<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sripada Nectar &#187; Vedanta and Science</title>
	<atom:link href="http://www.sripadanectar.com/category/scientific-article/vedanta-and-science-scientific-article/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sripadanectar.com</link>
	<description>All About Srila Sripada (DR. T.D. Singh, Ph.D)</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Nov 2009 16:38:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Vedanta and Science series: Reality of God Existence!</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/vedanta-and-science-series-reality-of-god-existence.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/vedanta-and-science-series-reality-of-god-existence.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 16:38:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book And Publications]]></category>
		<category><![CDATA[Scientific Article]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta and Science]]></category>
		<category><![CDATA[buku vedanta dan sains]]></category>
		<category><![CDATA[kitab vedanta sutra]]></category>
		<category><![CDATA[realitas keberadaan TUhan]]></category>
		<category><![CDATA[scientific exploration on god]]></category>
		<category><![CDATA[seri vedanta dan sains]]></category>
		<category><![CDATA[td singh book]]></category>
		<category><![CDATA[td singh vedanta]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan dan ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan dan sains]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan ilmiah vedanta sutra]]></category>
		<category><![CDATA[vedanta and science rality of god]]></category>
		<category><![CDATA[vedanta dan sains 2]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[

 Apakah keberadaan Tuhan hanya takhayul?
Ataukah sangat Saintifik?
Apakah Tuhan dapat dimengerti dengan Explorasi SAintifik Semata?
Apakah sumber terpercaya tentang TUhan?
Apakah Konsep para Ilmuwan, seperti Einstein tentang Tuhan?
Apakah Peranan kitab suci dalam Riset Ilmiah tentang TUhan?
Apakah Sintesis VEdanta dan SAins itu?
Apakah VEdanta itu bisa diulas secara ilmiah atau saintifik?
TEMUKAN SEMUA JAWABANNYA HANYA DALAM BUKU ini
PErsediaan TErbatas.!!
cepat hubungi: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-373" title="upanishad" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/upanishad-300x176.jpg" alt="upanishad" width="300" height="176" /></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-374" title="vedanta-sc-II" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/vedanta-sc-II1.jpg" alt="vedanta-sc-II" width="100" height="155" /></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-376" title="vedanta and sains2" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/vedanta-and-sains2-199x300.jpg" alt="vedanta and sains2" width="199" height="300" /> Apakah keberadaan Tuhan hanya takhayul?</p>
<p>Ataukah sangat Saintifik?</p>
<p>Apakah Tuhan dapat dimengerti dengan Explorasi SAintifik Semata?</p>
<p>Apakah sumber terpercaya tentang TUhan?</p>
<p>Apakah Konsep para Ilmuwan, seperti Einstein tentang Tuhan?</p>
<p>Apakah Peranan kitab suci dalam Riset Ilmiah tentang TUhan?</p>
<p>Apakah Sintesis VEdanta dan SAins itu?</p>
<p>Apakah VEdanta itu bisa diulas secara ilmiah atau saintifik?</p>
<p>TEMUKAN SEMUA JAWABANNYA HANYA DALAM BUKU ini</p>
<p>PErsediaan TErbatas.!!</p>
<p>cepat hubungi: sripada.nectar@gmail.com atau sms ke 081805681672</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=375&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/vedanta-and-science-series-reality-of-god-existence.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertanya: mencari tahu tentang sesuatu!</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/bertanya-mencari-tahu-tentang-sesuatu.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/bertanya-mencari-tahu-tentang-sesuatu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 15:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scientific Article]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta and Science]]></category>
		<category><![CDATA[arti kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan dan asal mula jagat raya]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan dan evolusi spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[makna dan tujuan kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa saya menderita]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan paling penting]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan terpenting manusia]]></category>
		<category><![CDATA[rasa ingin tahu manusia]]></category>
		<category><![CDATA[siapakah saya apa tujuan saya]]></category>
		<category><![CDATA[tentang kebenaran mutlak]]></category>
		<category><![CDATA[VEdanta dan Sains]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Adalah Keunikan Bentuk Kehidupan Manusia. Pertanyaan apakah yang terpenting?
Oleh TD Singh, Ph.D  Pertanyaan, jijnasa, merupakan sifat-dasar kehidupan. Setiap orang bertanya tentang suatu hal atau hal lain. Selama hidupnya, seseorang mengalami berbagai fase seperti usia tua, penyakit dan banyak macam penderitaan. Oleh karena itu, kita ingin menemukan solusi masalah-masalah diatas. Setiap karya riset ilmiah merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Adalah Keunikan Bentuk Kehidupan Manusia. Pertanyaan apakah yang terpenting?</strong></p>
<p>Oleh TD Singh, Ph.D  <img class="alignleft size-medium wp-image-369" title="lotus nice" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/lotus-nice-300x198.jpg" alt="lotus nice" width="300" height="198" />Pertanyaan,<em> jijnasa,</em> merupakan sifat-dasar kehidupan. Setiap orang bertanya tentang suatu hal atau hal lain. Selama hidupnya, seseorang mengalami berbagai fase seperti usia tua, penyakit dan banyak macam penderitaan. Oleh karena itu, kita ingin menemukan solusi masalah-masalah diatas. Setiap karya riset ilmiah merupakan sejenis (usaha untuk) bertanya. Srila Prabhupäda mengatakan bahwa <strong><em>Jikalau seseorang belum naik ke posisi ”mengajukan pertanyaan tentang penderitaan yang dialaminya,” maka dia belum dianggap sebagai seorang manusia sempurna</em></strong>. Kemanusiaan dimulai ketika jenis pertanyaan ini muncul dalam pikirannya. Oleh karena itu, <strong>Pertanyaan</strong> membentuk proses yang paling penting untuk memperoleh pengetahuan. Kita ingin mengetahui hal-hal yang berada di luar apa yang dapat kita lihat secara biasa. Kita telah menemukan mikroskop elektron, teleskop, dan sebagainya&#8211;untuk memuaskan rasa penasaran kita. Namun semua ini belumlah cukup. Indera-indera kita dan perpanjangan indera-indera kita (seperti mikroskop, teleskop, dan lain-lain –ed) masih sangat terbatas.  <span id="more-368"></span> <strong><em>Dapatkah seekor burung bertanya tentang kehidupannya? Makhluk-makhluk hidup biasa yang innocent seperti burung dan hewan hanya bertanya tentang kebutuhan-kebutuhan badannya</em></strong>. Mereka bertanya, ”di manakah ada air?, di manakah ada makanan?, di manakah ada tempat berteduh?”, dan seterusnya. Namun mereka tidak memiliki kemampuan untuk bertanya tentang makna dan tujuan kehidupan yang lebih mendalam. Tetapi dalam bentuk kehidupan manusia, orang diberkati dengan kemampuan unik untuk bertanya di luar kebutuhan-kebutuhan badan ini. Inilah kualifikasi khusus dan khas bentuk kehidupan manusia. Ketika seorang anak mulai berkembang, dia bertanya kepada orang tuanya tentang banyak hal yang ada di sekitarnya, seperti ‘Apa ini?’, ‘Apa itu?’, dan sebagainya. Dengan cara seperti ini, anak itu mengumpulkan pengetahuan dari orang tuanya. Oleh karena kecerdasan yang sadar sudah berkembang sepenuhnya, umat manusia dapat mengajukan berbagai tingkat pertanyaan termasuk pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam tentang kehidupan. <strong><span style="text-decoration: underline;">Pertanyaan yang paling penting dalam kehidupan manusia pastilah untuk mengetahui Kebenaran Mutlak, <em>jivasya tattvajijnäsä.</em></span></strong> <strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong> <em>Srimadbhagavatam</em> (1.2.10) menyatakan:</p>
<p align="center"><em>kämasya nendriyaprétirläbho jéveta yävatä</em></p>
<p align="center"><em>jivasya tattvajijnäsä närtho yaç ceha karmabhih</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p><strong>Terjemahan:</strong> “Keinginan-keinginan hidup hendaknya tidak pernah diarahkan kepada kepuasan indera-indera. Seseorang sebaiknya hanya menginginkan kehidupan yang sehat, atau hanya untuk memelihara badan, karena Kehidupan Manusia adalah dimaksudkan untuk bertanya tentang Kebenaran Mutlak. Seharusnya tidak ada hal lain yang menjadi tujuan pekerjaan seseorang.”  <strong>Kemampuan untuk bertanya tentang kebenaran tertinggi membuat kehidupan manusia berbeda secara khas dengan semua bentuk kehidupan yang lain. <em>Newton bertanya mengapa buah apel jatuh ke bawah. Sebagai jawaban atas pertanyaan ini, dia menemukan hukum grafitasi<sup>26</sup></em></strong><em>,</em> <em> </em></p>
<p align="center"><strong>F = G m<sub>1</sub>m<sub>2</sub>/d<sup>2</sup></strong></p>
<p><em> </em> <strong><em>di mana F adalah gaya tarik-menarik antara dua benda yang memiliki massa m<sub>1</sub> dan m<sub>2</sub>, d adalah jarak antara kedua benda dan G adalah konstanta grafitasi.</em></strong> <em> </em> Demikianlah Vedanta menekankan bahwa mata pelajaran utama dari bentuk kehidupan manusia adalah untuk bertanya tentang sains Kebenaran Mutlak, Tuhan.  <em>Katha Upanisad</em> (1.3.14) dengan tekanan kata yang sangat kuat dan seksama memberikan panggilan keras kepada seluruh umat manusia dalam ayat berikut:  <em>uttiñöha jägratä präpta-varän nibodhata</em> <em>kñurasya dhärä niçitä duratyayä</em> <em>durgaà pathas tat kavayo vadanti</em> <strong>Terjemahan: </strong>Bangkitlah! Bangunlah! berusahalah untuk mengerti anugerah yang kini engkau telah dapatkan dalam bentuk kehidupan manusia. Jalan keinsyafan rohani adalah sangat sulit; ia tajam bagaikan pinggiran pisau silet, sulit untuk ditempuh dan susah untuk diseberangi, begitu dikatakan oleh orang-orang suci yang terpelajar.  <strong>Vincent Dethier, seorang ahli biologi dan psikolog terkenal dari Amerika<em>, juga menyatakan, “Salah satu sifat khas yang membedakan manusia dengan binatang-binatang yang lain adalah kebutuhan pengetahuan untuk kepentingannya sendiri. Banyak binatang merasa ingin tahu, namun bagi mereka keingintahuan merupakan suatu segi penyesuaian diri. Manusia memiliki rasa lapar untuk mengetahui. Dan semua orang tanpa kecuali, karena telah dianugerahi dengan kemampuan untuk mengetahui, dia memiliki kewajiban untuk mengetahui.</em></strong>”<sup>27</sup> Dengan cara yang serupa, <strong>Ayn Rand, seorang penulis dan filosof termasyur dari Russia</strong> menyimpulkan dalam karya besarnya <em>Atlas Shrugged</em>: <strong><em>“Manusia tidak akan dapat bertahan hidup kecuali memperoleh pengetahuan, dan berpikir logis adalah cara mereka satu-satunya untuk mendapatkannya. … Pikiran manusia adalah perkakas dasarnya untuk bertahan hidup. … Untuk bertahan hidup, dia harus bertindak, dan sebelum bertindak, dia harus mengetahui hakikat serta tujuan dari tindakannya. … Untuk bertahan hidup, dia harus berpikir.”</em></strong><sup>28</sup> ‘Siapakah saya?’, ‘apakah Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama?’, ‘apakah asal mula kehidupan itu?’, ‘apakah kehidupan itu?’, ‘Bagaimanakah nasib sang <em>jiva</em> manusia ketika badannya telah mati?’ merupakan beberapa pertanyaan dasar yang dapat diajukan oleh umat manusia. Jadi, sutra pertama <em>Vedänta-sütra</em> mengarahkan manusia yang banyak berpikir untuk bertanya tentang kebenaran yang paling mendasar.  Finf more di  ”seri Vedanta dan Sains 1: Kehidupan dan Asal mula Jagat Raya”  Rp 35. 000  Dan  ”Kehidupan dan Evolusi Spiritual”  Rp. 25.000</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=368&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/bertanya-mencari-tahu-tentang-sesuatu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Evolusi Kesadaran</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/evolusi-kesadaran.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/evolusi-kesadaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 15:15:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scientific Article]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta and Science]]></category>
		<category><![CDATA[evolus kesadaran dan reinkarnasi]]></category>
		<category><![CDATA[evolusi dalam VEda]]></category>
		<category><![CDATA[Evolusi Kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[hewan memiliki kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[human devolution]]></category>
		<category><![CDATA[human evolution and vedanta]]></category>
		<category><![CDATA[langkanya kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[makna kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[menguak misteri kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[perpindahan sang roh]]></category>
		<category><![CDATA[seri vedanta dan sains]]></category>
		<category><![CDATA[tumbuhan memiliki kesadaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[dan Langkanya Kelahiran sebagai Manusia
 
by  DR. T.D. Singh, Ph.D
Dalam pandangan Vedanta, Evolusi didefinisikan sebagai perjalanan partikel-kehidupan yang memiliki kesadaran-sang jiva)-yang jumlahnya tak dapat dihitung dalam ruang dan waktu sebagaimana mereka berpindah-pindah dari satu bentuk badan ke bentuk badan yang lain dibawah Hukum karma (sebab dan akibat). Derajat atau tingkat kesadaran, guna (sifat) dan karma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>dan Langkanya Kelahiran sebagai Manusia</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: left;">by  DR. T.D. Singh, Ph.D</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-362" title="species in veda" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/species-in-veda2-161x300.jpg" alt="species in veda" width="161" height="300" />Dalam pandangan Vedanta, <strong><span style="text-decoration: underline;">Evolusi</span><em> didefinisikan sebagai perjalanan partikel-kehidupan yang memiliki kesadaran-sang jiva)-yang jumlahnya tak dapat dihitung dalam ruang dan waktu sebagaimana mereka berpindah-pindah dari satu bentuk badan ke bentuk badan yang lain dibawah Hukum karma (sebab dan akibat).</em></strong> Derajat atau <span style="text-decoration: underline;">tingkat kesadaran, <em>guna</em> (sifat) dan <em>karma</em> (aktifitas) dari setiap makhluk hidup akan menentukan arah dari jalan evolusinya</span>. <strong>Kesalahan Darwin adalah bahwa dia tidak dapat memahami eksistensi kesadaran</strong>. Dengan demikian, Vedanta tidak menerima teori evolusi Darwin. Dalam keadaan-keadaan normal, kesadaran berkembang dalam garis lurus dan juga bertambah bijaksana. Badan-badan atau bentuk-bentuk yang berbeda-beda untuk mengakomodasi makhluk dengan kesadaran tertentu telah disusun oleh alam dalam rencana kosmik (<em>mayädhyaksna prakrtih</em> – <em>Bhagavadgétä</em> 9.10). Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, <em>Brahmä Vaivarta Purana</em> menjelaskan sebagai,<em> açétià caturaç caiva lakñäàs täï jéva-jätiñu bhramadbhiù puruñaiù präpyaà mänuñyaà janma-paryayät,</em> artinya orang mendapatkan bentuk kehidupan manusia setelah menggantikan 8.4 bentuk-bentuk kehidupan yang lain.</p>
<p>Lebih jauh, <em>Padma Purana</em> memberikan sebuah pernyataan yang lengkap mengenai bentuk-bentuk kehidupan yang berbeda-beda tersebut sebagai berikut:</p>
<p><span id="more-361"></span></p>
<p align="center"><em>jala-jä nava-lakñäëi sthävarä lakña-viàçati</em></p>
<p align="center"><em>kåmayo rudra-saìkhyakäù pakñiëäà daça-lakñaëam</em></p>
<p align="center"><em>triàçal-lakñäëi paçavaù catur-lakñäëi mänuñäù</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p><strong>Terjemahan: </strong>Secara keseluruhan terdapat 8.400.000 bentuk kehidupan. 900.000 bentuk kehidupan dalam air, dan 2.000.000 bentuk pohon dan tumbuhan. Selanjutnya, terdapat 1.100.000 spesies burung. Akhirnya, terdapat 3.000.000 jenis hewan dan 400.000 spesies manusia.</p>
<p>Sebagaimana dinyatakan terdahulu, bentuk-bentuk hayati menunjukkan suatu batasan dalam perkembangan kesadaran. Oleh karena itulah, berbagai <strong>tingkat kesadaran diekspresikan melalui beraneka macam badan ini. Vedanta membagi tingkat kesadaran ke dalam lima kategori yang luas: <em>äcchädita </em>(tertutup), <em>sankucita</em> (mengkerut),<em> mukulita </em>(kuncup), <em>vikasita</em> (mekar) dan <em>pürnavikasita </em>(mekar sepenuhnya).<sup>43</sup></strong></p>
<p>Pohon dan tumbuhan, misalnya, adalah hampir tidak giat. Mereka termasuk kategori ‘kesadaran tertutup’. Namun, ketika kita mengamati mereka secara seksama, kita akan melihat bahwa mereka memiliki kesadaran yang terbatas. <strong>Jagadish Chandra Bose memberitakan bahwa tumbuh-tumbuhan memiliki kesadaran</strong>.<sup>44</sup> Entitas hidup yang lain, seperti cacing atau ulat, serangga, dan binatang-binatang yang lain berada dalam “kesadaran mengkerut.’ Mereka tidak tertutup seperti tumbuh-tumbuhan, akan tetapi juga kesadaran mereka tidak berkembang sepenuhnya.</p>
<p>Manusia memiliki ‘kesadaran kuncup’. Sebuah pucuk kuncup nampaknya mengkerut, namun ia berpotensi untuk menjadi sekuntum bunga mekar. Kesadaran manusia memiliki potensi yang serupa. Jadi, umat manusia memiliki kemampuan bawaan untuk mengembangkan kesadaran sampai batas hampir tak terhingga, hingga titik mengetahui Kebenaran Mutlak. Spesies yang lain tidak memiliki kemampuan khusus ini. Itulah sebabnya Vedanta mempermaklumkan bahwa bentuk kehidupan manusia adalah yang paling tinggi dan <em>brahmajijïäsa,</em> bertanya tentang <em>Brahman</em> khususnya dimaksudkan bagi bentuk kehidupan manusia.</p>
<p>Kesadaran terus mengalami perkembangan dengan cara seperti ini karena tujuan kehidupan adalah untuk mencapai keadaan kesadaran <em>saccidänanda.</em> Jadi, menurut Vedanta, kehidupan adalah berbeda dengan badan-badan material yang ditempatinya. Dalam bentuk kehidupan manusia, ketika seseorang dengan tulus mulai bertanya tentang <em>Brahman, </em>Kebenaran Mutlak, maka kesadaran spiritualnya yang seperti pucuk kuncup mulai mengalami perkembangan. Itulah keadaan kesadaran yang ‘mulai mekar.’ Ketika dia mempraktekkan disiplin-spiritual yang teratur sebagai hasil dari pertanyaannya, dia akan berkembang terus dan terus. Akhirnya, dia akan mencapai realisasi trancendental (keinsyafan rohani), kesadaran Tuhan yang sempurna, keadaan kesadaran yang ‘mekar sepenuhnya’.</p>
<p align="center"><strong> <img class="alignleft size-medium wp-image-365" title="reincarnation" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/reincarnation-243x300.jpg" alt="reincarnation" width="243" height="300" />Kesimpulan</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Sutra pertama <em>Vedanta-sutra</em> mengajarkan <strong>betapa pentingnya bentuk kehidupan manusia. Segala bentuk pertanyaan manusia harus digunakan untuk mengetahui Brahman, Kebenaran Mutlak, Tuhan</strong>. Oleh karena itu, tujuan dari seluruh sains haruslah untuk bertanya tentang hakikat Tuhan. <strong><em>Seorang ahli fisika harus bertanya: apakah sumber sejati dari hukum-hukum alam? Seorang ahli kimia harus bertanya: siapakah Ahli Kimia Tertinggi di belakang semua molekul, DNA, klorofil, protein dsb. yang menakjubkan? </em></strong>Vedanta menjelaskan bahwa jika kita melaksanakan riset cukup jauh, kita akan menemukan sumber tertingginya adalah Tuhan. Jadi, Vedanta memperingatkan bahwa orang-orang cerdas tidak boleh disesatkan oleh pernyataan-pernyataan temporer dan tidak sempurna dari para ilmuwan atheis yang berusaha untuk menghilangkan Tuhan dari segala sesuatu. Ini akan membuat pengetahuan ilmiah modern menjadi berguna dengan baik. Ketika orang menginsyafi Kebenaran Mutlak melalui pertanyaan seperti itu, dia akan mengerti dasar sejati dari realitas. Dan kemudian, kewajibannya adalah untuk mengagungkan Tuhan Yang Mahaesa melalui pengertian ilmiah. Inilah rahasia dan tingkat kebahagiaan yang sejati. Inilah yang apa Närada Muni, guru spiritual Vyäsadeva, ajarkan kepada Vyäsadeva dalam <em>Bhägavata Purana,</em> penjelasan alami dari <em>Vedanta-sutra.</em><sup>45</sup></p>
<p>Jadi sekarang, riset ilmiah tanpa pengetahuan spiritual adalah bersifat sepihak (tidak lengkap/ tidak sempurna-ed). Dengan demikian, pengetahuan ilmiah, jika dikembangkan dengan memasukkan pengetahuan spiritual, akan membawa kesempurnaan pada pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah untuk mencari Kebenaran Mutlak akan menjadi spiritual. <strong>Albert Einstein</strong> pernah menyatakan, <strong>“Hal yang penting adalah bukanlah untuk berhenti bertanya. Keingin-tahuan memiliki alasan tersendiri atas keberadaanya. Orang tak dapat berbuat apa-apa kecuali kagum dan terpesona ketika kita merenungkan misteri kekekalan, kehidupan, struktur realitas yang mengagumkan. Cukup jika seseorang semata-mata berusaha untuk memahami sedikit saja dari misteri-misteri ini setiap hari.</strong>”<sup>46</sup></p>
<p>untuk lebih jelasnya tentang topik ini, silahkan beli dan baca:</p>
<p>&#8220;Seri VEdanta dan SAins1: Kehidupan dan Asal mula Jagat Raya&#8221;</p>
<p>dan</p>
<p>&#8220;Kehidupan dan Evolusi Spiritual&#8221;</p>
<p>By TD Singh Ph.D</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=361&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/evolusi-kesadaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vedanta dan Kebenaran Mutlak</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/vedanta-dan-kebenaran-mutlak.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/vedanta-dan-kebenaran-mutlak.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 14:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scientific Article]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta and Science]]></category>
		<category><![CDATA[Ajaran VEdanta sutra]]></category>
		<category><![CDATA[keistimewaan hidup manusia]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran adalah realitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kesadaran dan Fisika Kuantum]]></category>
		<category><![CDATA[keunikan hidup manusia]]></category>
		<category><![CDATA[makna dan misteri hidup]]></category>
		<category><![CDATA[makna dan tujuan kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[menguak misteri hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan agama]]></category>
		<category><![CDATA[spiriton partike kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[studi tentang kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[Tiga aspek Kebenaran Mutlak]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan dalam VEdanta]]></category>
		<category><![CDATA[TUhan dan Ultimate Reality]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta dan Kebenaran Mutlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Oleh T.D. Singh, Ph.D.

Apakah yang Vedanta sampaikan kepada kita tentang Brahman, Kebenaran Mutlak? Dalam Srimadbhagavatam (1.2.11), kita menemukan tiga kategori Kebenaran Mutlak:  vadanti tat tattva-vidas tattvaà yaj jnänam advayam brahmeti paramätmeti bhagavän iti çabdyate Terjemahan: Para Rohaniwan Terpelajar-yang mengetahui Kebenaran Mutlak- menyebut Substansi-Yang-Tunggal itu (Tuhan-ed) dengan tiga sebutan sebagai berikut: Brahman (Yang Mutlak-Yang Tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh T.D. Singh, Ph.D.</p>
<div id="attachment_357" class="wp-caption alignleft" style="width: 106px"><img class="size-full wp-image-357" title="Vedanta and Sains Indo" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/Vedanta-and-Sains-Indo.jpg" alt="Vedanta and Sains Indo" width="96" height="150" /><p class="wp-caption-text">hanya Rp. 35.000</p></div>
<p align="center">
<p>Apakah yang Vedanta sampaikan kepada kita tentang <em>Brahman,</em> Kebenaran Mutlak? Dalam <em>Srimadbhagavatam</em> (1.2.11), kita menemukan tiga kategori Kebenaran Mutlak:  <em>vadanti tat tattva-vidas tattvaà yaj jnänam advayam</em> <em>brahmeti paramätmeti bhagavän iti çabdyate</em> <strong>Terjemahan:</strong> Para Rohaniwan Terpelajar-yang mengetahui Kebenaran Mutlak- menyebut Substansi-Yang-Tunggal itu (Tuhan-ed) dengan tiga sebutan sebagai berikut: <em>Brahman </em>(Yang Mutlak-Yang Tanpa Atribut), <em>Paramätma</em> (Roh Yang Utama yang bersemayam dalam segala sesuatu), atau <em>Bhagavän</em> (Pribadi Tuhan Yang Mahaesa Sendiri).  Swami Prabhupäda menjelaskan dalam ulasannya, “Kebenaran Mutlak adalah baik subyek maupun obyek, dan tidak ada perbedaan kualitatif di sana. Oleh karena itu, <em>Brahman, Paramätmä</em> dan <em>Bhagavän</em> secara kualitatif adalah satu dan sama saja. Substansi yang sama diinsyafi sebagai <em>Brahman </em>yang bersifat impersonal oleh penganut Upanisad, sebagai <em>Paramätma</em> yang berada di suatu tempat oleh para Hiranyagarbha atau para yogi, dan sebagai <em>Bhagavän</em> oleh para Bhakta Tuhan. Dengan kata lain, <em>Bhagavän</em> atau Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, adalah kata terakhir tentang Kebenaran Mutlak. <em>Paramätmä</em> merupakan representasi sebagian dari Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, <em>Brahman </em>yang impersonal merupakan cahaya yang menyilaukan Pribadi Tuhan Yang Mahaesa, seperti halnya sinar matahari dengan matahari sendiri.”<sup>29</sup> <span id="more-356"></span> <strong>Jadi menurut Vedanta, terdapat tiga aspek Kebenaran Mutlak atau Tuhan. Semua aspek ini membentuk fondasi Realitas Tertinggi ’<em>Ultimate Reality</em>”.</strong> <em>Brahman:</em> tidak memiliki atribut dan merupakan Prinsip abstrak dari Kebenaran Mutlak. <em>Brahman </em>adalah aura transendental Tuhan. Brahman adalah tujuan  perguruan spiritual para impersonalis <em>advaita vedänta.</em> Aspek <em>Paramätma</em> Kebenaran Mutlak dapat dirasakan melalui fakta dalam praktek ilmiah, keagamaan dan seni, kita sering mendapatkan inspirasi, tunduk dengan rendah hati kepada arahan dari dalam hati dan intuisi yang muncul secara tiba-tiba.<sup>30</sup> Menurut Vedanta, semua inspirasi ini berasal dari <em>Paramätma,</em> yang membimbing setiap makhluk hidup dari dalam (hati). Ketika terjadi perubahan musim, berbagai jenis burung bermigrasi ke berbagai belahan dunia karena diarahkan oleh <em>Paramätma</em> dari dalam hatinya. Tuhan Yang Mahaesa dalam bentuk <em>Paramätma</em> membimbing setiap makhluk hidup termasuk mikroorganisme di alam semesta ini. <em>Bhagavän </em>berarti aspek Pribadi Kebenaran Mutlak. Aspek <em>Bhagavan</em> diinsyafi oleh para bhakta-Nya yang sepenuhnya telah sangat letih mengenyam pengalaman alam material dan telah menjadi sempurna dengan mempraktekkan sembilan jenis jalan <strong><em>Bhaktiyoga</em></strong><em>.</em><sup>31</sup> Rincian penjelasan mengenai hal ini akan disajikan pada tulisan yang lain. Inilah tujuan dari <em>dvaita vedänti</em> atau <em>Vaisnava vedänti.</em> <strong>Paradigma Kesadaran Menurut Vedanta</strong> Sejak beberapa dekade terakhir, kesadaran telah muncul sebagai sebuah bidang studi yang penting dalam mata pelajaran ilmiah dan filosofis. <strong>Terdapat suatu peningkatan minat untuk meneliti ’Kesadaran’ di kalangan ahli Fisika Kuantum,  ahli fisiologi syaraf, filosof dan rohaniwan yang haus pengetahuan. </strong><strong>William James<sup>32</sup>, von Neumann<sup>33</sup>, Eugene Wigner<sup>34</sup>, Erwin Schrodinger<sup>35</sup>, dan David Bohm<sup>36</sup> adalah beberapa perintis dalam Studi tentang Kesadaran (<em>Consciousness Study</em>).</strong> Salah satu segi yang umum di kalangan ahli fisika quantum yaitu bahwa mereka semua berusaha menjelaskan runtuhnya fungsi gelombang melalui suatu reaksi dari pikiran atau kesadaran. Namun, terdapat sedikit bukti bahwa keruntuhan semacam itu dari fungsi gelombang sungguh-sungguh terjadi. Menurut pendapat penulis, mekanika quantum, dengan dengan keterbatasan-keterbatasannya dalam bahasa matematika, dapat, paling <em>banter</em>, menunjukkan adanya kesadaran namun tidak dapat membuktikannya ataupun menjelaskannya. <strong>Max Planck</strong> menyatakan, <strong><em>“Adalah sebuah kenyataan bahwa terdapat suatu titik, satu titik tunggal suatu ruang dari pikiran dan materi yang tak dapat diukur oleh sains dan oleh karenanya setiap metode riset sebab musabab tak dapat diterapkan, tidak hanya dalam bidang praktis, melainkan juga dalam bidang logika, dan tetap tak akan dapat diterapkan. Inilah titik dari kesadaran individual kita.”</em></strong> Terdapat banyak pandangan yang berbeda di kalangan para sarjana mengenai kesadaran dan diperlukan studi yang lebih dalam.  Menurut Vedanta, <strong>Kesadaran adalah energi hidup dan sifat mendasar dari partikel-kehidupan (<em>spiriton</em>/atman-ed) dan ia sepenuhnya spiritual </strong>(bukanlah hasil interaksi <em>matter</em>-ed). Terdapat dua kategori kesadaran, universal dan individual. DIA Yang Tertinggi sadar akan segala sesuatu di alam semesta sedangkan para makhluk hidup hanya sadar akan diri mereka saja. Hakikat ontologis atau keberadaan Kesadaran adalah bersifat non-fisik. <em>Säìkhya darshan</em> dalam <em>Srimadbhagavatam</em> (Skanda 3, Bab 26) menjelaskan bahwa <em>jiva,</em> kehidupan, berdasarkan pada kehadiran suatu Kuantum Kesadaran dan ia tetap sebuah bidang terpisah. Inilah sumber dari seluruh pengetahuan dan pengalaman kami.  Selanjutnya, Vedanta menjelaskan materi sebagai bidang dari aktifitas dan menurut sifatnya, materi bersifat tak giat dan tidak memiliki kesadaran. Namun terdapat interaksi antara partikel-kesadaran individu dengan materi melalui kesadaran-universal. Lebih jauh, peristiwa-peristiwa alamiah yang terjadi di dunia material merupakan peta dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia spiritual (kesadaran).  Sekitar empat abad yang silam, seorang ahli filsafat <strong>Francis Rene Descartes </strong>menyimpulkan bahwa yang pasti dia mengetahui satu hal: <strong>“Saya berpikir, oleh karena itu saya ada&#8230;&#8230;”<sup>37</sup> Dari sudut pandang Vedanta, ungkapan, ‘aku’ adalah kesadaran langsung dan sifat transendental dari sang-diri</strong>. Ribuan tahun sebelum Descartes, para resi Veda menginsyafi prinsip itu bahkan selangkah lebih jauh, <em>aham brahmäsmi</em>, yang berarti, aku adalah <em>Brahman,</em> aku adalah sang <em>jiva</em>-diri yang memiliki kesadaran. Inilah Kesadaran yang dalam bahasa Sanskerta disebut <em>cetana.</em> Tindakan berpikir yang dilakukan oleh manusia merupakan gejala dari kesadaran dan itu merupakan milik kehidupan. Kesadaran palsu ditunjukkan di bawah kesan bahwa ‘saya adalah produk dari alam material ini.’  Banyak ilmuwan cemerlang abad dua puluh yang telah lewat juga setuju bahwa kesadaran tidak dapat dijelaskan dengan istilah-istilah paradigma material. <strong>Niels Bohr </strong>mengungkapkan, <strong><em>“Tak dapat disangkal kita tidak menemukan apa-apa dalam fisika atau kimia yang bahkan sangat jauh hubungannya dengan kesadaran. Namun kita semua mengetahui bahwa memang ada hal semacam itu yang dikenal sebagai kesadaran, semata-mata karena kita sendiri memilikinya. Karena itu kesadaran pastilah bagian dari alam, atau lebih umum, bagian dari realitas, yang berarti bahwa, sungguh-sungguh terlepas dari hukum-hukum fisika dan kimia, sebagaimana ditetapkan dalam teori quantum, kita juga harus mempertimbangkan suatu alam yang sungguh berbeda.</em></strong>”<sup>38</sup> Demikian juga, ilmuwan Inggris yang terkenal <strong>Michael Polanyi</strong> berpendapat, “… begitu ia disadari, dalam bidang-bidang lain, bahwa kehidupan melampaui fisika dan kimia, tidak akan ada alasan untuk menolak mengakui kenyataan sebelumnya bahwa kesadaran adalah suatu prinsip yang secara fundamental melampaui bukan hanya fisika dan kimia melainkan juga prinsip-prinsip mekanistik dari para makhluk hidup.”<sup>39</sup> Vedanta menjelaskan bahwa kesadaran adalah di luar pikiran dan kecerdasan dan Vedanta juga memberikan hirarkinya sebagai berikut (Gambar 1) (<em>Bhagavadgétä</em> 3.42):</p>
<p align="center"><em>indriyäni paräëy ähur</em></p>
<p align="center"><em>indriyebhyaù paraà manaù</em></p>
<p align="center"><em>manasas tu parä buddhir</em></p>
<p align="center"><em>yo buddheù paratas tu saù</em></p>
<p align="center">
<p><strong>Terjemahan: </strong>“Indera-indera yang bekerja lebih tinggi daripada materi yang mati, pikiran lebih tinggi daripada indera-indera, kecerdasan masih lebih tinggi daripada pikiran, dan dia [sang jiwa] bahkan lebih tinggi lagi daripada kecerdasan.”  Interaksi dari kesadaran dengan kecerdasan, pikiran, dan indera-indera dijelaskan dalam <em>Kaöha Upaniñad </em>(1.3.3-4) sebagai sebuah kereta imajiner sebagai berikut:</p>
<p align="center"><em>ätmänaà rathinaà viddhi</em></p>
<p align="center"><em>çaréraà ratham eva ca</em></p>
<p align="center"><em>buddhià tu särathià viddhi</em></p>
<p align="center"><em>manaù pragraham eva ca</em></p>
<p align="center">
<p align="center"><em>indriyäëi hayän ähur</em></p>
<p align="center"><em>viñayäàs teñu gocarän</em></p>
<p align="center"><em>ätmendriya-mano-yuktaà</em></p>
<p align="center"><em>bhoktety ähur manéñiëaù</em></p>
<p align="center">
<p><strong>Terjemahan:</strong> “Individu adalah sang penumpang dalam kereta badan material, dan kecerdasan adalah kusirnya. Pikiran adalah tali kekangnya, sedangkan indera-indera adalah kuda-kuda dari kereta itu. Seperti itulah hal ini dimengerti oleh para pemikir yang mulia.”  Kereta imajiner tersebut dilukiskan pada Gambar 2. Kesadaran individual atau partikel kehidupan diumpamakan seperti penumpang karena dia adalah penumpang yang berkuasa dan dengan demikian dia menikmati dan menderita perjalanan yang dilakukannya. Kuda-kuda menunjukkan indera-indera yang selalu menarik kereta badan manusia ke arah obyek-obyek indera-indera. Kecerdasan diumpamakan sebagai kusir kereta karena sang kusir melakukan pemilihan-pemilihan yang diperlukan demi sukses dan nyamannya perjalanan. Pikiran diumpamakan sebagai tali kekang karena ia berhubungan langsung dengan kuda-kuda (indera-indera) dan dikendali oleh kusir (kecerdasan). Seorang kusir yang cakap (kecerdasan) memegang kendali tali kekang (pikiran) yang berhubungan dengan kuda-kuda (indera-indera) untuk menjalankan kereta dengan baik ke arah tempat tujuan dengan kemampuan memilah-milah. Dengan demikian sang penumpang atau sang jiwa akan dapat mencapai tempat tujuan yang diinginkan dengan mempergunakan seluruh komponen dengan baik. Sebaliknya, jika salah satu saja dari komponen-komponen itu tidak terkendali atau tak terkoordinir sebagaimana mestinya menurut urutannya, cepat atau lambat kereta tersebut pasti akan mengalami kecelakaan.  <strong>Kesadaran sebagai Kategori Realitas yang lain</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Banyak tradisi-tradisi spiritual dunia, khususnya tradisi Veda India telah menyatakan bahwa kesadaran adalah sebuah realitas yang memiliki sifat yang berbeda dengan partikel dan gelombang. Beberapa ilmuwan modern juga telah mendukung kebijaksanaan purba ini. Misalnya, <strong>Thomas Huxley</strong> menyatakan, <strong>“Nampak jelas bagi saya bahwa terdapat sesuatu yang ketiga di jagat raya ini, untuk mengetahui sesuatu, kesadaran, yang …saya tidak bisa mengatakannya sebagai materi atau tenaga, ataupun suatu modifikasi yang dapat dipahami dari keduanya</strong>.”<sup>40</sup> Observasi yang serupa bergema dalam kata-kata seorang ahli fisika yang terkenal, <strong>Eugene Wigner</strong>, yang menyatakan, <strong><em>“Terdapat dua macam realitas atau eksistensi; eksistensi dari kesadaran saya dan realitas atau eksistensi dari segala sesuatu yang lain.</em></strong>”<sup>41</sup> Menurut Vedanta, aktifitas manusia dilaksanakan atas kehendak dari partikel kehidupan yang memiliki kesadaran, yang kemudian diterjemahkan melalui kecerdasan dan pikiran ke badan manusia. Pikiran berinteraksi dengan badan melalui otak. Otak adalah seperti <em>central processing unit</em> dari sebuah computer di mana semua sinyal kegiatan keluar dan masuk, namun dia bekerja sesuai dengan kehendak dari sang <em>programmer.</em> John Eccles mengusulkan <em>psychon</em> sebagai unit fundamental dari pikiran dan ia berinteraksi dengan otak melalui dendron<sup>42</sup>. Karl Pribram telah mengusulkan bahwa <em>psychon</em> adalah sesuatu yang seperti fungsi Gabor, suatu fungsi gelombang (lihat artikel, “Sains is Spiritual”, hal.38). Namun, <strong>Vedanta mengisyaratkan bahwa partikel kehidupan berada di luar sifat partikel dan gelombang</strong>. Oleh karena itu, <strong>interaksi dari partikel kehidupan dengan kecerdasan merupakan sebuah interaksi yang sangat kompleks dan sungguh di luar jangkauan sains modern.</strong> Akan sangat wajar bahwa para ahli biologi dan biokimia modern seharusnya memasukkan studi kesadaran dalam karya riset mereka. Bidangnya seharusnya tidak kebanyakan diserahkan kepada para ilmuwan ahli syaraf, ahli fisika quantum, ahli psikologi dan ahli filsafat saja.  Untuk membaca lebih lanjut tentang topik ini silahkan baca di buku:  Seri Vedanta dan Sains : Kehidupan dan Asal Mula Jagat raya</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=356&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/vedanta-dan-kebenaran-mutlak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAATNYA  bertanya tentang KEBENARAN MUTLAK</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/saatnya-bertanya-tentang-kebenaran-mutlak.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/saatnya-bertanya-tentang-kebenaran-mutlak.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 05:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scientific Article]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta and Science]]></category>
		<category><![CDATA[arti kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Evolusi Kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[evolusi spiritual evolusi darwin]]></category>
		<category><![CDATA[makna kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[menguak misteri kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan ilmiah vedanta]]></category>
		<category><![CDATA[VEdanta dan Sains]]></category>
		<category><![CDATA[vedanta kesimpulan veda]]></category>
		<category><![CDATA[vedanta sutra dan kehdupan manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Menguak misteri keistimewaan Kehidupan Manusia.
 
Oleh T.D. Singh, Ph.D
Founder of Vedanta and Science Educational Reasearch Foundation, 
Kolkata and Sambalpur, India.
 
(Kita sudah sering mendengar bahwa kehidupan sebagai manusia adalah kehidupan yang paling istimewa dan paling sempurna. Apakah itu benar? Jika ya, dalam hal apa ? Bukankah kehidupan manusia dengan kehidupan makhluk lainnya sama saja? Sama-sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Menguak misteri keistimewaan Kehidupan Manusia.</p>
<p style="text-align: left;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Oleh T.D. Singh, Ph.D</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Founder of Vedanta and Science Educational Reasearch Foundation, </strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Kolkata and Sambalpur, India.</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><em>(Kita sudah sering mendengar bahwa kehidupan sebagai manusia adalah kehidupan yang paling istimewa dan paling sempurna. </em><em>Apakah itu benar? Jika ya, dalam hal apa ? Bukankah kehidupan manusia dengan kehidupan makhluk lainnya sama saja? Sama-sama makan, berketurunan, tidur, membela diri dan kesamaan lainnya. Lalu jika memang benar kehidupan manusia itu istimewa atau sempurna, bagaimanakah itu? Simaklah jawabnnya pada ulasan ilmiah akan ajaran Vedanta berikut ini-ed)</em></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>Apa itu Vedanta?</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-306" title="life-and-origin" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/life-and-origin.jpg" alt="life-and-origin" width="100" height="155" /><img class="size-full wp-image-307 alignleft" title="vedanta-sc-II" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/vedanta-sc-II.jpg" alt="vedanta-sc-II" width="100" height="155" /><img class="size-full wp-image-308 alignleft" title="vbt" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/vbt.jpg" alt="vbt" width="100" height="160" />Vedanta<sup>1</sup> dikatakan sebagai bentuk risalah ilmiah dan keagamaan yang paling tinggi  warisan peradaban dan spiritual India. Kata Vedanta adalah gabungan kata Sanskerta, dengan menggabungkan dua kata – <em>Veda </em>dan <em>anta.</em> <em>Veda </em>berarti pengetahuan dan <em>anta </em>berarti akhir. Dengan demikian, kata Vedanta berarti puncak pengetahuan atau pengetahuan kebenaran yang Tertinggi. Harus dicatat bahwa kata Vedanta tidak hanya merujuk kepada kitab  <em>Vedänta-sütra</em> melainkan juga seluruh kesusasteraan Veda yang menjelaskan kesimpulan-kesimpulan akhir Veda, terutama kitab-kitab sebagai berikut: <em>Bhagavad-gitä,</em> S<em>rimadbhägavatam, Upanisad-upanisad,</em> dan sebagainya. (Vedanta) Adalah sains spiritual yang merupakan dasar segala pengetahuan, <em>sa brahma-vidyä sarva-vidyä pratisthä </em>(<em>Munduka Upanisad</em> 1.1.1).</p>
<p>Dalam Vedanta tidak pernah terjadi pertentangan antara sains dan spiritualitas. Ini adalah hal yang unik dalam pemikiran India. Hal ini disebabkan karena kenyataan bahwa sains lebih banyak mempelajari alam material sedangkan Vedanta mempelajari baik alam material maupun alam spiritual. Alam spiritual mencakup studi yang lebih dalam terhadap realitas-realitas di luar alam material, yakni di luar atom dan molekul ’<em>beyond atom and mollecules</em>’. Jadi Vedanta menginsyafi keberadaan sang jiwa, <em>ätman </em>dan kesadaran, <em>cetana, </em>kualitas atau sifat dasar sang jiwa. Dengan kata lain, Vedanta menyediakan sebuah latar belakang yang lengkap dan terperinci untuk membuktikan bahwa terdapat sebuah dimensi realitas yang lain, termasuk realitas tentang keberadaan Tuhan, yang dapat dirasakan melalui indra-indra dan pikiran spiritual. Dengan demikian, seorang ilmuwan yang memiliki sedikit latar belakang dalam Vedanta tidak mempunyai kesulitan untuk melihat peranan yang berbeda yang sains dan spiritualitas sediakan dalam pencarian pengetahuan. <em>Keduanya saling melengkapi satu sama lain</em>. Saat ini, kebanyakan ilmuwan tidak membuka diri terhadap spiritualitas. Karenanya, penting sekali untuk memasukkan paradigma spiritualitas ke dalam studi ilmiah.</p>
<p><em>Sütra</em> didefinisikan sebagai sebuah aforisme atau sandi atau rumus yang mengekspresikan esensi pengetahuan dengan jumlah kata minimum. Ia harus dapat diterapkan secara universal dan tanpa kesalahan dalam penyajian kebahasaan maupun filosofisnya. <em>Vedänta-sütra </em>(<em>VS</em>) terdiri dari aforisme-aforisme atau rumus-rumus yang mengungkapkan kesimpulan-kesimpulan pengetahuan kebenaran Veda dalam bentuk yang sangat padat. <em>Vedäntasütra </em>disusun oleh Srila Vyäsadeva<sup>2</sup>,</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>SUTRA PERTAMA </strong><strong><em>Vedänta-sütra </em></strong> (VS. 1.1.1) berbunyyi sebagai berikut:</p>
<p align="center"><em>athato brahmä-ji</em><em>jnäsä</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p><em>atha–</em> sekarang ; <em>atah–</em> oleh karena itu ; <em>Brahma–</em> <em>Brahman,</em> Kebenaran Mutlak, Tuhan; <em>jijnäsä</em>– bertanya.</p>
<p><strong>Terjemahan:</strong> <strong>“Oleh karena itu, sekarang, orang hendaknya bertanya tentang hakikat </strong><strong><em>Brahman,</em></strong><strong>Kebenaran Mutlak, atau Tuhan.”</strong></p>
<p><span id="more-305"></span><!--more--></p>
<p align="center"><strong>Ulasan Ilmiah</strong></p>
<p align="center">
<p>Menurut ulasan ilmiah Veda, terdapat  jenis kehidupan (mikroorganisme, tumbuh-tumbuhan, tumbuhan atau binatang yang hidup di air, burung, reptil, hewan, manusia dan makhluk-makhluk sejenis manusia lainnya) yang digolongkan berdasarkan tingkat kemiripan keadaan atau tingkat kesadaran yang dimiliki oleh spesies-spesies yang berbeda. Menurut skala waktu kosmik evolusi kesadaran, suatu makhluk hidup memperoleh bentuk kehidupan manusia setelah melewati berjuta-juta jenis bentuk kehidupan.</p>
<p>Harus dicatat bahwa menurut Vedanta, biodiversitas atau keragaman hayati adalah suatu proses untuk mengakomodasi tingkat kesadaran dari setiap individu dan terdapat suatu Evolusi Kesadaran bertahap dari suatu bentuk yang memiliki tingkat kesadaran rendah ke bentuk yang memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi sesuai dengan hukum-hukum <em>karma</em> (sebab dan akibat) yang halus. Lebih jauh Vedanta menjelaskan bahwa banyak bentuk kehidupan yang termanifestasi secara bersamaan. Dengan kata lain, variasi genetika sudah ada di dalam rencana-kosmik. Observasi Arber<sup>23</sup> bahwa mutasi genetika bukan disebabkan oleh kesalahan atau kekeliruan, hal ini memperkuat konsep-konsep Vedanta. Menurut Vedanta, bentuk-bentuk hayati sudah ada didalam rencana-kosmik, dan oleh karena itu hal ini bertentangan dengan konsep Evolusi-Biologis Darwin. <span style="text-decoration: underline;">Bukanlah seleksi-alam dan mutasi secara acak atau tak disengaja yang akan menjadi penyebab dari keragaman hayati</span>. Sang-diri (atau jiva) yang memiliki Kesadaran akan secara terus-menerus berpindah-pindah dari satu bentuk ke bentuk yang lain hingga partikel spiritual atau sang-diri yang memiliki kesadaran (<em>cit-kana</em>) tersebut mencapai bentuk (kehidupan) manusia.</p>
<p>Dalam bentuk kehidupan manusia, kesadaran (<em>cetana</em>), kecerdasan (<em>buddhi</em>), pikiran (<em>manas</em>), indera-indera (<em>indriyas</em>) telah berkembang sepenuhnya. Dengan demikian, umat manusia telah dilengkapi secara sempurna untuk mengajukan <em>jijïäsa</em> (pertanyaan) yang paling dalam, pertanyaan mengenai hal-hal spiritual. Pesan yang serupa menggema dalam pernyataan Albert Einstein yang menyatakan bahwa mengetahui rencana Tuhan adalah paling penting sedangkan yang lainnya adalah tidak begitu penting. Melalui pertanyaan, <em>sambandha</em> ini, hubungan antara sang diri dengan Tuhan akan dibangun dan pengetahuan spiritual yang suci tentang sang diri akan dapat dimengerti. <em>Isa Upaniñad</em> lebih jauh menyatakan,<em> isäväsyamidam sarvam,</em> segala sesuatu adalah milik Tuhan Yang Mahaesa. Oleh karena itu, segalanya harus dipergunakan, termasuk karya-karya para ilmuwan dan semua pemimpin dunia untuk melayani Tuhan Yang Mahaesa. Singkatnya, inilah pandangan Vedanta berhubungan dengan kewajiban utama dari umat manusia.</p>
<p>Kata, “&#8230;oleh karena itu, sekarang&#8230;..” mengandung arti yang sangat penting. Banyak sarjana yang terpelajar menjelaskan bahwa kedua kata tersebut menunjukkan bahwa sekarang engkau telah mendapatkan bentuk kehidupan manusia ini dan oleh karena itu engkau seharusnya bertanya tentang hakikat <em>Brahman,</em> Kebenaran Mutlak. Orang  bijaksana akan menemukan bahwa setelah merasakan yang dinamakan dengan kebahagiaan dan kemewahan material, dia, cepat atau lambat, akan mengerti bahwa dunia material adalah sebuah tempat penderitaan yang tiada akhir bukanlah tempat kebahagiaan dan kepuasan. Bahkan seorang yang paling kaya dan dokter yang paling ahli sekalipun tak akan dapat terlepas dari penyakit, usia tua serta kematian. Saat ini, setelah membuat begitu banyak kemajuan dalam bidang sains dan teknologi, kita mengalami sebuah dimensi bahaya besar yang baru dalam bentuk terorisme, perang nuklir, perang kuman penyakit, masalah kelangsungan hidup dipertaruhkan. Secara langsung maupun tidak langsung kebudayaan ilmiah materialistik kita adalah penyebab dari semua kecemasan yang besar ini. Dengan kesalahan mengguanakan kebebasan bertindak, banyak produk penemuan ilmiah kita juga telah menjadi penyebab kehancuran kita. Ini hanyalah gila-gilaan dan Vedanta menjelaskan bahwa sebab utama dari seluruh permasalahan yang berbahaya ini adalah kurangnya pengetahuan spiritual mengenai kehidupan dan pengetahuan tentang Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama. Dengan demikian dalam bentuk kehidupan manusia, orang yang banyak berpikir harus dapat menginsyafi bahwa tidak ada hal yang lebih penting daripada mempelajari hakikat dari realitas tertinggi, <em>Brahman,</em> Tuhan. Jadi, <em>sütra</em> ini memiliki sebuah pesan yang sangat penting untuk disampaikan kepada komunitas ilmiah dunia.</p>
<p>Srila Baladeva Vidyäbhüsana menulis dalam ulasannya: “Kata ‘<em>atha</em>’ berarti saat ini juga; ‘<em>ataù</em>’ berarti oleh karena itu. Makna dari <em>sütra </em>ini adalah pertanyaan tentang <em>Brahman</em> harus diajukan sekarang juga. Saat ini juga merupakan tambahan dari kualifikasi berikut: Seseorang, yang telah mempelajari Veda sebagaimana mestinya, yang telah mengerti maknanya secara umum, yang telah melaksanakan kewajiban-kewajibannya dalam tingkatan hidup atau <em>äsrama</em> sebagaimana mestinya, yang jujur, yang pikirannya telah disucikan dengan perbuatan-perbuatan seperti itu, yang telah mendapatkan keberuntungan dengan bertemu dengan seseorang yang mengetahui kebenaran dia sebaiknya mulai bertanya tentang <em>Brahman.</em>”<sup>25</sup></p>
<p>Telah disebutkan sebelumnya bahwa menurut Vedanta seseorang mendapatkan bentuk kehidupan manusia setelah melewati  bentuk kehidupan. Kehidupan manusia adalah paling berharga dan tidak ada jaminan apakah orang akan mendapatkan kesempatan hidup sebagai manusia lagi atau tidak pada penjelmaannya selanjutnya. Inilah kesempatan satu-satunya di mana seseorang dapat keluar dari perputaran kelahiran dan kematian di dunia material dengan memotong sepenuhnya rantai <em>karma.</em> Ini dapat dilaksanakan melalui proses spiritual <em>bhakti-yoga, sravanam</em> (mendengar), <em>kirtanam</em> (memuji), <em>smaranam</em> (mendengar), dan sebagainya, tentang kemuliaan transcendental Tuhan Yang Mahaesa. Seseorang yang serius tidak akan mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan alasan ini, Vedanta tidak menganjurkan tindakan-tindakan yang tidak alamiah seperti euthanasia (tindakan mematikan seseorang untuk meringankan penderitaan sekarat), pembunuhan dengan cinta-kasih <em>’mercy killing’</em> ataupun bantuan bunuh diri bahkan bagi orang yang menderita penyakit mematikan ataupun perpanjangan usia secara artifisial. Demikianlah, Vedanta juga memiliki banyak hal yang harus disampaikan mengenai etika-etika biomedis. Dengan demikian, kata, ‘oleh karena itu, sekarang’, mempunyai makna yang luas mengenai betapa pentingnya nilai kehidupan manusia.</p>
<p>Buku-buku tersebut dapat dipesan di India. http://www.binstitute.org</p>
<p>Telah tersedia di Indonesia buku-buku &#8220;Vedanta and Science series&#8221;</p>
<p>bagi yang berminat dapat sms ke Putu: 081805681672 atau wayan: 081237592245</p>
<p>(Tinggal Duduk manis di rumah Anda bisa mendapatkan bukue keren tersebut..ayo sms sekarang&#8230;persedian terbatas)</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=305&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/saatnya-bertanya-tentang-kebenaran-mutlak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
