbedaan antara spiriton dengan elektron. Yang membentuk makhluk hidup adalah yang mempunyai kesadaran yang membedakannya dengan alam material.

Jadi definisi kehidupan adalah mengatasi hukum–hukum alam material, dan dapat disimpulkan bahwa spiriton tidak bersifat fisik dan merupakan partikel yang memliki kesadaran. Kehadiran dari atma dapatdilihat dri adanya kesadaran. Kekayaan dalam hidup adalah adanya atma yang berada didalam badan material. Atma bersemayam di dalam badan material yang bercirikan kesadaran, baik itu badan manusia, burung dsb. Terdapat dua jenis badan. Yang pertama adalah badan kasar yang terdiri dari unsur fisika dan kimia yang merupakan percampuran lima jenis unsur. Yang kedua adalah badan halus yang terdiri dari tiga unsur yaitu pikiran, kecerdasan, dan keakuan palsu. Dari unsur–unsur ini yang berkombinasi dengan unsur material dan bersama–sama spiriton membentuk kehidupan. Jadi unsur inilah yang membentuk kehidupan.

Slide berikutnya adalah bentuk–bentuk badan biologi. Aneka jenis kombinasiunsur kehidupandengan tiga sifat alam material yaitu kebaikan, keagresifan dan kemalasan membentuk kehidupan. kita dapat mengamati dalam kehidupan manusia kita ini, ada orang yang sangat baik, mereka tidak gampang marah dan mereka selalu mengharapkan kesejahteraan orng lain. Orang–orang seperti ini ada di seluruh dunia. Ada juga orang yang sangat agresif dan sangat gampang marah. Bahkan anak-anak dari orang tua yang sama sekalipun memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada anak yang kalem, baik, tetapi ada juga anak yang sngat agresif, sangat senang berkelahi. Kelompok manusia yang lain sangat malas, hanya senang tidur dan cenderung melakukan kejahatan. Tiga kelompok orang ini adalah kelompok orang yang dipengaruhi oleh tiga sifat alam. Tiga sifat alam ini adalah Sattwam (sifat kebaikan), rajas (sifat agresif), dan tamas (sifat malas). Pengaruh tiga sifat alam ini tidak hanya berlaku pada manusia tetapi juga pada hewan dan tumbuhan. Pada binatang contohnya harimau dipengaruhi oleh sifat rajas dan tamas,sapi dan kerbau dipengaruhi oleh sifat sattvam, babi dipengaruhi oleh sifat tamas yang dapat kita lihat dari sifatnya yang malas dan tempat hidupnya yang kotor. Sifat alam ini ada dialam material,tetapi kita tidak dapat melihatnya.

Reinkarnasi adalah perubahan pada badan. Dalam buku Human Brain dijelaskan bahwa semua molekul tubuh akan berubah dalam waktu tujuh tahun. Jadi badan kita berubah setiap tujuh tahun. Pada umur kita yang sekarang ini sudah berapa kali kita berganti badan? Perubahan yang terjadi pada badan kita dalam kehidupan ini disebut dengan Reinkarnasi Internal. Roh yang ada di dalam badan kita bahkan sudah mengalami reinkarnasi dalam kehidupan yang sekarang ini. Reinkarnasi internal merupakan pergantian badan. Seperti pada masa anak–anak dari bayi sampai umur tujuh tahun dia sudah memiliki badan yang baru. Seperti yang dikatakan dalam Bhagavad Gita:

”dehino ‘smin yathä dehe, kaumäraà yauvanaà jarä

tathä dehäntara-präptir, dhéras tatra na muhyati”

artinya, ”Seperti halnya sang roh yang berpindah dari satu badan ke badan yang lain yaitu dari badan bayi, anak–anak, dewasa, tua dan akhirnya mati. Orang yang bijaksana hendaknya tidak bingung oleh keadaan ini.

inilah yang disebut sebagai reinkarnasi internal.”

Yang kedua adalah eksternal reinkarnasi yaitu sang roh akan mendapatkan jenis badan yang baru sesuai dengan kesadarannya pada saat kematian. Kesadaran apapun yang dia capai saat meninggalkan badan itu, jenis badan itulah yang akan dia dapatkan dalam kelahirannya. Ini sangat penting dalam menyiapkan perjalanan hidup kita. Dalam Bhagavad Gita bab 8 sloka 6 disebutkan:

” yad yad väpi smaran bhävaà, tyajaty ante kalevaram

taà tam evaiti kaunteya, sadä tad-bhäva-bhävitaù”

artinya ”Kesadaran hidup mana pun yang dia ingat pada saat ia meninggalkan badannya, badan itulah yang akan dia dapatkan pada kehidupannya selanjutnya.”

Slide berikutnya tentang perubahan badan yang ketiga. Bhagavan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita Bab 2.22 menyatakan:

” väsäàsi jérëäni yathä vihäya,

naväni gåhëäti naro ‘paräëi

tathä çaréräëi vihäya jérëäny,

anyäni saàyäti naväni dehé”

artinya, ”Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian yang baru, dan membuka pakaian yang lama, begitu pula sang roh menerima badan–badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan jasmani yang lama yang tidak berguna.”

Slide berikutnya adalah tentang evolusi kesadaran. Kesalahan Darwin yang lain adalah dia tidak mengerti eksistensi kesadaran itu sendiri. Ketika dia menulis riwayat hidupnya, dia menulis ketika kecil dia suka sekali pergi ke gereja dan mendengarkan orang menyanyi dan berdoa di gereja. Dalam masa itu dia sangat menikmati mendengarkan puisi-puisi yang indah. Pericelli juga merupakan pembaca puisi yang terkenal di kotanya. Ada juga drama Shakespare. Darwin memiliki keinginan/ cinta kasih yang mendalam terhadap seni–seni ini. Ketika dia menulis buku ”The Origin Spesies” dengan berjalan keliling di Amerika Selatan, dia menyatakan bahwa hari–harinya ketika kecil adalah hari yang berkesan. Dalam usia tua dia merasa kecewa. Dia kehilangan segala rasa dari kehidupannya. Dia merasa teorinya tidak mampu menjelaskan bulatan–bulatan seperti mata yang ada pada ekor burung merak. Hal ini membuat dia merasa sangat sedih. Darwin yang malang bersedih. Kenapa hal ini terjadi? Evolusi merupakan peningkatan kesadaran, lalu mengapa Darwin bersedih hati? Ini terjadi karena kesadaran Darwin mulai merosot. Dia mengalami devolusi kesadaran (kesadaran yang semakin merosot).

Devolusi Kesadaran

Ini juga dapat terjadi pada kita, jika kita tidak mampu memanfaatkan kehidupan kita sebagai manusia ini dengan cara yang benar untuk mengerti kehidupan. Kita tidak mempergunakan kebebasan kita dengan cara yang benar maka kita juga mungkin mengalami devolusi kesadaran ini. Walaupun kita mendapatkan kehidupan sebagai manusia tetapi jika kita mengembangkan keinginan seperti binatang atau burung maka kita juga akan mendapatkan kesempatan sebagai binatang atau burung. Karena kehidupan sebagai manusia adalah persimpangan jalan. Di persimpangan ini kita bebas memilih jalan yang akan kita tempuh. Dalam kehidupan manusia kita juga mempunyai kebebasan untuk memilih jalan yang benar atau jalan yang salah sebagai jalan kita. Karena itu, jika di persimpangan jalan dan kita tidak tahu jalan yang di tempuh maka kita harus bertanya pada orang yang tahu, karena kalau kita berjalan begitu saja, kita bisa sampai pada tujuan yang salah pula. Karena itu dalam kehidupan kita sebagai manusia sangat penting bagi kita untuk bertanya pada seseorang yang tahu tentang makna kehidupan agar kita tidak salah arah dalam kehidupan ini.

Reinkarnasi adalah tentang keinsyafan diri dan ini merupakan kebenaran tentang betapa pentingnya kehidupan sebagai manusia. Tidak seorang pun yang hadir disini yang ingin menderita, semua orang ingin berbahagia. Untuk mencari kebahagiaan ini ada juga pengetahuan ilmiah tentang bagaimana caranya mencari kebahagiaan itu. Dan semua ahli psikologi berusaha mencari tahu bagaimana kita mencari kesenangan yang kekal ini. Ada beberapa orang yang menyatakan bahwa dalam bekerja, berfikir atau beraktifitas kita harus bertindak positif. Untuk bertindak positif kita harus mengerti apa itu kehidupan.

Vedanta Sutra-Vedanta berarti akhir dari segala pengetahuan-dalam sutra pertamanya menyatakan ”Athato Brahma Jijnasa” yang artinya sekarang kita telah mendapat kehidupan sebagai manusia, sudah merupakan kewajiban kita untuk bertanya tentang realitas yang utama (Ultimate Reality-Tuhan).

New Science: Science yang telah disuntikan dengan Spiritualitas

Dalam buku ”Science, Spirituality and Nature of Reality” yang berisi  percakapan saya dengan Roger Penrose, seorang ilmuwan dari Oxford University, Inggris, didiskusikan tentang sains, spiritualitas dan sifat–sifat realitas utama, sifat–sifat rahasia dari realitas yang utama. Roger Penrose juga menulis buku yang berjudul Jalan Menuju Realita (Road to Reality) dan Pengejawantahan dari Pikiran (The Shadows of Mind) Ada sebuah buku yang lain karya seseorang yang memeroleh nobel. Buku ini juga merupakan referensi. Pemenang nobel ini menulis tentang Sains dan Spiritualitas. Karena itu saya ingin memberikan kesimpulan bahwa reinkarnasi bukan semata-mata keagamaan tetapi ilmu pengetahuan yang sangat ilmiah. Pengetahuan ini sangat memerlukan ilmu dan paradigma yang baru (New Science). Ilmuwan  bidang biologi, kimia dan fisika tidak akan mampu memberikan jawaban ataupun penjelasan tentang reinkarnasi ini. Apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan yang baru (New Science) ini?

New Paradigm in Science (Paradigma baru dalam Sains) ini artinya kita ikut berusaha untuk membahas masalah ini dengan para rohaniawan atau tokoh agama bersama dengan para ilmuwan. Dalam ilmu pengetahuan yang baru ini kita akan mengerti apa itu hidup dan kehidupan itu sendiri, apa peranan hidup sebagai manusia. Dan anda akan mampu mengerti apakah suatu hal itu baik atau buruk, apakah pengaruh teknologi, dapat dimanfaatkan atau malah disalahgunakan, dan anda akan dapat menentukan dalam kasus kejahatan apakah DNA itu tepat atau tidak. Dan anda akan dapat menentukan apakah kloning itu baik atau buruk. Dan akhirnya kita akan dapat menyimpulkan apakah teroris itu baik atau buruk. Dan banyak masalah yang dapat dipecahkan dengan mempelajari ilmu yang fundamental tentang matter dan spiritual ini.

Saya sangat senang sekali dapat bertemu dengan bapak, ibu dan hadirin disini. Presentasi akan saya akhiri sampai disini. Saya ucapkan terima kasih sekali lagi.

Trancribe by : Bandung Radhe Syama Center

Edited by        : www.sripadanectar.com


[1] T.D. Sing Adalah International Director of Bhaktivedanta Institute, President of Vedanta and Science Educational Research Foundation, dan juga Founder University of Bhagavata Culture.

[2] DR. TD SINGH juga pernah memberikan seminar Human Cloning dari Perspektif Vedanta di Unud.

[3] Penjelasan Lebih lanjut tentang Spiriton dapat dilihat dalam buku-buku karya DR TD Singh Seperti, “Kehidupan dan Evolusi Spiritual”,  “Life, Matter and Their Interation” dan lain sebagainya.

Popularity: 5% [?]

Leave a Reply