Archive for the ‘Sripada Nectar’ Category

Welcome To Bali Maharaj

Welcome To Bali Maharaj

Ditulis oleh Ananta Vijaya dasa

Awalnya sebelum Sripada Maharaj datang ke Bali atas karunia Guru dan Krishna saya mendapatkan pergaulan dari HDG Goura Govinda Swami Gurudev. Dari awal perasaan saya telah terpupuk untuk mendapatkan diksa dari Beliau. Namun apa boleh buat, pada tahun 1996 Srila Gurudev mendadak meninggalkan kita, pulang kepada Krishna. Dari sejak itu penyembah dari line-nya (murid dan pengikut-ed) Srila Gurudev kebingungan siapa yang bisa melanjutkan untuk memberikan pergaulan kepada kami. Akhirnya melalui seorang penyembah yang tulus hati, Prabhu Chaitanya Candra memerintahkan Murid-murid Gurudev untuk mengundang Srila Sripada Maharaja untuk datang ke Bali memberikan pergaulan. Dari sejak itulah kami sering mencari-cari segala sesuatu yang berhubungan dengan Beliau (Sripada Maharaj-ed), seperti foto-fotonya, tembang-tembang bhajan beliau dan lain sebagainya. Read the rest of this entry »

Popularity: 100% [?]

Lanjutan dari bag 1

By Prema Vilasini DD

Ajaran-ajaran atau nasehat GM yang diingat:

  • GM menyuruh seluruh penyembah Banyuwangi untuk menghafalkan semua sloka Bab 16 dari Bhagavad-Gita.
    • GM meminta penyembah Banyuwangi untuk tidak ikut berpolitik.
    • Tetap mempertahankan adat-istiadat/ budaya Hindu Bali, seperti persembahan berupa banten gebogan diperbolehkan dan berpakaian adat Bali, kecuali Brahmacari yang menetap di Ashram/ para pujari.
      • Selalu menjaga kebersihan.
      • Saat prasad, diutamakan para mataji dan anak-anak.
      • Harus rajin belajar.
      • Jika memungkinkan/bisa kita diminta oleh GM untuk bercocok tanam, karena nantinya akan terjadi krisis global dan semua harga akan naik serta suatu ketika air nantinya akan sangat sulit dicari.
        • GM mengingatkan kita tentang pentingnya vairagya-ketidakterikatan.
        • Dalam keadaan suka maupun duka, kita harus tetap memuji nama suci Krishna dengan rasa cinta kasih dan tanpa rasa putus asa.
        • GM menyuruh saya untuk menjadi seorang brahmacari yang kuat, melayani arca di Banyuwangi dengan sebaik-baiknya, dan jangan menikah di Banyuwangi tetapi beliau berharap saya dapat menjadi brahmacari terus. (sumber: khusus bagi arjuna putra dasa).

Cerita terkait (oleh arjuna putra dasa): “Saat saya berada di Radha Kunda dan saat di Manipuri (tahun 2007), ada yang menawarkan saya untuk tinggal menetap disana, tetapi saya merasa takut, merasa saya belum berkualifikasi untuk tinggal disana, disaat itu saya selalu teringat akan janji saya pada GM untuk melayani terus di Radha Damodara ashram Banyuwangi. Saya yakin GM akan melindungi dan berkarunia kepada saya.

Read the rest of this entry »

Popularity: 61% [?]

By Prema Vilasini DD

Nama Om Visnupadaya Krsna Prestaya Bhutale

Srimate Bhaktisvarupa Damodara Svamin Iti Namine.

All glories to Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami Sripada maharaj,

All glories to Jagat-Guru Srila Prabhupada,

All glories to Sri Sri Gaura Nitai,

All glories to Sri Sri Radha Damodara.

Diksa Pertama adalah Di Banyuwangi

Pertama kali Srila Sripada Mendiksa di Indonesia adalah pada tahun 1998. Diksa waktu diadakan di Sri Sri Radha Damodara Ashram Banyuwangi dan Krishna Balaram Ashram Padanggalak-Denpasar. Namun secara kronologis Diksa Di Banyuwangi lebih duluan dari pada di Krishna Balaram. Jad Diksa Pertama Srila Sripada Di Indonesia adalah Di Banyuwangi.

GM datang pertama kali ke Banyuwangi pada bulan November 1997. Pada waktu  itu, sudah berdiri ashram di Banyuwangi, hanya saja belum terdapat arca yang dipuja disana. Kegiatan hare krishna sendiri di Banyuwangi sudah berjalan sejak tahun 1994. Saat GM akan kembali ke Bali dari kunjungan beliau ke Banyuwangi, beliau berkata kepada prabhu Arunambhara dan prabhu govinda (yang saat itu belum di diksa): “I am in touch with you” dan enam bulan lagi saya akan kembali ke sini dan mendiksamu.

Kemudian pada bulan April 1998 dalam kunjungan yang kedua kalinya ke Banyuwangi, GM mengadakan diksa I (sekaligus menjadi diksa pertama kali beliau di Indonesia). Peserta diksa saat itu tidak hanya dari Banyuwangi saja, ada beberapa penyembah dari Bontang dan Lombok.

Merupakan suatu karunia yang sungguh luar biasa bagi kami peserta diksa I khususnya dan penyembah-penyembah Banyuwangi pada umumnya menerima kunjungan GM maupun karunia diksa dari beliau.

Beberapa Lilamrita Srila Sripada di Banyuwangi:

Berikut adalah kenangan dari beberapa penyembah Banyuwangi tentang kegiatan dan petuah Rohani Srila Sripada Maharaj ketika berada di Banyuwangi mulai dari Diksa Pertama, Penstanaan Arca Vigraha, berkunjung ke rumah penyembah dan berbagai lila rohan lainnya. Sekelengkapnya dapat dilihat dalam kutipan-kutipan berikut ini:

Arunambhara Chaitanya dasa, “Pada saat penyelenggaraan pendiksaan Pertama di Banyuwangi, GM membawakan dan menginstall (mengistanakan) langsung arca Gaura Nitai. Hal Ini juga merupakan pertama kalinya di Indonesia, beliau sendiri yang mengistanakan arca secara langsung.

Pada kunjungan GM yang kedua, beliau mengistanakan arca Radha Damodara. Setelah mengistanakan arca, beliau berkata “Setiap kali saya selesai mengistanakan arca, biasanya akan turun hujan”. Kemudian pada malam harinya setelah pengistanaan arca, GM kami antar ke Surabaya. Selama perjalanan dari Banyuwangi hingga daerah Wongsorejo turun hujan lebat dan sepanjang jalan banjir. Di dalam mobil beliau berkata “Ini seperti sungai gangga”. Sepanjang perjalanan disaat yang lain tertidur, GM terus bhajan dengan suara yang nyaring seperti suara seorang wanita (Gopi Voice-ed). Saat tiba di Situbondo, beliau berkata “Aruna, hujannya sudah berhenti dan kemudian beliau langsung tertidur”.

Kundalata devi dasi, “Saat pertama kali GM datang ke Banyuwangi, ada seorang murid beliau dari Amerika yang juga ikut. Saat itu murid tersebut berkata bahwa dia sudah mencari GM kemana-mana dan berkata ‘Anda semua di Banyuwangi sungguh beruntung karena beliau sendiri yang langsung mendatangi dan meminta menginap di rumah anda’. GM suka sekali dipijat selama berada di Banyuwangi. Beliau mempersilahkan anak-anak kecil penyembah untuk ikut memijat beliau.

GM menyempatkan untuk mengunjungi rumah-rumah semua penyembah selama beliau berada di Banyuwangi. Dan beliau pun sempat berkunjung ke beberapa pura di Banyuwangi, termasuk pura Blambangan yang merupakan pura terbesar di Banyuwangi.

Purna Avatara dasa, “Lila GM yang paling berkesan di Banyuwangi adalah saat beliau mengistanakan arca Sri Sri Gaura Nitai dan Sri Sri Radha Damodara yang langsung beliau bawa dari Banyuwangi, saat beliau bersedia berkunjung ke pura Blambangan, dan saat beliau membawakan grup penari dan pemusik dari Manipuri untuk pentas di Banyuwangi.

Priya Darshan Dasa, “Lila GM yang paling saya ingat adalah ketika beliau berkunjung ke pura, beliau selalu menunjukkan sikap tunduk hati dan hormat pada ista dewata yang melinggih/beristana di Pura tersebut. Hal ini terlihat di setiap kali GM memasuki area dalam Pura, beliau langsung menuju padmasana seraya menaruh tangan padma beliau di padmasana untuk beberapa saat. GM pun menunjukkan sikap toleransi beliau dengan menggunakan udeng saat ke pura seperti halnya yang digunakan umat hindu pada umumnya.

Arjuna putra dasa, “Saya tidak pernah menyangka saya akan diksa di Banyuwangi, karunia GM sungguh luar biasa bagi saya. Sehari setelah GM mengistanakan arca Radha Damodara, berkat karunia Radha Damodara dan GM, entah mengapa saya diajak beliau ke Kalimantan. Pada saat di Kalimantan, rombongan kami menempuh perjalanan jauh selama sehari penuh. Saat itu saya merasa sangat kasihan pada GM, karena beliau harus jalan kaki menaiki jalan tanjakan dan melewati semak-semak disepanjang jalan yang jauh. Tapi beliau tampak sangat bersemangat. Selama di Kalimantan beliau menghadiri pertemuan dan mengundang tokoh-tokoh hindu disana, yang juga tampak antusias mendengarkan ceramah GM”

Prema vilasini devi dasi, “Lila GM yang paling saya ingat adalah setiap GM menginap dirumah, biasanya tiap pagi hari saya akan terbangun karena mendengar suara GM bhajan sembari beliau berkeliling di taman yang ada di halaman rumah. Beliau selalu memberi makan ikan-ikan yang terdapat di kolam sambil bhajan, setelah kunjungan beliau pasti ada saja ikan yang mati (dan di setiap kunjungan beliau berikutnya, GM pasti tahu jika ikannya berkurang).”

“Saat beliau menginap di rumah, beliau setiap pagi suka duduk-duduk di kursi goyang yang ada di halaman depan rumah sembari bhajan dan menggunting kuku beliau. Kemudian saat beliau mengunjungi semua rumah-rumah penyembah di Banyuwangi dan sempat berfoto bersama keluarga yang dikunjungi. Dan saat beliau bersama rombongan penari menampilkan pertunjukan sendratari Ramayana di acara piodalan pura Giri Waseso, semua masyarakat yang hadir sangat antusias menonton pertunjukan ini.”

Lila dari GM yang paling berkesan dan diingat oleh seluruh penyembah Banyuwangi adalah ketika beliau dengan tangan padma beliau mengepel langsung lantai setelah upacara diksa dimana beliau disini sekaligus mengajarkan pada para penyembah bagaimana cara membersihkan kunda setelah yajna berlangsung dan beliau juga pernah melayani persad para penyembah dengan membagikan langsung prasadam kepada para bhakta yang hadir saat itu di Sri Sri Radha Damodara Ashram.

Bersambung ….

Prema- vilasini adalah interviewer/reporter sripadanectar.com di Banyuwangi.saudara kita di Banyuwangi dan sekitarnya yang mau bercerita pengalamannya dapat menghubungi dia.

Popularity: 62% [?]

oleh Srila Bhaktisvarupa Damodara Svami Sripada Maharaja

Bedugul, Bali, Indonesia, 28 Des 2005, sore

Hare Krsna, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kedatangan anda semua dari berbagai planet yang hebat…

DSCN1089Bhaktivinoda Thakura mengatakan bahwa hampir semua masyarakat sedang dalam keadaan tertidur, oleh karena itu sangatlah baik bagi kita karena kita diberikan pengertian bagaimana seharusnya terbangun dari tidur ini. Jadi atas karunia Prabhupada kita diberikan pengertian bahwa seharusnya kita terbangun dari tidur yang dalam ini. Bangun berarti…apa yang terjadi ketika kita bangun? Seperti halnya matahari terbit di pagi hari…dan kita bisa melihat sebuah kehidupan yang indah disekeliling dan kita juga bisa mengingat burung-burung dan banyak hal yang indah lainnya terjadi ketika kita bangun pagi.

DSC_0152

Jadi pengertian bagaimana kita terbangun dari tidur yang dalam…tidur yang dalam berarti seseorang sepenuhnya dalam sifat kebodohan, kegelapan, tamoguna. Ketika tamoguna mempengaruhi seseorang maka kita akan berada dalam kondisi tertidur pulas. Tetapi hanya dengan kembali ke Vaikuntha, dengan meninggalkan badan material ini, dan kita pergi ke Vaikuntha…di planet Vaikuntha seluruh entitas hidup tidak pernah tertidur. Jadi suasana disana selalu pagi…seperti pagi hari. Ketika saya datang ke Bali, di pagi hari saya selalu mendengar nyanyian merdu yang dilantunkan seekor burung kecil yang selalu datang mendekati saya dan menyanyikan lagu yang mengingatkan saya akan planet Vaikuntha.

beatifulBIRD

Suatu hari, beberapa hari yang lalu ketika kami bekerja semalaman…kami baru selesai setelah lewat jam empat pagi, dan ketika keluar dari pintu saya kembali melihat burung tersebut datang dan menyanyikan lagu yang indah, ia menyanyikan: “Swamiji”…dalam bahasa burung tetapi lagu itu dalam bahasa Inggeris berarti, “Krsna adalah Personalitas Tuhan Yang Maha Esa”.

Saya mendengar lagu yang sama, irama yang sama kira-kira 10 tahun yang lalu ketika saya menjalani operasi kecil untuk mengeluarkan batu. Dan saya tinggal beberapa hari di Bombay. Di Bombay, didekat kamar saya ada sebatang pohon kelapa, Bombay juga seperti Bali. Dan di atas pohon kelapa itu, burung kecil itu datang setiap hari, setiap hari  pagi-pagi sekali saya mendengar nyanyian yang sama, “Swamiji…Krsna adalah Personalitas Tuhan Yang  Maha Esa”, jadi lagu yang sama yang saya dengar di Bali, Oh.. itu adalah pesan…pesan, burung yang berasal dari planet Vaikuntha. Oleh karena itu Kesadaran Krsna ini merupakan kebudayaan Vaikuntha, masyarakat di Vaikunthaloka.

vaikunthaplanets

Planet-planet Vaikuntha

Ini adalah sebuah lagu yang indah…saya akan menyanyikan sebuah lagu. Lagu ini berjudul arunodaya kirtana, nyanyian yang dinyanyikan dalam suasana ketika matahari datang…terbit…matahari terbit. Artinya sangat indah…

“Ketika matahari terbit mewarnai horizon di ufuk tinur, Tuhan Gaurasundara, permata di kalangan kaum Brahmana terbangun. Dikelilingi oleh para penyembahnya, beliau berjalan melalui jalan-jalan di kota Nadia. Mrdanga menciptakan suara..tathai..tathai…(tathai adalah salah satu istilah dalam bahasa Mrdanga)…dan kartal dimainkan mengiringi irama tersebut dengan teratur. Anggota badan Sri Gauranga bergetar dalam kebahagian cinta kasih rohani, dan gelang kakiNya menimbulkan suara gemerincing.

Kemudian Sri Gaurangga Mahaprabhu menjelaskan kepada para pengikutNya, nyanyikanlah hanya nama Krsna, Mukunda, Yadava dan Hari. Malammu telah dilewatkan dalam tidur yang sia-sia dan har- harimu telah disia-siakan dengan hanya menghias badanmu. Kemudian Beliau mengatakan, setelah menerima kehidupan manusia yang sangat sulit untuk dicapai, kenapa engkau tetap tidak menyadari besarnya karunia ini? Jika engkau tidak memuja putra Ibu Yasoda sekarang, maka engkau akan menyesal saat kematian tiba.

Krishna Putra Ibu yasoda

Krishna Putra Ibu yasoda

Ketika matahari terbenam engkau menjadi cemas karena satu hari telah hilang, kenapa engkau tetap malas dan tidak mengabdi kepada Tuhan yang bersemayam dalam hatimu. Hal yang terpenting yang harus diketahui adalah bahwa hidup sangat sementara dan penuh dengan bahaya. Karenanya berlindunglah kepada nama suci dengan sunguh-sungguh sambil tetap melakukan segala kewajibanmu.

Kemudian Beliau berkata, karena ingin memberikan kemujuran kepada setiap jiwa, nama suci telah turun ke dunia material ini untuk menghilangkan kegelapan dan kebodohan serta untuk memberikan penerangan di langit  hati. Dan Bhaktivinoda berkata, mohon berikan Bhaktivinoda kehidupan dengan meminum nektar yang murni dari nama suci. Tiada sesuatupun di keempat belas dunia yang lebih berharga dari nama suci”.

Sri sri Radha Rasesvara

Sri sri Radha Rasesvara

Kemudian Guru Maharaja bernyanyi…TEXT ARUNODAYA KIRTANA

Setelah bernynyi Beliau melanjutkan:

Hare Krsna…

Entah bagaimana matahari telah datang, di sebelah kanan kita terdapat danau dan pohon-pohon juga ikut menikmati. Vaikuntha adalah seperti ini…sangat damai, Vaikuntha berarti damai…Vaikuntha berarti tempat dimana tidak ada kecemasan dan tidak ada kekhawatiran. Jadi Kesadaran Krsna adalah suatu proses latihan bagaimana memasuki dunia Vaikuntha.

Jadi ini adalah kebudayaan yang tertinggi, kebudayaan yang paling penting. Oleh karena itu kita harus belajar bagaimana supaya bisa tetap mantap, mantap artinya dhira, dhira berarti sangat berbahagia baik dalam diri sendiri maupun bersama orang lain…jadi kebudayaan untuk bisa menjadi dhira, stabil, sangat seimbang…kehidupan yang seimbang dan selalu mengikuti karunia otoritas yang lebih tinggi adalah esensi Kesadaran Krsna.

Saya sangat senang untuk bisa bertemu para penyembah dari Singaraja…bisakah anda angkat tangan? Saya berterima kasih atas kedatangannya…dengan ketulusan doa kalian maka hari ini sangat indah dan tidak ada hujan saat ini. Kemarin kita mengadakan program di Klungkung dan hujan turun dengan lebatnya. Jadi kita memperoleh karunia khusus pada hari ini…karena utusan otoritas yang spesial dari Vaikuntha, sehingga Tuhan memberkati kita semua. Sangat indah….

Saya akan meninggalkan Bali lusa pada pagi hari. Kunjungan ini adalah kunjungan yang tidak direncanakan sebelumnya. Oleh karena ada pesan datang dan saya harus segera datang kesini untuk mengerjakan beberapa tugas, sebuah tugas penting. Saya pergi begitu saja bahkan meninggalkan barang-barang bawaan saya di Calcutta dan hanya membawa dhoti saja. Dan tugas ini adalah untuk mengerjakan sesuatu, untuk mengorganisir sebuah program…sebuah program pengajaran yang sangat penting di Bali. Ini masih memerlukan dua hari lagi untuk menyelesaikannya. Dan beberapa penyembah kita bekerja keras sampai-sampai tidak tidur dalam 3 atau 4 hari ini dan hanya meminum segelas air saja dalam sehari. Mereka bekerja dengan sangat keras, tetapi semuanya dikerjakan dan diselesaikan dengan baik. Banyak diantara kalian juga ikut berkontribusi karena kontribusi ini sangat diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Saya mengucapkan terima kasih atas semua itu. Jadi tetaplah tinggal dengan baik, saya berencana untuk datang kembali pada musim panas. Musim panas berarti sekitar bulan Juli dan akan tinggal lebih lama untuk membuat beberapa program.

Dan saya juga ingin memberitahukan bahwa tahun ini mulai bulan April, saya akan berkeliling dengan kelompok kesenian dari Manipur. Saya membawa lebih dari 20 seniman ke seluruh Amerika Serikat, seperti pemain kendang, juga seni bela diri. Siapapun yang tidak suka saya juga membawa kelompok seni bela diri…jadi disinilah fungsi bela diri yang benar…(tertawa)…saya akan melakukannya selama sekitar tiga bulan sampai Mei-Juni, Juli saya akan datang ke sini. Dan kita juga berencana untuk mengundang banyak seniman dari seluruh dunia dalam rangka festival pembukaan di Manipur bulan Oktober 2007.

Jadi saya sarankan kalian membeli sebuah boat. Kalian bisa berlayar dari sini menuju pelabuha Calcutta, Calcutta cukup dekat…hanya memerlukan sekitar 25 hari dengan kapal (tertawa). Dan saat kalian tiba di Calcuta katakanlah bahwa kalian berasal dari Manipur, Manipuri. Sehingga tidak diperlukan Visa. Mereka akan sangat senang, lalu katakan bahwa kalian baru saja datang dari Bombay dalam rangka piknik spesial dan sekarang tiba di Calcutta. Dengan demikian mohon ini direncanakan. Jika tidak bisa membeli kapal boat, kalian bisa menggunakan Helikopter…dan disana akan ada festival yang sangat meriah…sangat besar.

Keempat penyembah dari Bali yang sudah berada di Manipur sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya, bahkan mereka mengatakan tidak akan meninggalkan Manipur sebelum Kuil selesai. Dengan persiapan ini, silahkan direncanakan dari sekarang. Sekarang juga ada penerbangan murah…seperti Jet Star, Asia Air…seperti Dhira Kesava yang baru-baru ini ke Vrndavan menggunakan penerbangan ini. Ada juga Malaysia Airline…sangat murah. Banyak cara untuk pergi kesana. Jadi tolong rencanakan dengan baik. Saat itu disana akan sangat dingin, Manipur seperti  suasana disini…seperti dinginnya disini. Jadi undangan ini mohon kalian ingat dengan baik dan mulai sekarang simpanlah satu rupiah setiap hari…(tertawa)…dengan cara itu tidak akan ada banyak masalah.

Saya sangat senang bisa datang dan bertemu semuanya selama beberapa hari. Di Vrndavan beberapa hari yang lalu para penyembah hadir bersama-sama dan mengadakan program yang bagus sekali. Banyak penyembah yang mengatakan bahwa mereka ingin kembali datang ke Bali. Juga ada kelompk-kelompok lainnya yang mengatakan, “Maharaja kami ingin pergi ke Bali, URI juga mengatakan, “Maharaja mohon susun acara sehingga kami semua bisa datang ke Bali” dan kelompok ilmuwan dari seluruh dunia juga menelpon saya, mnereka mengatakan; “Dr. Singh anda susunlah program di Bali, kami akan datang ke sana”. Bali sangatlah…saya selalu mengatakan kepada setiap orang, anda datanglah ke Bali dan anda akan mendapatklan kedamaian.

Jadi banyak program yang bisa dibuat dan program yang sedang kita selesaikan sekarang adalah bertujuan untuk memfasilitasi itu…kita bisa melakukan banyak program yang bagus. Oleh karena kalian memiliki sangat banyak penyembah muda yang antusias, kami ingin menyibukkan anda semua dengan benar sehingga kalian selalu sibuk. Dan juga kita akan memulai sekolah yang bagus untuk anak-anak. Saya melihat sangat banyak ada anak-anak…tetapi sekolah ini akan merupakan sekolah menengah berbahasa Inggeris. Jadi tidak semata-mata sekolah tetapi kita akan mengajarkan segala aktivitas Vaikuntha. Itu berarti kebudayaan Veda, aktivitas kebudayaan Veda…disana akan ada seni dan budaya, masyarakat Bali ahli dalam bidang seni. Dan juga musik, pelatihan musik dan filsafat tentang Kesadaran Krsna. Bahkan juga prasadam…prasadam internasional. Kita akan membawa resep-resep dari Vaikuntha, resep Vaikuntha. Dalam resep Vaikuntha ada…kalian tahu… disana ada gulab jamun merah yang sangat…sangat besar dan kita bisa membuat menu yang enak dari beras hitam, gula merah…semua itu adalah bahan-bahan yang ada di Vaikuntha. Oleh karena itu kita merencanakannya…jika kalian memiliki kenalan dari kalangan pemerintahan…kita membutuhkan paling tidak sekitar 50 acre tanah. Sehingga kita akan memiliki kampus dan bisa mengadakan program-program yang bagus dan seluruh ilmuwan dari seluruh dunia akan datang mengikuti program kita. Ini adalah harapan kita bersama dan atas karunia Srila Prabhupada…mohon berdoa sehingga kalian tetap sehat dan kuat, tetap teguh dalam Kesadaran Krsna  mengikuti semua prinsip dan dengan demikian kita bisa berjalan dengan baik dalam Kesadaran Krsna.

Sekarang saya kira saatnya untuk sedikit berjalan-jalan bukan? Membuat beberapa…saya melihat kalau pintu gerbang disana sangat indah. Saya ingin mengambil beberapa gambar sebagai sampel untuk menyelesaikan Kuil kita di Manipur. Karena kita telah cukup duduk, maka sangat baik kalau kita melakukan sedikit olah raga. Di Vaikuntha…seluruh penghuni Vaikuntha juga senang melakukan olah raga rohani….

Jai Srila Prabhupada ki..jai..

Jai Srila Bhaktisvarupa Damodara Svami Maharaja ki…jai..

Selesai

Transcribe dan terjemahan Nityananda Rama das

Popularity: 54% [?]

Taken From Bhagavata Sevarpanam

On July 14, 2000 Sripada Maharaja was travelling with a few of his friends and devotees from Orlando to Savanna, Atlantic coast, Georgia, U.S.A. The trip was to request some of the important friends in Savanna to help raise some funds for the University of Bhagavata Culture. The Night was spent in a motel run by people from India. The next morning, July 15, he got up by 4 a.m. Still feeling friend, he again went to bed. At that time, in a half-sleeping state he saw vividly Srila Bhaktisiddhanta Saraswati Thakura lying on a bed in the corner of the room. Srila Bhaktisiddhanta Saraswati Thakura was very happy and enthusiastic about the University of Bhagavata culture envisioned by Maharaja by the mercy of Srila Prabhupada.The appearance of Srila Bhaktisiddhanta Saraswati Thakura in Maharaja’s vision reminds us of the following famous saying of Srila Bhaktisiddhanta Saraswati Thakura:

“He reasons ill who say that vaishnavas die when thou art living still in sound! The vaishnavas die to live, and living try to spread the holy name around.”

Here What was Sripada Maharaj wrote on His Diary:

Got up at 4:00 am & gain was lying because I was tired

From Orlando to Savanna, Ga

6:55 a.m. Savanna july 15, 2000

Saturday

I saw Srila Bhaktisiddanta S. Prabhupada in my vision. He was lying on a bed. I requested him for an appointment (darsan) either before 9:00 a.m. or after 9:00 a.m. after lunch for advice in devotional life as well as about the University of Bhagavata Culture that I am building in Imphal. Srila Bhaktisidhanta Sarasvati Prabhupada was in a very jolly mood. I was on his right side and just like a little child is embraced by the grand father, he embraced me by his right hand and he asked me let’s go to Manipur and discuss and you also invite your Guru Maharaja Srila Prabhupada in Manipur. We will go together. Then I said we will also discuss about this journey. Then in my mind I was thinking how to arrange the vyasa-asana for both Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakur Prabhupada and my Guru Maharaja

B.S. Damodara Swami

Popularity: 29% [?]

Taken From Bhagavata Sevarpanam Book
Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami (Sripada Maharaja) has spent much of his time and energy in Tirupati, Hyderabad, Vijayawada and many other places in Andhra Pradesh in early 1980s. Around that time there was severe drought for one year. Tirumala Tirupati Devasthanams (TTD) temple trust arranged a fire sacrifice for rain inviting many spiritual groups. Maharaja was very confidence about the statement of the Bhagavad-gita that sacrifice produces rain and that chanting of the Holy Names of the Lord is the best sacrifice in this age of Kali. When Sripada Maharaja started the ecstatic chanting of the Holy Name and dancing with several devotees, torrents of rain started pouring to the amazement of everyone present on the sacred Tirumala hills. From then, all the members of TTD temple management become extremely impressed with Sripada Maharaja.

kirtan

Sripada Kirtan

1D

Popularity: 32% [?]

by Devarsi Das

Devarsi Prabhu: So my name is Devarsi Das. I received initiation from Srila Bhaktisvarupa Damodara Maharaja in 1992 in New Mayapur in France. The day that he gave me initiation, it was re-initiation for me, I asked him to come to the Padayatra in south of France. He accepted. Two-three days after, we were riding to south of France. At that time he had his cane, so it was a little difficult for him to walk on Padayatra. We had very simple accommodation. I invited him to stay in the room I was renting in the south of France. It was about eight meters square room. It was a place for one bed and one mat and a little kitchen. Actually, from the beginning he showed me what is simplicity. He accepted to stay in the bed where I was sleeping before and I was sleeping just on the mat. His simplicity was quite extraordinary. I have always seen this quality in him.

Since Jayapataka Maharaja spoke quite a lot about his different services in ISKCON and his scientific preaching, I may speak a little about different qualities that I have seen in him. One quality that impressed me a lot was his humility. He very often reminded me of this verse:

trnad api sunicena taror api sahisnuna amanina manadena kirtaniyah sada harih.

He really exemplified this verse in his life.

I remember one time in Manipur, we were visiting one of his former teachers in a very small school. The teacher was about seventy-five, eighty years old. Immediately as soon as he saw his teacher, he paid full dandavats to his former teacher.

He was so tolerant about life because many of his disciples, including myself, we are not so qualified so we are making quite a lot of mistakes. Like a father, he was always guiding us and always helping us to develop tolerance. On time I asked him in Calcutta, I was also in the Congress in 1997, I asked what is possible to do for the French devotees. He said, “They need to be the tolerant, so maybe I can invite them all to come for five years to Calcutta to learn tolerance!”

He was very joyful, very humorous. Actually in my observation, he was really a perfect gentleman. I have never seen him really angry, even in some disaster. He showed me and he showed to us real Krsna consciousness. It was a question of consciousness. He was so busy working, serving his own spiritual master, Srila Prabhupada, and a huge toll to present Krsna consciousness to the scientific world. He very peacefully, with a lot of determination and a lot of joy, he was really working a lot, a lot, a lot. Calcutta was his place of work, really.

Prasada Prabhu at the end is going to tell us what was the last days in his life, how he was experiencing something quite special.

One day I was in Calcutta with him. I got the opportunity to get some books from BI and to go to Calcutta to distribute some books in Ultadanga, BI books. He was very pleased to see that it was possible, that people door to door, shop to shop were able to appreciate the books and took some books. He put a lot of emphasis in these books about Bhaktivedanta Institute, about this scientific preaching, about God is a person, about all these things.

Personally, I am quite inspired all that he has done in his life and also for me and also for many non-devotees I know. He has been able to touch the heart of many, many people, actually. Not in a big way like that, but in a very subtle and very deep and very profound way.

Now two days ago I was in Radha Kunda in his samadhi. If you want to know a little more about him, I can invite you to come to Radha Kunda to his samadhi in Gopaldeva Mandir because it was the place he really wanted to be. Although he never stayed there in Radha Kunda, it was the place that was the object of his meditation. You are most welcome to Gopaldeva Mandir in Radha Kunda.

Hare Krsna.

Srila Bhaktisvarupa Damodara Maharaja ki jai!

http://mayapurlectures.blogspot.com/2007/02/memorial-program-for-hh-bhaktisvarupa.html

Popularity: 47% [?]

remembrance by His Holiness Srila Jayapataka Swami

Jayapataka Swami: Every year, at the New Panihati festival in Atlanta, we have a Prabhupada lila-smarana festival of his visit there. Svarupa Damodara Maharaja was there when Prabhupada was there and he would come to this lila-smarana festival. So we heard from different devotees also how much Prabhupada showered his mercy up on him. There are pictures of him receiving Prabhupada at his car.

He was a VIP devotee. His special service was cultivating VIP’s, especially the scientists. We showed a number of his disciples in Bali and different parts of the world some slides we have of him. He also was a wonderful sadhu. It is rare to find probably scientists who are sadhus, but he was a super-wonderful sadhu because he was very gentle, very kind.

Once we did a Panihati festival in Prabhupada Desh. His Holiness Bhaktisvarupa Damodara Maharaja, I gave him the first pot of the cida-dadhi. He, normally you get a big pot of this cida-dadhi covered with rasagullas, sandesa, normally what you would do is eat it. But what did he do? He took it and offered it in the mouth of all the devotees. There are pictures of the devotees with their mouths open and he is like birds feeding their babies. He was putting the prasad in their mouth.

He had special tunes, maybe these are Manipuri melodies, he would sing. He reached a very high note. Sometimes we would raise his hand. He had a particular, I can’t imitate it, only he can do it. He would raise his hand and then reach this high note. Then he, changed the tune again sang a part of this particular tune.

Prabhupada, I remember that he said that, I heard, I didn’t see it in writing, but I heard that the Manipuris were somehow descended from the gandharavas. That is why they are such nice singers and dancers, very cultural. His Holiness Bhaktisvarupa Damodara Maharaja was like that, he was a great kirtan leader, singer, wonderful Vaisnava.

Somehow he was very kind to me always. He invited me to his World Congress Conference for the Synthesis of Science and Religion, both the one in Bombay and the one in Calcutta. I was studying science when I was in university, but I dropped out and joined Prabhupada’s university. Prabhupada didn’t tell me to keep studying because I was only in my freshman year. So my sophomore year I spent in ISKCON, but Prabhupada had him finish his study and get his PhD and use it.

Somehow he brought me and I tried to do what service I could do discussing with the scientists. One of the Nobel prize scientists in Calcutta, he was the discoverer of the laser. This is how much influence Maharaja had on him, he said, “I came to this function where 20 years ago I would never come, I would never dream, I would say that someone is crazy that I would be sitting here, a scientist, physicist, with religionists discussing about science.”

But because the scientists, the physicists, at least, I can’t speak for the chemists, the physicist, he came, “As quantum mechanics, quantum theory, now we have gone beyond the classical physics. These little particles act like people. I was hearing from Maharaja how this is, the Vedas have knowledge about consciousness in a scientific way, so I’m here to hear about it, I’m here to discuss it.”

So in this way, Maharaja in his tenacious and humble way, he would go and discuss with different scientists and he would convince them to some degree, I don’t know how much, but they would definitely come to his conferences they were influenced. He would influence them to be open to read the Vedas, to read Prabhupada’s books, to come to the conferences. He was having a great impact.

He also was a member of the World Parliament of Religions. He never invited me for one of those, so I don’t know exactly what happened, maybe someone else could speak later. He was very versatile.

I remember one time I was walking with Prabhupada and Svarupa Damodara Maharaja, maybe it was in Bhubaneshwar somewhere, I can’t remember now, Svarupda Damodara Maharaja was saying, “If we can influence the scientists, they are the people who are most respected in the world day, everyone follows science.”

Prabhupada was saying, “Yes, if you can convince the scientists, we can change the world.”

I am a Namahatta preacher, I am trying to get to the masses, so I was saying, “Well, it is very hard to convince the scientists. If we can convince all the people, maybe they’ll be more selective about what they accept from the scientists.”

Prabhupada told me, “Yes, if you can get people to come up to the scientists and say, ‘I don’t believe your theory of Darwin,’ that will be a big thing.”

But then he would go and convince Svarupa Damodara. It was like some kind of a game Prabhupada was playing, but he won. Svarupa Damodara won. Convincing scientists was considered more. . . but I got some good encouragement also.

Svarupda Damodara Maharaja, we were together in many places, but he was able to do things pretty much on his own. Sometimes he would call for help, but generally that was just his mercy. He was a very capable person.

Prabhupada told him to make Manipur a Vaisnava state. It was already a Vaisnava state, but to revive it to its full glory. I had the opportunity to go to Manipur and see. They have what is called Vijaya Govinda deities.

Sometimes he would serve the GBC special Manipuri meals. It’s been a long time since that happened. But he would give this special, they have blue rice in Manipuri. Manipur is like seven mountain ranges. In the middle there are two big lakes. What are they called, the Duck Lake or something? The main flower of this lake is lotus, so lotus is one of the main dietary parts of Manipur. He would feed the GBC’s lotus stems and lotus preparations and this blue rice. Especially when you make the blue rice, it is a sweet rice. It tastes like blueberries. Like this, he was introducing so much culture.

He was so dedicated to Prabhupada. we were discussing that even in the last moments, he was just thinking, “How can I please Prabhupada?” He was completely dedicated to being in ISKCON and please Srila Prabhupada.

There is some, Prabhupada told him especially do this kind of cultivating of scientists. Svarupda Damodara told me how he had this program in Rome in some special hall where once a year all the top scientists get together and have some program. The mayor of Rome gave it to him to also have a program. They had a number of scientists and devotees speaking. It was so successful that the mayor said, “You can have it every year.” It is a very prestigious venue.

I think my time is up. I don’t know who is trained up to follow in his footsteps, who can do the wonderful service he was doing. We were all expecting him to be with us for twenty, thirty years more at least. It is a big loss for all of us. He was very dear to all the Vaisnavas.

His Divine Grace Svarupa Damodara Swami Maharaja ki jai!

taken from

http://mayapurlectures.blogspot.com/2007/02/memorial-program-for-hh-bhaktisvarupa.html

Popularity: 55% [?]

oleh

Dvibhuja Das

Kepergianmu yang begitu cepat dan mendadak membawa dampak yang sangat besar. Karena kehadiran fisikmu sangat berpengaruh. Banyak murid dan penyembah yang mengatakan kepada hamba, “Jangankan Guru Maharaj sudah hadir atau tiba di Bali, baru mendengar saja GM akan segera datang kami begitu bersemangat dan sungguh mendebarkan menanti kedatangan GM”. Adalah sangat benar, wahai Dear Gurudev, apa yang disampaikan oleh para penyembah itu. Segala duka dan kesedihan raib entah kemana, segala murung dan sedih menguap entah kemana, begitu melihat kehadiranmu.

Oleh karena itu ketidakhadiran fisik Anda memberikan pukulan yang begitu berat, walaupun secara teori kami tahu bahwa seorang Guru Kerohanian selalu ada dalam ajaran-ajarannya. Pada salah satu kesempatan kami kumpul-kumpul di Jagannath Shop di Lombok, ada beberapa penyembah, Dayanidhi Pr, saya, dan beberapa penyembah lainnya. Dayanidhi prabhu mengatakan kurang lebih sebagai berikut, “Dulu kalo dengar Guru Maharaj akan datang, kita begitu bersemangat padahal masih beberapa hari atau minggu sebelumnya, sekarang Guru Maharaj tidak ada, kita merasa tidak ada yang menyemangatkan dan terasa sepi dunia ini” walaupun saya juga persis merasakan apa yang dirasakan Dayanidhi pr. dan penyembah lainnya, tetapi waktu itu saya pura-pura tidak bersedih dan mengatakan, “Tenang saja Prabhu, Beliau pasti menjaga kita, Beliau masih bersama kita kok, dan Beliau akan selalu melindungi kita, jika kita ingat dan berlindung kepada beliau” ya secara teori kami tahu hal itu dari sastra bahwa seorang vaisnava tidak pernah mati.

Tetapi di dalam hati, saya tidak bisa membohongi diri, ada perasan sedih, kesepian, dan hilangnya gairah hidup tanpa kehadiran fisik Anda, sama seperti apa yang dirasakan oleh Dayanidhi Pr dan penyembah lainnya. Yang menyebabkan kami merasa begitu terpukul adalah karena kami berpikir sebagai berikut;

“Siapa yang akan membimbing kami lagi, dimana kami dapat merasakan kirtan yang begitu dahsyat lagi?,

Dengan siapa kami keliling dan merasakan damai dan joy-nya hidup ini lagi?,

Darimana kami mendapatkan senyum yang memikat itu lagi?

Darimana kami mendapatkan dasar-dasar Kesadaran Krishna yang begitu segar lagi?, Dimana kami mendapatkan humor-humor sederhana tetapi penuh hal-hal spiritual itu lagi?, Dimana kami akan mendapatkan rasa damai-hanya dengan memandang wajahmu dan duduk manis di dekatmu, lagi?.

Dimana kami mendapatkan semangatmu-dengan program-progammu yang kreatif lagi?. Darimana kami mendapatkan perhatian yang begitu besar dari seorang Ayah rohani seperti lagi?.”

Perpisahan ini begitu menyakitkan

Kepergianmu begitu tak terduga

Kedatanganmu adalah obat

Gersangnya kehidupan duniawi

Namun engkau menghilang tiba-tiba

Jadi pantaslah kami sangat sedih dan kehilangan, sungguh sangat sulit menginsyafi bahwa engkau tidak meninggal, sunguh sulit memahami bahwa engkau masih ada disini, jadi wajar banyak diantara kami kehilangan semangat. Jadi begitulah diskusi malam itu intinya kami tidak dapat menerima engkau pergi begitu saja.

Tetapi seperti kata sastra bahwa Guru tahu hati murid! Bahwa guru memperhatikan muridnya! Bahwa Guru benar-benar selalu ada!, malam harinya saya bermimpi, mimpi yang begitu nyata, dimana saya dan para penyembah lainnya bisa mendengar kata-katamu, wahai GM, tetapi engkau berada dibalik layar sebuah wayang. Ya wayang yang biasa dipakai untuk mementaskan Ramayana dan Mahabharata di Bali. Dalam mimpi itu kami melihat engkau tetap menjawab doa dan pertanyaan para murid yang berada di depan layar wayang dan Engkau menjawab setiap doa dan pertanyaan yang diajukan oleh para penyembah dan murid.

Jadi setelah hamba bangun hamba menyadari bahwa engkau mengerti hati kami engkau menghibur kesedihan kami dan yang paling penting adalah Engkau Menegaskan eksistensimu bahwa “Aku Masih di Sini” ya hamba merasakan engkau ingin mengatakan hal itu kepada semua murid dan pengikutmu bahwa engkau masih ada di sini, bersama kami, menjaga kami, menuntun kami, tentunya jika kami menginginkan bimbinganmu itu.

Atas karuniamu kami semakin diyakinkan bahwa “Engkau masih di dini, masih ada bersama kami” hal itu terbukti melalui cerita beberapa penyembah berikut, (yang kami dapatkan lewat interview yang kami lakukan):

  1. Sudhanidhi prabhu di datangi olehmu, oh GM, lewat mimpi, engkau menyuruhnya potong kuku. Dan ternyata memang benar kukunya sudah panjang, engkau sangat perhatian Oh GM, Engkau ingin mengajarkan setiap murid dan penyembah selalu berpenampilan bersih bahkan untuk urusan sekecil potong kuku pun engkau memperhatikan penyembah itu.
  2. Dayanidhi prabhu disuruh bergaul ber-sadhu-sangga ketika Subhag maharaj datang ke Bali. “Mengapa kamu tidak datang ke Bali” katamu, oh GM, dalam mimpi Dayanidhi pr, wahai GM engkau sangat memperhatikan muridmu, memang betul waktu itu Dayandi Pr, tidak ada rencana datang ke Bali karena ingin/habis melayani seorang brahmacari yang datang ke Lombok, tetapi Engkau memaksa ”Tinggalkan tugasmu, ada yang lebih penting” dan engkau juga memberikan ajaran yang diperlukannya dengan mengatakan, ”Ini dokumen-dokumen untukmu” dan ternyata dokumuen itu ada DVD yang bersi class-class-mu yang lama engkau telah berikan melalui seorang murid untuk Dayanidhi pr. Engkau begitu perhatian engkau tidak hanya menitipkan dokumen itu, tetapi juga engkau memperhatikan bahwa penyembah itu belum membaca dokumen yang engkau titipkan itu, maka itu engkau mengingatkannya, dan betul saja ketika Dayanidhi prabhu membuka DVD itulah dokumen yang dimasukkan oleh GM dalam mimpinya, dan atas karuniamu Dayanidhi pr., mendapatkan pergaulan Subhag Maharaj waktu Beliau terakhir datang ke Bali.

Demikianlah beberapa cerita yang membuktikan Engkau masih ada, Engkau menjaga dan melindungi kami dan masih banyak cerita “Sripada Nectar”[1] lainnya dan kami mohon karuniamu agar kami bisa meng-complile-nya, untuk bisa kami persembahkan pada kaki-padmamu, seperti halnya orang mempersembahkan air gangga kepada ibu gangga, maka hamba juga akan berusaha  mempersembahkan “Sripada Nectar” ini, kepadamu wahai paduka Srila Sripada Maharaj.


[1] Bagi penyembah yang mau berkarunia sharing pengalaman dan karunia yang pernah diterimanya dari Srila Sripada Maharaj, mohon berbagi, kirimkan Sripada Nectar Anda ke sripada.nectar@gmail.com

Popularity: 31% [?]

Oleh

Dvibhuja Das

Pada tahun 2005 GM ‘mendadak’ datang ke Bali untuk melaksanakan sebuah tugas dan misi yang penting, yaitu mendirikan Bhaktivedanta Institute (BI) secara resmi di Indonesia. BI merupakan sebuah wadah untuk mengajarkan atau menyajikan Kesadarn Krishna atau Pengetahuan Spiritual Veda dan Vedanta secara ilmiah atau menggunakan terminology atau istilah-istilah ilmiah, dengan tujuan Kesadaran Krishna lebih mudah diterima dikalangan Akademisi, Ilmuwan dan Intelektual. Karena kalangan ini merupakan para pemimpin dalam masyarakat jadi merupak sesuatu yang penting untuk mengajarkan pengetahun spiritual dikalangan mereka. Karena menurut Bhagavad-gita apa yang dilakukan oleh orang besar akan diikuti oleh orang biasa.

Sebenarnya pengajaran ilmiah BI sudah ada sebelumnya di Indonesia, karena sejak kedatangan GM berbagai program Preachingnya, beliau sudah banyak mengadakan preaching atau menyajikan Kesadaran Krishna ini secara ilmiah baik dengan seminar atau acara lainnya. Tetapi untuk melaksanakan program ini lebih serius diperlukan sebuah organisasi yang absah di mata Hukum dan Negara, maka pada tahun ini GM datang ke Bali khusus untuk tujuan itu. Dari kejadian ini kita dapat merasakan bahwa betapa GM ingin murid-muridnya dan para penyembah lainnya untuk semakin serius dan bekerja keras melakukan usaha ini.

Setelah penyambutan yang meriah di Radha Rasesvara Ashram, akhirnya beliau menginap di Rumah pr. Ramvallbha untuk lebih konsentrasi merumuskan draft BI. GM mengundang beberapa penyembah senior dan beberapa murid lainnya terutama yang memiliki latar belakan akademik untuk datang mendiskusikan hal ini bersama-sama.

Saya masih ingat waktu itu, di ruang sannyasa, di Radha Rasesvara Ashram, ketika selesai acara penyambutan, ada beberapa penyembah darsan. Dan tentunya pembicaraan mengenai kerja yang akan dilaksanakan di rumah pr Ram. Pada waktu itu salah satu yang ada di sana yang saya ingat adalah Nityanada Ram pr, setelah “basa-basi” sebentar akhirnya GM mengatakan kepada Nitnyanda Ram pr, “Kamu datang ntar ya, ke rumah Ramavallabha, saya akan berikan banyak perintah padamu”. Akhirnya besoknya (atau malam itu juga) rumah Pr Ram. berubah menjadi temple-setidaknya selama lima hari berturut-turut- hawanya sangat lain, sungguh berbeda dari biasanya, sungguh-sungguh menjadi temple, begitu rohani dengan kehadiran seorang sadhu, sungguh beruntung Pr Ram beserta keluarga.

Akhirnya pada salah satu harinya, mungkin satu hari sebelum keberangkatan beliau ke India. Seperti hari-hari bisanya Pada waktu itu, Guru Maharaj (GM) dan para penyembah yang mengkonsep draft BI tersebut begadang sampai larut malam bahkan subuh. Saya tidak tahu persis karena saya tidur duluan di lantai satu sekitar jam 12 lebih dan saya mendengar GM bekerja bersama tim BI yang lain sampai jam empat pagi lebih.

Paginya setelah mandi saya langsung naik ke lantai atas dimana GM berada. Waktu itu saya berpikir GM masih istirahat karena baru jam empat pagi selesai bekerja dan kemungkinan besar baru jam setengah lima atau jam limaan beliau baru bisa tidur  oleh karena itu pukul 7 wajar saja GM masih istirahat, saya pikir begitu. Tetapi ternyata GM sudah bangun duluan daripada saya. Woww… ketika saya tiba di atas, setelah sujud, di depan altar saya bertanya kepada para penyembah GM dimana. Ohhh ternyata GM sedang dipijit oleh beberapa penyembah di ruang belakang lantai 2, di rumah Prabhu Ramavallabha.. Kalo tidak salah inget beberapa penyembah yang ada pada waktu itu adalah Pr. Vidhu, bapaknya Pr. Maharasika dan Adikarta prabhu-anak prabhu Ram.

Setelah sujud, saya ikut mijit GM bersama dengan penyembah-penyembah yang lain. Setelah beberapa waktu GM menceritakan pada waktu beliau selesai kerja lembur sepanjang malam dan baru selesai subuh, dan ketika beliau keluar kamar beliau mendengar burung yang menyanyikan suatu lagu, suatu lagu yang persis sama yang pernah beliau dengar sekitar sepuluh tahun yang lalu di Bombay, India, ketika beliau sedang menjalani operasi batu ginjal. Saya tidak begitu ingat waktu itu, apakah ada burungnya juga pada jam tujuh itu atau tidak. Tetapi yang pasti pas beliau selesai kerja itu ada suara burung menyanyikan suatu lagu, suatu lagu yang sama seperti apa yang pernah disampaikan oleh burung ketika beliau berada di rumah sakit Bombay. GM mengatakan burung itu mengatakan atau menyampaikan sebuah pesan rohani yang berbunyi, “Krishna adalah Pribadi Tuhan Yang Maha Esa.” Pada waktu GM menceritakan hal ini saya hanya manggut-mangut saja, saya begitu bodoh tidak  berani menjawab atau bertanya sesuatu, padahal mungkin kalo saya bertanya akan ada nectar lain yang akan keluar dari bibir-padma beliau. saat itu karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, matahari sudah muncul di ufuk timur dan memang ada kebetulan beberapa burung yang sedang hinggap di dahan pohon di depan rumah Pr Ramvalaba (saya tidak begitu ingat pohon apa, mungkin pohon kamboja. Pohon ini karena tinggi dapat dilihat dengan mudah dari lantai dua, dimana GM dan kami berada). Pada waktu itu disamping karena bahasa ingris pas-pasan dan pikiran bodoh, jadi saya tidak begitu mengerti apa yang diceritakan oleh GM, saya sempat berpikir, apakah burung ‘biasa’ yang sedang rame itu yang dimaksud’ ah bukan karena jelas GM mengatakan, tadi pagi ketika selesai bekerja, ahh apa maksudnya, ah saya hanya manggut-manggut saja. Saya baru menyadari bahwa ini adalah cerita yang menarik dan luar biasa ketika GM mengulangi cerita pagi itu di Bedugul (GM dan para penyembah siang itu pergi ke bedugul piknik dan bhajan,) tiba-tiba disana beliau mengatakan hal yang sama:

“….When I came to Bali, in the morning I always heard a beautiful music from a little birds that always come near me and sing a beautiful song that reminds me the Vaikuntha planet. In another day when we working a whole night…we re left  after four o’clock in the morning, and when I come out from the door I saw a beautiful bird singing  little far and he was singing; “Swamiji….in the birds song but the song says in English that, “Krsna is The Supreme Personality of Godhead”. So, I heard the same song, the same music about 10 years ago when I had a little operation a removement of stone and I spend some days in Bombay. But in Bombay by next of my room there’s was a coconut tree, Bombay is also like Bali. And in that coconut tree, this little bird come every day, every day early in the morning I heard the same song, “Swamiji…Krsna is The Supreme Personality  of Godhead”. So what I heard the same song another day in Bali, o…this is a message…message, a bird from Vaikunta planet. Therefore, that Krsna Consciousness is the culture of Vaikuntha, people in Vaikunthaloka.”[1]

Besokmya lagi burung yang sama datang pas ngetik di rumah Pr Ram, waktu itu di ruang kerja PR Ramvallabha, Nityananda Ram Pr dan Trata Pr, sedang melayani GM ketik Draft BI Foundation. Pada waktu itu GM mengatakan kepada mereka berdua, “Kalian dengar suara burung itu, burung itulah yang saya ceritakan kemarin”. Wah ternyata saya baru menyadari ketika kami memijit GM itu ternyata benaran, wah saya baru terharu ternyata sempat mendengar cerita yang luar biasa, tadinya saya berpikir itu adalah cerita iseng-iseng GM, ahh dasar otak ini masih penuh dengan kotoran. Ternyata burung itu, burung yang diceritakan pertamkali pagi-pagi itu adalah burung yang membawa pesan dari Vaikuntha.

Setahun kemudian GM pulang ke Angkasa Vaikuntha, ke Planet Goloka Vrindavan. Itukah makna dari nyanyian burung itu, itukah pesan yang menandakan Radha dan Krishna akan segera memanggil pelayan kesayangannya, untuk segera pulang?


[1] Dikutip dari dari ceramah GM di bedugul, yang direkam dan ditrancribe oleh Nityananda Ram Pr.

Popularity: 45% [?]

This is the secret of success: if one is following the orders of the spiritual master very sincerely everything will be in order. If one does not do that then there will be lot of troubles to come

Srila Sripada february 2006, pelajaran  diksa,  Sri Navadvipa

Ini adalah rahasia sukses: jika seseorang mengikuti perintah-perintah guru kerohanian dengan sangat tulus, maka segala sesuatunya akan menjadi datang atu teratur dengan sendirinya. Jika seseorang tidak melaksanakannya maka akan ada banyak masalah yang akan datang.

Srila Sripada

Februari 2006. pelajaran diksa di Sri Navadvipa Dham

The  order of the spiritual master is the active principle in spiritula life. Anyone who disobeys the order of the spiritual master immediately becomes useless

(Cc Adi 12.10)

Perintah sang guru kerohanian merupakan suatu prinsip yang aktif dalam kehidupan spiritual. Siapa pun yang tidak menaati perintah guru kerohanian maka segera itu ia menjadi (murid) yang tidak berguna.

(Cc Adi 12.10)

Ketika kita merasakan perpisahan dari Krishna atau Guru Kerohanian, sebaiknya kita hanya mencoba mengingat kata-kata yang menjadi perintahnya dan kita tak lai merasakan perpisahan itu.

(Namamrita 2b.15)

Guru kerohanian hidup selamanya dengan perintah-perintah sucinya dan para pengikut hidup bersamanya

(surat Srila Prabhupad kepada Citrananda 11/15/73)

Popularity: 64% [?]

Class by,

Sri-Srimad Bhaktisvarupa Damodara Svami Sripada Maharaja

Pesraman Sri-Sri Radha-Rasesvara, November 28, 2003

ahimsaya paramahamsya-caryaya

smrtya mukundacaritagrya-sidhuna

yamair akamair niyamais capy anindaya

nirihaya dvandva-titiksaya ca

ahimsaya—dengan tanpa kekerasan, paramahamsya-caryaya—dengan cara mengikuti langkah-langkah para acarya yang mulia; smrtya—dengan mengingat; mukunda—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; acarita-agryta—semata-mata mengajarkan tentang kegiatanNya; sidhuna—dengan minuman kekekalan; yamah—dengan mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur; akamah—tanpa keinginan-kieinginan material; niyamah—dengan mengikuti peraturan secara ketet; ca—juga; api—pasti; anindaya—tanpa menghina; nirihaya—hidup secara sederhana, bersahaja; dvandva—dualitas; titiksaya—dengan toleransi; ca—dan

TERJEMAHAN

Seorang calon yang ingin maju dalam kerohanian, harus 1) tanpa sifat kekerasan, 2) mengikuti langkah-langkah para acarya yang mulia, harus senantiasa mengingat kegiatan Tuhan Yang Maha Esa yang bagaikan minuman kekekalan, harus mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur, tanpa keinginan material dan sambil mengikuti prinsip yang mengatur, ia tidak boleh menghina orang lain. Seorang penyembah harus hidup dengan sangat sederhana dan tidak terganggu oleh dualitas unsur-unsur yang bertentangan. Ia harus belajar untuk mentolelirnya. (SB. 4.22.24)

Penjelasan

Ahimsa = Tanpa Kekerasan

Para penyembah sebenarnya adalah orang suci, sadhu. Kualifikasi pertama  seorang sadhu, atau penyembah adalah ahimsa, atau tanpa sifat kekerasan. Orang-orang yang tertarik kepada jalan pelayanan bhakti, atau tertarik pulang ke dunia rohani, kembali kepada Tuhan, pertama-tama harus mempraktekkan ahimsa-sifat tanpa kekerasan. Seorang sadhu dijelaskan sebagai titiksayah karunikah (Bhag. 3.25.21). Seorang penyembah harus selalu bersifat toleransi dan kasih sayang terhadap orang lain. Sebagai contoh jika ia sendiri mengalami penderitaan pribadi ia harus mentolerirnya. Seluruh dunia dipenuhi dengan kekerasan dan urusan pertama seorang penyembah adalah menghentikan kekerasan ini termasuk pemotongan binatang yang tidak di perlukan. Seorang penyembah adalah kawan bukan hanya bagi umat manusia tetapi juga seluruh mahluk hidup, karena ia melihat seluruh makhluk hidup sebagai anak-anak dari Tuhan Yang Maha Esa. Ia tidak menganggap dirinya sendiri sebagai anak tunggal dari Tuhan dan membiarkan yang lainnya dibunuh, dengan berfikir bahwa mereka tidak mempunyai roh. Filsafat seperti ini tidak pernah disetujui oleh seorang penyembah-murni Tuhan. Suhrdah sarva-dehinam: seorang penyembah sejati adalah kawan bagi seluruh makhluk hidup. Krsna menyatakan dalam Bhagavad-gita bahwa DiriNya adalah Ayah semua jenis makhluk hidup, maka itu seorang penyembah Krsna senantiasa sebagai teman bagi semua makhluk hidup. Itulah yang di namakan ahimsa. Sikap tanpa kekerasan seperti itu hanya akan bisa dipraktekkan apabila kita mengikuti langkah-langkah para acarya-acarya yang mulia dari empat sampradaya, atau garis perguruan.

Paramahamsa Caryaya

Berusaha untuk maju dalam kehidupan rohani diluar garis perguruan adalah lucu atau menggelikan saja. Oleh karena itu dinyatakan, acaryavam puruso veda: orang yang mengikuti garis perguruan para acarya mengetahui hal-hal dengan sebenarnya (Candogya Up. 6.14.2). Tad-vijnartham sa gurun evabhigacchet: untuk bisa mengerti ilmu pengetahuan rohani, orang harus mendekati guru kerohanian yang dapat dipercaya (Mundaka Up. 1.2.12). Kata smrtya adalah sangat penting dalam kehidupan rohani. Smrtya berarti mengingat Krsna senantiasa. Hidup harus diatur sedemikian rupa sehingga orang tidak bisa tahan tanpa berpikir tentang Krsna. Kita harus hidup di dalam Krsna sehingga ketika sedang makan, sedang tidur, berjalan dan bekerja kita akan tetap berada hanya di dalam Krsna. Masyarakat kesadaran Krsna kita menasehatkan supaya kita mengatur kehidupan kita sehingga kita bisa selalu mengingat Krsna. Dalam masyarakat ISKCON kita para penyembah sambil sibuk membuat dupa Dunia Rohani, juga sibuk mendengar tentang kemuliaan Krsna dan para penyembahNya. Sastra menganjurkan, smartavyah satatam visnuh: Tuhan Visnu harus senantiasa diingat secara terus menerus. Vismartavyo na jatucit: Visnu tidak boleh dilupakan. Itulah cara hidup rohani. Smrtva, ingatan kepada Tuhan ini bisa terus-menerus apabila kita mendengar tentang Beliau senantiasa. Oleh karena itu disarankan dalam ayat ini: mukundacaritagrya sidhuna. Sidhu berarti “minuman kekekalan”. Mendengar tentang Krsna dari Srimad Bhagavatam atau Bhagavad-gita atau kitab suci yang asli yang serupa adalah hidup dalam Kesadaran Krsna. Konsentrasi dalam Kesadaran Krsna seperti itu bisa dicapai oleh orang-orang yang mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur secara ketat. Kita telah menganjurkan dalam gerakan masyarakat Kesadaran Krsna kita agar seorang penyembah mengucapkan nama suci Tuhan sebanyak enam belas putaran japa mala dan mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur. Itu akan membantu penyembah menjadi mantap dalam kemajuaan rohani di dalam hidupnya.

Yama = Mengendalikan Indria-indria

Di dalam ayat ini juga dinyatakan bahwa orang akan bisa membuat kemajuan dengan cara mengendalian indria-indria (yamaih). Dengan mengendalikan indria-indria, orang bisa menjadi svami atau gosvami. Oleh karena itu orang yang memperoleh gelar luar biasa, svami atau gosvami, harus mengendalikan indria-indrianya dengan ketat sekali. Sesungguhnya, ia harus menjadi penguasa indria-indrianya. Hal ini mungkin jika seseorang tidak menginginkan kenikmatan indria-indria material. Jika secara tidak di sengaja, indria-indrianya itu ingin bekerja secara bebas maka ia harus mengendalikannya. Jika kita semata-mata berlatih menghindari kepuasan indria-indria, pengendalian indria-indria akan secara otomatis tercapai.

Anindaya = Tidak Mengkritik

Hal penting lainnya yang disebutkan dalam hubungan ini adalah anindaya, kita tidak boleh mengkritik cara-cara keagamaan orang lain. Ada beraneka macam sistem keagamaan yang bekerja di bawah sifat-sifat alam yang berbeda-beda. Sistem-sistem keagamaan yang bekerja di bawah sifat-sifat kebodohan dan nafsu tidak bisa sesempurna sistem keagamaan dalam sifat kebaikan. Dalam Bhagavad-gita segala sesuatu telah dibagi menjadi tiga bagian menurut sifat-sifatnya, oleh karena itu sistem keagamaan di golong-golongkan dengan cara yang serupa. Apabila orang-orang kebanyakan berada dibawah sifat-sifat nafsu dan kebodohan maka sistem keagamaan mereka akan tergolong ke dalam sifat yang sama. Seorang penyembah, daripada mengkritik sistem-sistem keagamaan seperti itu, sebaliknya ia akan menyemangatkan para pengikut sistem keagamaan itu untuk terikat kepada prinsip-prinsipnya sehingga secara berangsur-angsur mereka akan sampai pada tingkat sistem keagamaan yang dalam sifat kebaikan. Semata-mata dengan mengkritiknya pikiran penyembah akan bergejolak. Jadi seorang penyembah harus menahan dan belajar untuk menghentikan gejolak itu.

Nirhaya = Hidup Sederhana

Ciri lain seorang penyembah adalah nirihaya, hidup sederhana. Nirihaya berarti “sopan”, “lembut” atau “sederhana”. Seorang penyembah tidak boleh hidup secara mewah dan meniru orang-orang duniawi. Hidup sederhana dan berpikir tinggi disarankan kepada penyembah. Ia harus menerima sebanyak yang diperlukan untuk menjaga badan material tetap sehat untuk melaksanakan pelayanan bhakti. Ia tidak boleh makan dan tidur melebihi yang dibutuhkan. Makan semata-mata untuk hidup, bukan hidup untuk makan, dan tidur hanya enam sampai tujuh jam dalam satu hari merupakan prinsip-prinsip yang harus diikuti oleh para penyembah. Selama memiliki badan material, badan itu tunduk kepada pengaruh perubahan-perubahan iklim, penyakit dan gangguan-gangguan alam, tiga jenis kesengsaraan material. Kita tidak bisa menghindarinya. Kadang-kadang kita menerima surat dari penyembah-penyembah baru yang menanyakan mengapa mereka jatuh sakit walaupun telah mengikuti kesadaran Krsna. Mereka harus belajar dari ayat ini bahwa mereka harus menjadi toleransi (dvandva-titiksavah). Ini adalah dunia dualitas. Orang tidak boleh berpikir bahwa karena ia telah jatuh sakit ia telah jatuh dari Kesadaran Krsna. Kesadaran Krsna bisa berjalan tanpa terhambat oleh halangan material apapun. Oleh karena itu Sri Krsna menasehatkan dalam Bhagavad-gita (2.14), tams titiksva bharata: ‘O Arjuna, berusahalah untuk mentolerir segala gangguan ini. Menjadi mantaplah dalam kegiatan Kesadaran Krsnamu.’

Catatan:

Srila Sripada Maharaj menganjurkan agar semua penyembah membaca sloka ini setiap hari, Brahmacari hendaknya menempel sloka ini di kamar tidur, para Grihasta hendaknya menempel sloka ini di ruang tamu, para penyembah dalam tingkat Vanaprastha dan Sannyasa hendaknya menyimpan sloka ini di kepalanya.

Popularity: 36% [?]

by Srila Bhaktisvarupada Damodara Swami (DR. T.D. Singh, Ph.D)

Let’s sing together

Let’s chant together

Harinama mahamantra

The nectar of kali yuga

Time and tide shall wait for none

All kith and kin

All dear and near one

Will be swept one day

In the current of time

Serving the spiritual master

Worshipping Sri Sri Radha-Shyam

Let’s sing together

Harinama mahamantra

To attain love of God

Popularity: 30% [?]

by Srila Prabhupada


The Following Glories Of Srila Sripada Maharaja was spoken by Srila Prabhupada when he gave Bhagavatam Lecture. This Quote type and sent By Abhimany das.

(Hare Krnsa. I was watching a DVD of Srila Prabhupada giving a Srimad Bhagavatam class (S.B.1.2.17) at New Vrndavan in 1974 and about mid-lecture he was glorifying his disciple Dr. Swarupa Damodara-dasa. I would like to include this excerpt here-Abhimanyu Das)

…”Just like one big scientist,our disciple, Dr. Swarup Damodar-dasa, M.S., Ph.D. He as dedicated his very advanced scientific book, we cannot even utter the words! He is a big scientist, advocated by many universities. Harvard University, Calcutta University. Here in Boston University and then again, California University. He is not ordinary man, but he admits in his dedication that: “I dedicate this book to my spiritual master, A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, because he has given me the real knowledge that Krsna is the origin of everything.” Now, I am not a scientist, but I could teach a scientist, or convince him, that Krsna is the origin of everything. Unless he is convinced that Krsna is the origin of everything, how he has written this? So many scientist will challenge him, but he is prepared to accept the challenge. So, how it was possible for me to convince a big scientist? The fact is, as I have stated, that if you understand Krsna then you can teach even the greatest scientist, the greatest philosopher, the greatest politician, everybody. That is Krsna Consciousness. You don’t require to be a great scientist to teach a great scientist. But if you simply understand Krsna, then you’ll be able to teach even the greatest scientist, the greatest philosopher, anyone let them come. We shall teach him. We shall become their teacher. We challenge! Why? Because we know a little of Krsna…….Just like this scientist, he has surrendered. His study of science is perfect……”

Srila Prabhupada Ki Jaya!
Srila Sripada Ki Jaya!
Sri Krsna Bhagavan Ki Jaya!

Popularity: 34% [?]

All Glories To Srila Prabhupada

All Glories To Sri Sri Guru and Gaurangga

Dear Devotee, PAMHO

We Would like to Invite All of you to join the Third Srila Sripada Thirobhava Celebration

Please Come and Join With Us.

In Bali, the celebration will be held in Sri Sri Radha Rasesvara Ashram.

for further information, please contac:

Sri Sri Radha Rasevara asrham
Contact Person:
Sundarananda dasa, Sadhu Krishna Dasa
Phone: +62-361-8583403, +62-361-228391,
Mobile: +62 85237400456,
E-mail: bsfestival@yahoo.com, radharasesvara@gmail.com
Website: www.RadhaRaseswara.Com

INDIA CELEBRATION

Please Contact:

Sri Gopalji Mandir &
Srila Sripada Samadhi Mandir
Parikrama Marg, Radhakund-281504
Tel.+91 565 2960372
Mob. +91 9897430910

Your Servant In WWW.sripadanectar.com

Popularity: 47% [?]

A morning discussion WithSrila Bhaktisvarupa Damodara Swami

at Radha Rasesvara Mandir, Bali. Sekitar Bulan Juli 2005

Sripad Maharaj Menyanyikan Lagu Ohe Vaisnava Thakur karya Srila Bhaktivinoda Thakur dan membaca terjemahannya dan memberikan ulasan tentang makna lagu itu.

(1)   ohe! Vaisnava thakura,  doyara sagara,

e dase karuna kori’

diya pada-chaya, sodho he amaya,

tomara carana dhori

(2)   chaya bega domi’,  chaya dosa sodhi’

chaya guna deho’ dase

chaya sat-sanga, deho’ he amare

boshechi sangera ase

(3)   ekaki amara, nahi paya bala,

hari-nama-sankirtane

tumi krpa kori’,  sraddha-bindu diya,

deho’ krsna-nama-dhane

(4) krsna se tomara,   krsna dite para,

tomara sakati ache

ami to’ kangala,   ‘krsna’ ‘krsna’ boli’,

dhai tava pache pache

Sripad Maharaj membaca terjemahan :

(1)

Oh Vaishnava Thakura, Oh Lautan Karunia,

tolong memberi karunia kepada hambamu ini,

sucikan diriku,dengan perlindungan kaki-padmamu.

Aku memegang kaki-padmamu dengan rendah-hati.

(2)

Kendalikanlah enam dorongan ini

sucikanlah diriku dari enam kesalahan.

Berilah hambamu ini enam sifat baik.

Berilah hamba enam jenis pergaulan suci.

Aku duduk disini mengharapkan pergaulanmu.

(3)

Sendirian hambamu ini tidak mempunyai kekuatan,

untuk mengucapkan Nama Suci Sri Hari, Nama Suci Tuhan.

maka itu, tolonglah bermurah hati, dengan sebutir keyakinan,

berikan aku harta-karun-besar berupa Nama suci Krishna.

(4)

Wahai Vaisnava thakura, Krishna adalah milikmu.

Engkau mampu memberikan Krishna kepada-ku.

Begitulah kekuatanmu. Dan aku memang hina !

hanya mengejarmu, seraya berseru, “Krishna! Krishna!”

Read the rest of this entry »

Popularity: 67% [?]

Diceritakan oleh Nataraja Prabhu

Srila Sripada adalah Kombinasi yang unik antara, Rohaniawan, Ilmuwan, dan Seniman. Khususnya dalam bidang Seni, beliau sangat lihai dalam menulis dan menyanyikan lagu rohani. Beliau juga sangat pandai dalam memainkan berbagai alat musik sperti mridangga, harmonium, kartal, tambora dan berbagai alat musik lainnya. Mungkin hal ini beliau warisi dari ayahnya, khususnya, dan dari tradisi Gaudiya Vaishnava Manipur pada umumnya. Oleh karena itu tak salah perhatian beliau terhadap dunia seni begitu besar, karena seperti halnya bidang ilmu lainnya, seni dan budaya terlebih lagi, sangat bisa dipersembahkan sebagai persembahan kepada Tuhan. Hal ini sangat dirasakan salah seorang penari kawakan penyembah Bali, Nataraj Prabhu. Nataraj Pr. sangat berkesan kepada Srila Sripada Maharaj. Beliau merasakan Read the rest of this entry »

Popularity: 33% [?]

by Sri Srimad Bhaktisvarupa Damodara Swami Srila Sripada Maharaja

(The Following writing of Srila Sripada was originally a Vyasa-puja offering  to Srila Prabhupada Offered on his 97th appearance anniversary. Here we post as lecture, because Srila Sripada always instruct that we should now how to preach the message of the Vedas, the messages of  Krishna Conciousness according to time, place and circumstances. he said that we should learn The Art of Preaching. we also heard that Srila Sripada Maharaj has written a paper with the same title “The Art of Preaching”. Anybody who knows that paper please share with us-dbd)

Om ajnana-timirandhasya jnananjana-salakaya

Caksur unmilitam yena tasmai sri-gurave namah

Nama om visnu-padaya krsna-presthaya bhu-tale

Srimate bhaktivedanta-svamin iti namine

Namas te sarasvate deve gaura-vani-pracarine

Nirvisesa-sunyavadi pascatya-desa-tarine

My dear respected Vaisnavas,

On this most auspicious day of the glorious Vyasa-puja celebration of His Divine Grace  Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, let me speak something about the art and science of preaching Krishna Consciousness to the public at large-scientists, scholars, everyone in the light of the teachings and examples set forth by Srila Prabhupada and parampara.

The goal of preaching is to bring everyone to Krsna consciousness. From the accounts of the preaching encounter of Lourd Caitanya Mahaprabhu with Prakasananda Sarasvati and Sarvabhauma Bhattacarya, we can learn a great deal about how to preach:

prabhura mista-vakya suni sannyasira gana

citta phiri gela, kahe madhura vacana

“After hearing Lord Sri Caitanya Mahaprabhu, all the mayavadi sannyasis were moved. Their minds changed, and thus they spoke with pleasing words” (Caitanya-caritamrta, Adi-lila 7.99)

In this purport Srila Prabhupada writes:

“The Mayavadi sannyasis met Caitanya Mahaprabhu at Varanasi to criticize the Lord regarding His participation in sankirtana movement, which they did not like. This demoniac nature opposition to the sankirtana movement perpetually exists. As it existed in the time of Sri Caitanya Mahaprabhu, similarly it existed long before that, even in the time of Prahlada Maharaja…..”

“Impersonalist Mayavadis always try to defy Vaisnavas because Vaisnavas accept the Supreme Personality as the Supreme cause and want to serve Him, talk with Him and see Him, just as the Lord is also eager to see Him devotees and talk, eat and dance with them. This personal exchanges of love do not appeal to the Mayavadi sannyasis. Therefore the original purpose of the Mayavadi sannyasis of Banares in meeting Caitanya Mahaprabhu was to defeat His personal conception of God. Sri Caitanya Mahaprabhu, however, as a preacher, turned the minds of the Mayavadi sannyasis. They were melted by the sweet words of Sri Caitanya Mahaprabhu and thus became friendly and spoke to Him also in sweet words. Similarly, all preachers will have to meet opponents, but they should not make them more inimical. They are already enemies, and if we talk with them harshly or impolitely their enmity will merely increase. We should therefore follow in the footstep of Lord Caitanya Mahaprabhu as far as possible and try to convince the opposition by quoting from the sastras and presenting the conclution of the acaryas. It is in this way that we should try to defeat all the the enemies of the Lord.”

In the Caitanya-caritamrta, Madhya-lila, Chapter Six, starting with verse 123, this is a long discussion between Lord Sri Caitanya Mahaprabhu and Sarvabhauma Bhattacarya that runs as follows:

Trus for seven days continuously, Sri Caitanya Mahaprabhu listened to the Vadanta philosophy expounded by Sarvabhauma Bhattacarya. However, Caitanya Mahaprabhu did not say anything and did not indicate whether it was right or wrong. He simply sat there and listened to the Bhattacarya.

On the eighth day, Sarvabhauma Bhattacarya said to Caitanya Mahaprabhu: “You have been listening to the Vedanta philosophy from me continuously for seven days. You have simply been listening, fixed in Your silence. Since you do not say whether you thing it is right or wrong, I cannot know whether you are actually understanding Vedanta philosophy or not.”

Sri Caitanya Mahaprabhu replied: “I am a fool, and consequently I do not study Vedanta-sutra. I am just trying to hear it from your because you have ordered Me. Only for the sake of executing the duties of the renounced order of sannyasa do I listen. Unfortunately, I cannot in the least understand the meaning you are presenting.”

Sarvabhauma Bhattacarya replied: “I accept that You do not understand, yet even one who does not understand  inquer about the subject matter. You are hearing again and again, yet You keep silent. I cannot understand what is actually within You mind.”

Sri Caitanya Mahaprabhu then revealed His mind, saying: “I can understand the meaning of each sutra very cleanly, butyour explanation have simply agitated My mind.’ Thus Sri Caitanya Mahaprabhu critized Sankaracarya’s Sarirakabhasya as imaginary, and he pointed out hundreds of faults in it.  To defend Sankaracarya, however, Sarvabhauma Bhattacarya presented unlimited opposition. The Bhattacarya presentsd various types of false arguments with pseudologic and tried to defeat his opponent in many ways. However, Sri Caitanya Mahaprabhu refuted all these arguments and established His own conviction.”

Thus we can see that the dealings are in friendly manner filled with mutual respect. When this relationship of mutual respect is established, the philosophy can be presented  with full force and without any compromise.

If the preacher has the opportunity to present humbly the science and philosophy of Krsna consciousness, this is the most preferable avenue of approach. This is visible in Prabhupada’s own instructions in the morning walk conversation that follows, which took place in Nairobi, Kenya, on October 28, 1975:

Prabhupada: Wherever you go, you gather people and induce them by flattering them, by falling on their leg-some way or other, induce them, dante nidhay trnakam padayor nipatya [Sri Caitanya-candramrta 8.90]. this is the process shown by Prabhodananda Sarasvati, “Taking a straw in my mouth and falling down on your lotus feet.” kaku-satam krtva: “And I am trying to please you by so many flattering words.” Krtva aham bravimi: “I have got some submission….” This is the process…

Read the rest of this entry »

Popularity: 58% [?]

Diceritakan Oleh M.Yohana

Mataji Yohana adalah salah satu Penyembah Krishna dari kalangan etnis Tionghoa di Indonesia. Sekarang ia dan suaminya banyak melakukan pelayanan sebagai pengajar dan konsultan di Bhaktivedanta Dharma School (BDS), Denpasar Bali. BDS didirikan sebagai kelanjutan Perintah Srila Sripada Maharaj.  Mataji Yohana dan suaminya Saksi-Gopal Prabhu adalah pengikut dan pelayan Srila Sripada yang sangat loyal. Mereka sangat banyak merasakan berkat dari Srila Sripada, bahkan pernikahan mereka diberkati secara pribadi oleh Srila Sripada. Khususnya mataji Yohana yang lebih jauh belakangan mengenal ajaran Kesadaran Krishna (Bhakti Yoga) daripada prabunya, namun dedikasinya dan keyakinannya kepada Guru dan Krishna sangat mengherankan kami, sampai suatu saat Mataji Yohana menceritakan pengamalannya yang menyentuh yang banyak mengubah kehidupannya, yaitu berkat karunia seorang sadhu, Penyembah Murni Krishna.

Yohana mtj: “Untuk pertemuan dengan Srila Sripada Maharaja, saya pertama kali darsan dengan beliau di rumah salah seorang penyembah di Singapura. Waktu beliau lewat semua penyembah sujud, tapi saya tidak, saya berdiri karena waktu itu saya baru jadi penyembah dan tidak tahu apa-apa, ketika beliau lewat di depan saya beliau tersenyum dan menyapa saya. kamu dari mana? Dan saya mengatakan saya dari indonesia. Sekarang setelah saya tahu etika vaisnava saya sangat merasa malu saat itu, dan disana saya melihat toleransi beliau yang begitu besar pada saya. Waktu kami ke India, setelah parikram di Jaganatha puri, kami persad, mungkin karena Beliau tahu kami, Beliau sengaja menghampiri kami dan menanyakan bagaimana persadnya? Beliau sangat perhatian…”

Demikianlah Toleransi dan perhatian Sripada Maharaj, sehingga bisa mengubah dan menyentuh hati seseorang.

Edited by www.sripadanectar.com

Popularity: 30% [?]

Oleh Nritya Rasikani Dasi

Ketika Sripada Maharaja menginjakkan kaki-padma beliau di Bali untuk pertama kalinya, saat itu saya berada di luar Bali. Ayah banyak bercerita tentang Sripad Maharaja. Saya berbagi cerita tersebut pada beberapa penyembah di Krsna Consciousness Centre dekat tempat saya tinggal. Ketika saya menyebut nama Sripad Maharaja, mata mereka berbinar sebagai reaksi spontan, dengan senyum mengembang mereka serta-merta berkata betapa beruntungnya ayah saya dapat bertemu Sripada Maharaja. Reaksi para penyembah tadi yang tampak lebih mirip mendadak berada dalam kebahagian rohani hanya dengan mendengar nama Sripad Maharaja, meninggalkan keheranan dalam benak saya. Hingga suatu saat saya kemudian paham mengapa hanya dengan mendengar nama Sripada Maharaja, kesejukkan terhantarkan bagi mereka yang pernah bertemu dengannya.

Ialah suatu malam pada kunjungan kedua Sripada Maharaja di Bali, ketika satu dari banyak karunia tanpa sebab terjadi, untuk pertama kalinya saya bertemu beliau. Lima belas menit sudah kirtan di pelataran parkir berkumandang sebelum Sripada Maharaja tiba di temple. Para penyembah bersiap dengan bunga di tangan untuk menyambut Sripada Maharaja. Sripada Maharaja pun tiba, turun dari mobil, tidak menampakkan kelelahan di wajah padmanya meski perjalanan ke Bali tentu menguras energi, senyumnya bersahaja, kedua tangannya dicakupkan membalas setiap sujud para penyembah. Saya meleleh seketika, untuk pertama kalinya saya terhenyak begitu rupa oleh kehadiran seorang sadhu, kali ini seorang sadhu tanpa cela. Tidak mungkin mengabaikan kata hati yang mengatakan, inilah jiwa agung yang berkarunia, amat termahsyur dan dimuliakan di tiga bhuwana.

Setiap kali terhenyak melihat kerendahan hati Sripada Maharaja ketika mencakupkan tangan untuk membalas sujud para penyembah, setiap kali tergetar mendengar vibrasi rohani dari bibir-padmanya, setiap kali merasa sejuk yang tak terkira melihat senyum bersahaja dan tutur kata yang meneduhkan, tiap kali itu pula hati selalu berkata Sripada Bhaktisvarupa Damodara Maharaja adalah jiwa agung yang bermurah hati turun dari planet rohani untuk menyelamatkan para jiwa yang jatuh. Betapa setiap inci langkahnya sanggup menentramkan seluruh dunia.

Sehubungan dengan pembauran antara penyembah dengan penduduk tempat ia tinggal maka suatu kali seorang penyembah bertanya kepada Sripada Maharaja, “Apa yang harus kita lakukan ketika odalan di desa tiba? Apa bersembahyang ke pura untuk menyembah para dewa diperkenankan dalam Kesadaran Krsna?” Sripada Maharaja menjelaskan bahwa dewa-dewa juga penyembah Sri Krishna (Tuhan Yang Maha Esa-ed). Menghormati dan menghaturkan sembah sujud kepada penyembah tentu tidak melanggar prinsip dalam Kesadaran Krishna. Adalah Dewa Shiva, yang diberi gelar vaisnavanam yatha sambhu-dalam Kitab Suci Veda, yang berarti Vaishnava yang paling mulia di antara para vaishnava. Kepada Dewa Shiva kita dapat memohon karunia beliau, untuk bermurah hati membimbing kita agar dapat mengikuti jejak beliau sebagai Vaishnava yang agung. Setiap kata dari bibir-padma Sripada Maharaja menjelma nyanyian yang membawa damai yang begitu mudah merembes lalu terserap dalam tiap pori di alam semesta manapun. Jaya Sripada Bhaktisvarupa Damodara Maharaja!

Edited By www.sripadanectar.com

send your stories, memories, remembrance of Srila Sripada Maharaj to sripada.nectar@gmail.com

Popularity: 30% [?]

Diceritakan Oleh Anuradha Dasi

Saat lima hari kedatangan Guru Maharaja, saya dan beberapa mataji membantu mataji Sakkhi-Gamini untuk mempersiapkan prsadam di rumahnya. Karena pada waktu itu, Guru Maharaja (GM) dengan beberapa penyembah sedang mengerjakan draf BI Foundation di rumah Ramavallabha Pr.

Karena saya seorang mataji, jadi saya tidak (begitu mudah) mendapatkan kesempatan untuk dapat kontak langsung dengan beliau. Waktu itu, saya merasa sangat sedih karena tidak dapat dharsan dengan beliau, karena beliau sangat sibuk. Saya merasa GM sangat dekat, GM di lantai dua, sedangkan saya di lantai satu mempersiapkan persad. Tapi untuk dapat darsan dengan beliau sangat sulit, bahkan untuk sujud pun saya melakukannya di luar kamar.

Saya mempersiapkan persad, waktu itu saya sedang memotong kangkung sambil menangis karena saya merasa tidak beruntung, tidak dapat darsan dengan beliau. Saya berdoa Krishna, “GM dekat dengan saya tapi saya sangat tidak beruntung untuk memperoleh darsan dengan beliau.”

Pada waktu sore hari, karena pekerjaan saya untuk mempersiapkan persad sudah selesai, saya pergi ke atas (lantai 2) untuk dapat melihat beliau. Saat saya menaiki tangga, saya melihat GM bolak-balik keluar masuk kamar. Tapi tiba-tiba, pandangan kami bertemu dan bertatapan. GM berhenti dan duduk. Saya degdegan seperti bertemu dengan siapa…

Kemudian beliau bertanya kepada Prb, Trata “Apakah saya harus menyampaikan sesuatu di depan penyembah dan murid-murid saya?” Prb. Trata berkata “Mungkin tidak Maharaj karena kita harus mengerjakan pekerjaan…” Tapi GM melihat ke saya, dan waktu itu saya menangis. Kemudian GM duduk dan berkata, “Oke. Saya akan bicara lima menit. Saya senang berada di sini, saya minta maaf karena saya tidak banyak dapat berbicara terlalu banyak dengan murid-murid dan penyembah di sini, karena saya harus menyelesaikan Draf BI dan besok harus sudah selesai.” Saya menangis, dan kita semua dapat menerima apa yang beliau sampaikan karena akhirnya beliau memberikan kesempatan untuk darsan karena sebelumnya beliau sangat sibuk.

interviewed by Bhaktin Diah

Edited by www.sripadanectar.com

Bagi yang mau share cerita dan pengalamannya, silahkan mengirim email ke sripada.nectar@gmail.com

Popularity: 54% [?]

Diceritakan Oleh Anuradha Dasi

Kita sudah sering mendengar bahwa seorang Guru Kerohanian, seorang Guru yang bonafide, sangat mudah mengerti hati pelayannya. Seorang Guru juga menerima sekecil apa pun pelayanan yang dilakukan oleh para pelayannya. Beliau tidak pernah menilai pelayanan seseorang berdasarkan ukuran materi yang dipersembahkan. Beliau menghargai setiap pelayanan, seperti yang pernah diceritakan oleh Anuradha Dasi sebagai berikut:

“Semua kebersamaan dengan Guru Maharaja (GM) sangat berkesan. Pada waktu saya ngiring beliau ke lombok, saya tahu GM sangat suka dengan jus Guava (jambu biji). Penyembah yang lain tidak tahu itu. Pada saat itu GM akan persad. Dan waktu itu saya dengan Dvibhuja berusaha untuk mencari buah Guava. Pertama kali Dvibhuja datang membawa buah guava yang kecil, layu, kuning. Saya bilang, ‘Prb. Kok kecil-kecil mana bisa dipake untuk buat jus, harus cari yang segar dan besar. Ayo cari lagi, GM sudah akan persad.’ Kemudian Dvibhuja mencari lagi sendirian keliling dan kita komunikasi melalui HandPhone. Dan akhirnya didapatkan buah guava yang besar-besar dan segar.

Beliau (Sripada Maharaj) pada waktu itu, tidak tinggal di rumah penyembah, tapi di rumah seorang dokter kandungan. Sehingga persiapan tidak begitu maksimal. Guavanya kita parut, kita saring dengan kain. Dan pada waktu persad (menyantap), GM bertanya, ‘Siapa yang membuat jus ini?’ kita terkejut dan saling bertatapan saya dan Dvibhuja. Ternyata Maharaja tahu apa yang kita lakukan.

Kemudian Dvibhuja berkata, ‘Mbok ndak sia-sia yang kita lakukan, Beliau tahu Jusnya sangat enak karena biasanya beliau disuguhkan jus yang sudah jadi, tidak fresh. Waktu itu kita banyakin airnya dan disaring dengan kain dan dengan sabar menunggu perasan demi perasan, kemudian ditambah gula batu, pandan yang sudah direbus. Sehingga kita bertekad kita tes rasanya nanti setelah beliau persad. Mungkin yang kita lakukan tidak seberapa, melakukan sesuatu yang kecil tapi saat GM melihat, dan tahu dan respon beliau begitu exciting. GM sangat menghargai sesuatu yang kecil, kita jadi tambah semangat. Banyak persad yang beliau nikmati, tapi beliau hanya mengangkat jus itu. Itu merupakan kenangan yang sangat saya ingat dan tak terlupakan.”

Saya sendiri tidak begitu ingat kejadian di atas. Namun saya berterima kasih kepada Mataji Anuradha karena telah memberikan kesempatan untuk ikut bersamanya melayani GM. (DBD)

interviewed by Bhaktin Diah

Edited by www.sripadanectar.com

Popularity: 41% [?]

Oleh Srila Sripada Maharaj

Padang galak, Krishna Balaram Mandir

Setelah bhajan, Srila Sripada Maharaj berbicara singkat sebagai berikut (ringkasan):

Kita semua baru di dalam Kesadaran Krishna. Dengan karunia Srila Prabhupada kita bisa belajar di dalam Kesadaran ini, tetapi misi kita sudah jelas yaitu “Mengerti tujuan kehidupan Manusia” “Seperti Narottam das thakur dalam lagunya sering menjelaskan dirinya  seolah-olah sudah kehilangan jalan hidup dan menginsyafi dirinya bahwa ia belum melayani Tuhan (sebenarnya Narotam das Thakur bukan orang biasa. Begitulah orang maju memposisikan dirinya sebagai seorang jatuh)

Jangan menyia-nyiakan diri.

Jadi buatlkah usaha keras, extra effort, usaha tambahan, jangan hanya santai-santai untuk maju dalam petualangan spiritual ini.

Apakah kesulitannya?

Kesulitannya, kita masih hidup di dunia material ini, alam material ini sulit diatur. Alam materiil ini tersusun atas tiga komponen, kadang-kadang kita masih melakukan banyak kesalahan karena sifat alam ini begitu kuat bagaikan teroris  yang selalu siap menteror setiap saat. Kadang-kadang kita larut dalam berbagai sifat ini, kebaikan, kadang kebodohan kadang dalam sifat nafsu.  Inilah kesulitan yang sedang kita alami dan mesti kita atasi untuk bisa maju lebih lanjut.

Jadi di dalam Kesadaran ini, kita harus mengembangkan vairagya-vidya, yang berarti mengembangkan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah milik krishna.

Seperti dalam sloka Isa upanisad

isaväsyam idam sarvam

yat kinca jagatyäm jagat

tena tyaktena bhunjéthä

mä gådhaù kasya svid dhanam

Everything animate or inanimate that is within the universe is controlled and owned by the Lord. One should therefore accept only those things necessary for himself, which are set aside as his quota, and one should not accept other things, knowing well to whom they belong.

Segala sesuatu yang bergerak maupun tidak bergerak di dalam semesta ini dikendalikan dan dimiliki oleh TUhan. Olehkarena itu seseorang hendaknya hanya menerima segala hal yang benar-benar ia butuhkan, yang memang dijatahkan untuk dirinya, dan seseorang hendaknya tidak menerima hal-hal lain, yang merupakan milik atau hak orang lain.

Sarvam berarti segala sesuatu, tetapi karena keslahpahaman kita, kita sering mengatakan ”ini milik saya, Ini negara Saya,” ini adalah konsep Aku dan Milikku. Ini adalah konsep materiil yang menjadi hambatan maka itu kita harus belajar pelepasan ikatan.

Dalam sistem Varna-ashrama-dharma, yang akhirnya memuncak pada pelepasan ikatan juga, Grihasta-brahmacari juga (melaksanakan) vairagya-vidya, topik ini bisa dijelaskan lebih terperinci pada lain kesempatan.

Saya mencoba untuk melatih berbagai penyembah muda, temple saya yang di Manipur saya sebut sebagai Universitty (University Of Bhagavata Culture) yang direncanakan selesai pada tahun 2007.

Jadi kalian semua bekerja samalah di dalam harmony and trust, tidak masalah ada banyak tempat atau temple, yang penting adalah kerja-sama dan cinta kasih diantara sesama.

Seperti di tempel Krishna Balaram ini, sudah memiliki taman yang bagus. Ada burung berkicaun, mungkin bisa kita tambahkan burung beo, agar bisa diajak ikut manggala arati.

Bayangkan kalau semua orang Bali jadi penyembah (Tuhan). Apa yang akan terjadi? Semua ini hanya dimungkinkan atas kerjasama yang baik. Saya berdoa agar kita semua serius dan memberikan kontribusi pada misi Srila Prabhupada!!

Reported by DBD

Edited by www.Sripadanectar.com

Popularity: 48% [?]

Oleh Dvibhuja Das

100_0795Pada suatu diskusi[1] Sripad Maharaj pernah menanyakan kepada para penyembah, “Apakah resep agar selalu semangat?” Para penyembah memberikan berbagai jawaban; ada yang menjawab dengan cara mengikuti berbagai prinsip-prinsp bhakti, ada yang menjawab dengan membuat ide-ide yang kreatif, ada yang menjawab selalu bergaul dengan para penyembah dan banyak lagi.[2] tentu saja berbagai jawaban itu tidak disalahkan oleh Sripada Maharaj, tetapi Beliau ternyata juga punya jawaban sendiri yang tidak banyak dipikirkan oleh para penyembah, sebuah jawaban yang nampaknya merupakan suatu yang sangat mendasar, sederhana, tetapi sangat penting sebagai fondasi yang kokoh bagi para sadhaka, untuk membangun rumah bhakti-nya.

Jawabannya begitu dekat, tetapi jauh. Dekat karena setiap hari penyembah selalu mengucapkan dan mendoakannya dan jauh karena sering kita masih belum mampu mengamalkannya dengan baik. Jawaban itu tak lain adalah sebuah sebuah baris, dari Doa Sri SiksastakamTrinad api sucicena,” Guru Maharaj (GM) menerjemahkannya sebagai develop genuine humility Kembangkan rasa rendah hati yang sesungguhnya’, yaitu mengembangkan rasa rendah hati yang asli-sejati dan tulus, tanpa kepalsuan dan kepura-puraan, yang tidak hanya sekedar pamer saja rendah-hati, itu yang saya tangkap dalam benak, dari kata-kata GM.

Read the rest of this entry »

Popularity: 33% [?]

Diceritakan oleh Sacirani Dasi

Gour Mohan Prabhu tinggal di Bhubanesvara dan sehari-harinya melakukan pelayanan (bhakti) disana. Ia memiliki jempol-hijau. Apa saja yang ia tanam, pasti tumbuh. Beberapa tahun yang lalu puteranya terbunuh, ia sangat terpukul dan akibatnya Gour Mohan Prabhu kehilangan keyakinannya pada Krishna (Tuhan). Ia meninggalkan pergaulan penyembah dan meninggalkan foto-foto Sri Krishna dan Srila Prabhupada. Namun ia selalu membawa sebuah foto Srila Sripada (Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami-ed) dan tidak lupa ia mempersembahkan bunga setiap hari (kepada Srila Sripada-ed). Beberapa tahun berlalu seperti itu. Beberapa waktu sebelum berpulangnya Srila Sripada, Srila Sripada tiba-tiba meminta Akincana Prabhu untuk menghubungi Gour Mohan Prabhu. Akincana penasaran mengapa Srila Sripada ingin bicara kepadanya padahal ia tidak berhubungan dengan penyembah manapun selama bertahun-tahun. Namun Srila Sripada meminta lagi  untuk menelepon Gour Mohan, lalu Akincana Prabhu mendapatkan contact informationnya dan pergi menemuinya. Seketika Gour Mohan mendengar (lewat Akincana Prabhu) bahwa Srila Sripada mengingatnya, air mata mengucur dari matanya. Lalu Srila Sripada berbicara kepadanya lewat telepon dan memintanya untuk pergi ke Sambalpur dan membantu proyek disana. Segera, Gour Mohan Prabhu  membereskan barang-barangnya. Setelah berpamitan dengan keluarganya, ia berangkat ke Sambalpur bersama Akincana Prabhu. Sejak saat itu ia tinggal di Sambalpur dan melakukan pelayanan yang luar biasa dengan pelayanan kepada arca, dan menanam berbagai pohon buah, sayur-sayauran dan bunga, untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Karena ia tak pernah kehilangan keyakinannya kepada Gurunya, Srila Sripada juga tidak akan pernah kehilangan keyakinan kepadanya.

Translated and Edited by: www.sripadanectar.com

Popularity: 29% [?]