<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sripada Nectar &#187; On Harmony and Peace</title>
	<atom:link href="http://www.sripadanectar.com/category/on-harmony-and-peace/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sripadanectar.com</link>
	<description>All About Srila Sripada (DR. T.D. Singh, Ph.D)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 03:18:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>DR. T.D. Singh Memorial Lecture (by A Nobel Laureate)</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/dr-t-d-singh-memorial-lecture-by-a-nobel-laureate.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/dr-t-d-singh-memorial-lecture-by-a-nobel-laureate.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 02:15:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[On Harmony and Peace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[Nobel Laureate Prof. Richard Ernst to Lecture on Science and Spirituality Dear Friends, Greetings of New Year from the Bhaktivedanta Institute. We are sure that each one of you must have lot of plans for this new year. We hope and pray that all your wonderful activities be successful by the blessings of the Supreme [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong><span style="font-family: Calibri;">Nobel Laureate Prof. Richard Ernst to Lecture on Science and Spirituality</span></strong></p>
<hr />
<p><a href="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2012/01/Nobel_Laureate_1991_Ernst.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-456" title="Nobel_Laureate_1991_Ernst" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2012/01/Nobel_Laureate_1991_Ernst-300x213.jpg" alt="Richard Ernst (Nobel Laureate in Chemistry)" width="300" height="213" /></a><span style="font-family: Calibri;">Dear Friends,</span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;">Greetings of New Year from the Bhaktivedanta Institute.</span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;">We are sure that each one of you must have lot of plans for this new year. We hope and pray that all your wonderful activities be successful by the blessings of the Supreme Lord.</span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;">We, from Bhaktivedanta Institute, have declared year 2012 as the year of Science and Spirituality. Year 2012 marks the 75<sup>th</sup> Birth Anniversary of Bhaktivedanta Institute’s Founder Director Dr. T. D. Singh (His Holiness Bhaktisvarupa Damodara Swami). As a part of these celebrations, the institute will organize various events including conferences and symposia in India and around the world throughout the year of 2012. You are most welcome to participate in these events wherever possible and we also request you to organize some event or activity on science and spirituality in your locality so as to join us in this global endeavor to help humanity through the interface of modern scientific temperament with our precious spiritual wisdom. </span><span style="font-family: Calibri;"> </span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;">These events are being flagged off from the holy land of Odisha. Prof. Richard Ernst, Nobel Laureate in Chemistry from Zurich, Switzerland will deliver Dr. T. D. Singh Memorial Lecture on “Science and Spirituality: The View of a Western Scientist” at Utkal University, Odisha, on Jan 5, 2011 at 11 am. Sri Gajapati Maharaja Dibyasingha Deb, the Honorable King of Jagannath Puri and His Holiness Subhag Swami are the respected Guests of Honor for this unique lecture. For those of you who are nearby, we request your kind presence in this event and others are invited to join us in spirit.  (For further details, please contact Tusar Das, (0) 94370-16820). The invitation card is also attached herewith for your kind reference. </span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;">With best wishes for the New Year,</span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;">Yours sincerely,</span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;">Bhaktivedanta Institute</span></p>
<p>RC/8, Raghunathpur, Manasi Manjil Building, VIP Road, Kolkata 700 059, India<br />
Tel: <a href="tel:033-2500-9018" target="_blank">033-2500-9018</a>, 6091; email: <a href="mailto:bi@binstitute.org" target="_blank">bi(AT)</a><a href="http://binstitute.org/" target="_blank">binstitute.org</a><br />
<a href="http://www.binstitute.org/" target="_blank">www.binstitute.org</a></p>
</div>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=455&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/dr-t-d-singh-memorial-lecture-by-a-nobel-laureate.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vasudhaiva Kutumbakam</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/vasudhaiva-kutumbakam.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/vasudhaiva-kutumbakam.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 07:14:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Harmony and Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta and Science]]></category>
		<category><![CDATA[Bali URI]]></category>
		<category><![CDATA[dialog agama]]></category>
		<category><![CDATA[dialog lintas agama penting]]></category>
		<category><![CDATA[gus dur]]></category>
		<category><![CDATA[hormati perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[hormati sesama manusia]]></category>
		<category><![CDATA[interfaith dialogue]]></category>
		<category><![CDATA[interreligious dialogue]]></category>
		<category><![CDATA[interrreligious]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan antar agama]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan atas nama agama]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan atas nama Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[kita semua bersaudara]]></category>
		<category><![CDATA[pentingnya dialog lintas agama]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan adalah fakta]]></category>
		<category><![CDATA[vasudeva kutumbakam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Cinta Tuhan terlalu besar untuk dikangkang, hanya oleh satu kelompok atau hanya oleh satu agama saja.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><em>Kita Semua adalah Saudara, Hormati Perbedaan yang ada</em></strong><em></em></p>
<p align="center">Oleh</p>
<p align="center"><strong><em>T.D. Singh Ph.D      </em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>(Sri Srimad Bhaktisvarupa Damodara Swami Srila Sripada)</em></strong></p>
<p><strong>Cinta Tuhan terlalu besar untuk di<em>kangkang</em>, hanya oleh satu kelompok atau hanya oleh satu agama saja.</strong></p>
<p>-          Uskup Agung <strong><em>Desmond M. Tutu (Peraih Nobel dalam bidang Perdamaian)</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Di Indonesia yang terdiri atas berbagai etnik, suku dan agama ini sudah sangat sering terjadi gesekan antar golongan keyakinan dan atau antar agama, seperti konflik ambon, poso, dan lain sebagainya. Dan tiga terakhir ini kekerasan atas nama agama semakin marak di indonesia, penusukan terhadap keyakinan suatu agama oleh keyakinan oleh agama yang lain. Salah satu penyebab dari konflik-konflik ini adalah rasa amarah yang tidak terkendali. Kesalahpahaman ini sering terjadi karena fanatik buta dan kurangnya dialog dari hati ke hati. Oleh karena itu, DR. T.D. Singh, Ph.D memberikan solusi perlunya menginsyafi bahwa kita semua saudara dan berasal dari Tuhan yang sama, meskipun kita memiliki banyak perbedaan namun sebenarnya kita tetaplah bersaudara. Oleh karena itu, dalam kolom ini kami akan menyajikan tulisan DR. TD Singh secara berseri tentang Sains Dialog Lintas Agama, sebagai usaha kami memberikan kontribusi kecil untuk Indonesia yang Harmonis dan Damai. </em></p>
<p>Umat manusia yang menghuni bumi ini, memiliki banyak perbedaan. Mereka memiliki bahasa yang berbeda, warna kulit yang berbeda, budaya kehidupan berbeda, kebiasaan makan yang berbeda, filosofi kehidupan yang berbeda, memiliki pikiran yang berbeda, memiliki visi yang berbeda, agama yang berbeda, konsep realitas yang berbeda, pakaian yang berbeda, rupa yang berbeda, pemahaman akan ‘benar-salah’ atas suatu tindakan (nilai moral dan ethis) yang berbeda, dan bahkan tingkat fanatic&#8211;yang berada diluar kebijaksanaan rasio (wisdom of rationality)&#8211;yang berbeda, dalam berbagai tradisi-tradisi relijius yang berbeda pula.</p>
<p><strong><em>Pada abad 21 (millennium ketiga), secara teori, umat manusia harus membuat kemajuan yang pesat di segala bidang kultur manusia dalam nama kemajuan saintifik</em></strong>. Bagaimanapun juga, umat manusia telah menyaksikan dua perang dunia. Ada sebuah perlakuan yang serius akan penggunaan senjata nuklir yang memiliki kemampuan menghancurkan seluruh umat manusia dan berbagai bentuk kehidupan di muka bumi ini. Kita juga telah menyaksikan sejarah pembunuhan beberapa dekade terakhir seperti pembunuhan Mahatma Gandhi, Martin Luther King, J.F. Kennnedy, dan Rajiv Gandhi, adalah beberapa diantaranya. Pada tanggal 11 September 2001, serangan teroris yang tak manusiawi pada WTC, New York City menunjukkan wajah yang paling jelek peradaban umat manusia.</p>
<p><strong><em>Salah satu akar penyebab dari tindakan tragis ini adalah rasa amarah yang tak terkendali</em></strong>. Adalah sebuah aib bagi peradaban dan kultur manusia dan dapat dikatakan sebagai sebuah kejahatan yang serius kepada ciptaan Tuhan. Ditengah-tengah kejahatan ini, kita kehilangan esensi dan nilai-nilai kehidupan manusia yang sesunggguhnya. Keuntungan yang diberikan oleh sains dan teknologi adalah bahwa kita dapat berkomunikasi dan mengenal satu sama lain lebih cepat sekarang daripada di masa lalu. Kita tidak dapat mengisolasi diri kita dari segala kejadian yang terjadi di berbagai belahan dunia.</p>
<p>Kita tidak dapat buta ‘cuek’ terhadap segala kejadian baik kecil maupun besar. Sekarang waktunya telah tiba bahwa kita harus secara kolektif dan satu-padu mencoba untuk menemukan cara dan alat <strong>untuk menghilangkan segala kesalahpahaman lewat dialog, ‘bridge buildings’ <em>pembangunan jembatan</em> (komunikasi) dan lain sebagainya, diantara berbagai komunitas.</strong></p>
<p>Salah satu harapan bahwa agama-agama <strong><em>memberikan pemahaman kepada umat manusia bahwa kita semua adalah “Anak-anak” Tuhan. Tuhan dipanggil dengan berbagai nama yang berbeda dalam berbagai komunitas yang berbeda. Namun bagaimanapun juga, Dia adalah Our Common Father, Dia adalah Ayah kita yang sama</em></strong>. Demikianlah kita semua memiliki prinsip yang sama. Kita semua adalah saudara dan saudari (Vasudhaiva Kutumbakam-ed). Di dalam keluarga, jika salah satu orang melakukan kesalahan, kesalahan itu harus dikoreksi, dan bukan merupakan hukuman. Proses ini adalah bagian dari pendidikan. Hal ini harus dilakukan secara kolektif. Fanatik-isme harus dikoreksi (diperbaiki). Wahyu-wahyu baru dapat datang lewat generasi-generasi baru melalui pengaturan Tuhan.</p>
<p>Pendidikan spiritual menekankan bahwa kita semua adalah “Anak-anak” Tuhan dan kita harus menghormati satu sama lain. Pemahaman ini adalah fondasinya dan segala sesuatu akan mengikuti secara otomatis jika kita menerapkan prinsip ini. <em>The science of value</em> ‘Sains akan Nilai’ disebut juga dengan istilah “Global Ethics” atau “Universal Ethics” akan memiliki makna ketika kita memasukkan esensi dari nilai-nilai spiritual semua tradisi relijius (agama) kedalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Taken From <strong><em>“The Science Of Interreligious Dialogue”</em></strong> Chapter 1, by DR. TD Singh, Ph.D</p>
<p>TD Singh adalah aktivis spiritual dan tokoh dan pemimpin <em>interfaith-dialogue</em>, beliau adalah Co-Founder of URI (United Religion Initiative), oraginasi terbesar dalam Dialog Lintas agama. beliau juga seorang penulis produktif, yang lahir di Manipur India pada tanggal 9 Desember 1937. Dalam tiga dekade terakhir ini beliau telah menerbitkan lebih dari tiga lusin buku dan puluhan bulletin dan jurnal dalam bidang sintesis sains dan agama dan dalam bidang dialog lintas agama, harmoni dan perdamaian. TD Singh pernah mendapatkan penghargaan oleh United Nation yang diserahkan oleh asisten sekjen, DR. Muller, disamping itu beliau juga pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah Italia dan Metanexus Institut USA atas usahanya menggalang perpaduan antara Sains dan Agama yang selama ini terjadi perang. Selain itu, TD Singh, juga adalah Founder Director dari Bhaktivedanta Insitute yang memiliki berbagai cabang di seluruh dunia, beliau juga mendirikan ISR, UBC, Vedanta dan Science Educational Research Foundation. TD Singh adalah tamatan Universitas bergengsi di Amerika serikat, University of California, namun walo posisi karir yang menjanjikan, panggilan suci membuatnya membuatnya meninggalkan segala keduniawian dan menjadi seorang Sanyasi (Bhiksu), sepenuhnya berkeliling dunia mengabdi pada Yang Kuasa demi ikut and berkontribusi  pada Harmonisasi dan Perdamaian Umat manusia. TD Singh sering berkunjung ke Indonesia dan pernah mengadakan URI Asia Pasifik Assembly di Bali yang juga dihadiri oleh Presiden Gus DUr.</p>
<p>&nbsp;</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=439&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/vasudhaiva-kutumbakam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komponen-komponen dasar Perdamaian!</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/komponen-dasar-perdamaian.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/komponen-dasar-perdamaian.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 07:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Harmony and Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Sripada Lecture]]></category>
		<category><![CDATA[dialog lintas agama]]></category>
		<category><![CDATA[rumus perdamaian di dunia]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan spiritual untuk perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[sintesis sains dan agama]]></category>
		<category><![CDATA[TD Singh dan perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[TD Singh speak on peace]]></category>
		<category><![CDATA[TD Singh tentang perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[by DR.T.D.Singh Perdamaian merupakan hak asasi setiap makhluk hidup, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan semua makhluk hidup. &#8212;-Dr. Singh Ada dua komponen pengetahuan yang harus dimengerti agar perdamaian dalam masyarakat manusia dapat dicapai yaitu: 1. Mengetahui Makna Sejati Kehidupan? Apakah sebenarnya kehidupan itu? pertama-tama kita harus mengerti apa itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">by DR.T.D.Singh</p>
<p align="center">
<p>Perdamaian merupakan hak asasi setiap makhluk hidup, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan semua makhluk hidup.</p>
<p>&#8212;-Dr. Singh</p>
<p><img class="size-full wp-image-312 alignleft" title="sripad_pope" src="http://www.sripadanectar.com/wp-content/uploads/2009/11/sripad_pope.jpg" alt="sripad_pope" width="130" height="94" />Ada dua komponen pengetahuan yang harus dimengerti agar perdamaian dalam masyarakat manusia dapat dicapai yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Mengetahui Makna Sejati Kehidupan?</strong></li>
</ol>
<p>Apakah sebenarnya kehidupan itu? pertama-tama kita harus mengerti apa itu kehidupan &#8216;What is life?&#8221;. Keseluruhan peradaban atau kultur Kesadaran Krishna atau Kesadaran akan Tuhan Yang Maha Esa adalah untuk mengetahui ilmu pengetahuan tentang kehidupan. Ilmu pengetahuan (sains) modern yang bersifat Reduksionisme<a href="#_ftn1">[*]</a> telah mengantarkan kita ke arah pemahaman akan kehidupan yang bersifat materialistis. Setelah tragedi WTC tanggal 9 November 2001, perubahan drastis terjadi dalam paradigma (kehidupan). Para ilmuwan sekarang ingin mengetahui tentang Tuhan dan mengapa orang-orang religius bisa bertindak seperti itu (menteror/jadi teroris). Oleh karena itu, saya katakan, banyak hal baik sedang terjadi sebagai akibat tragedi WTC itu. Kejadian itu bagaikan membawa sesuatu yang bagus, membawa angin segar, karena ada perubahan dalam sikap para ilmuwan benar-benar drastis berdasarkan pengamatan saya. Oleh karena itu, sekarang adalah kesempatan bagus bagi kita membawa/memasukkan tentang bahasan/pengetahuan. <em>Ultimate nature of reality</em> (sifat sejati realitas tertinggi), yang sering dibicarakan, ke dalam paradigma spiritual. Kesadaran Krishna (pengetahuan spritual Veda) ini menyediakan <em>interface</em>, penghubung antara sains dan spritualitas. Usaha gabungan antara sains dengan spritualitas akan menghantarkan sebuah perdamaian baru bagi dunia.</p>
<p><strong><span id="more-311"></span><!--more-->Definisi pengetahuan</strong></p>
<p>Definisi pengetahuan &#8216;knowledge&#8217; diberikan (ada) dalam Bab 13 <em>Bhagawad Gita</em>- yaitu <em>Kshetra</em> dan <em>Kshetra jna</em>- seseorang harus menginsyafi perbedaan antara lapangan kegiatan (badan) dan Dia yang mengetahui lapangan kegiatan itu (sang roh). Hal ini bagaikan mengetahui perbedaan antara mobil dan sopirnya. Mengetahui perbedaan ini (yaitu perbedaan antara badan materiil yang bersifat sementara dengan sang roh yang bersifat kekal) merupakan definisi pengetahuan. Roh atau partikel kehidupan ini, kami menyebutnya dengan istilah Spiriton-yang merupakan partikel paling mendasar dari kehidupan. Kita harus mengetahui bagaimanakah sifat-sifat partikel-kehidupan ini dan kemampuan yang dimilikinya (propertinya). Pada tahun 1944, Schrodinger menerbitkan sebuah booklet ” <em>What is life</em>” dan di dalam bukunya itu ia mengutip  kata-kata bijak dari kitab Upanisad dan Vedanta. Dengan cara demikian, dia dapat melihat sisi spiritual kehidupan. Di dalam sistem pendidikan dunia hal inilah yang saya ajukan sebagai Sains-Baru (<em>new science</em>). Srla Prabhupada melatih saya selama delapan tahun dimana pada saat itu saya mendapat pergaulan pribadinya yang luar biasa, yaitu untuk menyelenggarakan konferensi tentang Life Come From Life (Kehidupan berasal dari Kehidupan). Ribuan mahasiswa di berbagai universitas di seluruh dunia sedang salah dibimbing (salah arah) dan maka sehingga tidak akan ada kemajuan sejati dalam peradaban dunia (jika tidak diajarkan tentang New Science ini-ed).<strong> </strong></p>
<p><strong>2. Mengetahui Tujuan dibalik Penciptaan      Alam Semesta? (<em>Big Bang Vs      Big Vision</em>)</strong></p>
<p>Mengapa dunia materiil ini diciptakan?, dalam Sains modern, ilmu yang membahas alam semesta ini disebut dengan Kosmologi. Dan pemahaman yang paling popular yang banyak disebarkan para ilmuwan adalah teori <em><span style="text-decoration: underline;">Big Bang</span></em><span style="text-decoration: underline;">. </span>Teori ini sepenuhnya salah/tidak<span style="text-decoration: underline;"> </span>benar. Jika kita berpikir bahwa (Jagatraya)  kita  seketika tercipta setelah/karena ledakan kasar/materi keras. Bagaimana mungkin kita mencari perdamaian/kedamaian dan sifat-sifat halus yang dapat mengangkat seorang makhluk hidup dan menyelamatkan dari penderitaan lama (<em>enternaly</em>) di dalam samudra kelahiran dan kematian?. Berlawanan dengan model teori <em>Big bang</em>, kami memiliki ”Paradigma Kosmologi Bhagavata” (kosmologi berdasarkan kitab-kitab Veda dan VEdanta). Teori kosmologi ini berdasarkan percakapan antara <em>Maitreya Muni</em> dan <em>Vidura Agung</em> termuat dalam kitab <em>Srimad Bhagawatam</em>. Tujuan dan makna kehidupan adalah sesuatu apa yang kami sebut sebagai “<em>Big Vision</em>”. Sains (modern) hanya berhubungan dengan apa dan mengapa. Ringkasnya, tujuan kehidupan, sesuai dengan teori <em>Big Vision </em> adalah: bentuk/spesies kehidupan manusia merupakan suatu yang paling penting dalam ciptaan ini, dan dengan usaha tulus, bentuk kehidupan manusia, dapat menginsyafi mengapa ia berada dalam dunia materiil ini. “<em>Bahunuam janmahuam ante</em>”- <em>Gita</em> menyatakan pencapaian tertinggi ilmu pengetahuan mengantarkan seseorang ke titik dimana dia bisa menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada pribadi Tuhan Yang Maha Esa; roh yang demikian itu tidak akan pernah lahir lagi di dunia materiil ini karena ia telah mencapai kehidupan kekal. Itulah maksud akan terciptanya alam semesta ini, yaitu untuk memfasilitasi para jiwa yang terikat di sini untuk akhirnya mencapai kehidupan kekal. Jadi dua komponen di atas merupakan pengetahuan dasar yang paling penting bagi segala jenis umat manusia, apakah mereka spiritualist, agamais atau materialis atau orang-orang professional atau bahkan manusia-siapa saja tidak peduli. Adalah di atas dasar pengertian/pemahaman kita, realitas keadaan kita yaitu semua pikiran dan tindakan di dalam hidup kita terencana dan dimainkan, diwujudkan, didirikan. Selama delapan tahun, saya beruntung, secara teratur mendapatkan pergaulan pribadi Srila Prabhupada, dimana beliau selalu bicara tentang satu hal utama kepada saya-yaitu tentang tesis LCFL. Ya, para ilmuwan telah melakukan hal-hal yang mengagumkan dan kita telah melihat banyak hal baik yang dihasilkan dari usaha penelitian mereka, tetapi mereka juga bertanggung- jawab atas banyak kejahatan yang terjadi di dunia ini seperti bom, obat-obatan, aborsi, senjata, senjata nuklir, dan lain-lain. Oleh Karena itu, saya katakan setiap usaha serius untuk mewujudkan perdamaian di dunia ini, haruslah melibatkan para ilmuwan. Jika berbagai usaha perdamaian itu tidak melibatkan para ilmuwan, maka usaha itu tidak akan pernah berhasil. Para ilmuwan itu harus dilibatkan dalam membantu menghilangkan kegiatan-kegiatan yang tidak diinginkan yang sekarang sedang mengganggu masyarakat manusia (Dunia). <em>Untuk itu</em>, kami, <em>Bhaktivedanta Institute,</em> sedang mengorganisir sebuah Konferensi International di Roma bertajuk “Kehidupan dan asal-usulny:a menggali dari berbagai tradisi religius dan pengetahuan ilmiah”. Konferensi ini akan diadakan di Roma dari tanggal 11-15 November 2004. Saya memilih Roma sebagai <span style="text-decoration: underline;">tempat</span> untuk congress yang penting ini karena Roma merupakan kota yang sangat penting, baik di Eropa maupun di dunia. Saya memilih karena unsur spiritualnya sangat menonjol di Roma, terima kasih atas kehadiran Vatikan. Diskusi-diskusi pada konferensi akan difokuskan pada <em><span style="text-decoration: underline;">interface </span></em>(menjembatani) antara sains dan agama. Sebuah konsep baru yang sedang saya usahakan untuk diperkenalkan adalah mari kita coba menjelaskan data ilmiah yang ada yang telah diteliti dan dicatat oleh para ilmuwan, dan menjelaskannya dari persepektif spiritual. Dengan cara demikian demikian kita akan melihat bagaimana satu set data-data dapat menciptakan hasil-hasil yang sepenuhnya berbeda jika paradigma yang menganalisis (penafsir) berbeda. Topik lain yang akan didiskusikan adalah apa yang saya namakan <em>New Biology</em>, satu pelajaran yang dimasukkan atau disisipkan  sains tentang roh dan Tuhan dalam studi Biologi, tentang kehidupan dan tentang keagungan Tuhan sesi ini akan dinamakan Tuhan dan Biologi Baru. Bersama dengan konferensi ini akan menghadirkan 40-45 pembicara terkemuka dunia, jadi mohon datang ke Roma dan jadi salah satu delegasi kita. Konferensi ini berbeda dengan konferensi kita sebelumnya. Karena konferensi ini merupakan konferensi yang pertama yang secara langsung akan mendiskusikan sifat-sifat kehidupan (<em>nature of life</em>), sebagian besar dari poin pandangan spiritual. Pada hari pertama akan diselenggarakan sebuah program untuk orang umum yang bebas untuk semua orang menghadiri yang akan diadakan di Grand Hall Universitas Angelica. Hasil ini akan diumumkan setelah Paus yang sekarang karena dia/beliau lulus dari universitas lain. Jadi saya berharap kami akan melibatkan banyak diantara kalian akan hadir di Roma.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[*]</a></p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=311&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/komponen-dasar-perdamaian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TD Singh Contibutions on Art and Culture</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/td-singh-contibutions-on-art-and-culture.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/td-singh-contibutions-on-art-and-culture.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 11:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[On Harmony and Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Bhaktisvarupa damodara art culture]]></category>
		<category><![CDATA[Bhaktisvarupa Damodara Kirtan]]></category>
		<category><![CDATA[Bhaktisvarupa Damodara Rasa Lila]]></category>
		<category><![CDATA[bhatisvarupada damodara gaudiya vaisnava]]></category>
		<category><![CDATA[svarupa damodara culture manipur]]></category>
		<category><![CDATA[TD Singh art and culture]]></category>
		<category><![CDATA[TD Singh Bhagavata Culture]]></category>
		<category><![CDATA[TD Singh Ranganiketan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Taken from Bhagavata-Sevarpanam (a glimpse of TD Singh Achievement in Serving his Spiritual Master) In the numerous conferences and festivals that Dr. T. D Singh had organized and attended all over the world, he introduced the divine principle of the Vedantic culture through the medium of arts. He did this through the literary, culinary and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Taken from Bhagavata-Sevarpanam</p>
<p>(a glimpse of TD Singh Achievement in Serving his Spiritual Master)</p>
<p>In the numerous conferences and festivals that Dr. T. D Singh had organized and attended all over the world, he introduced the divine principle of the Vedantic culture through the medium of arts. He did this through the literary, culinary and performing arts at a myriad of venues ranging from urban schools to the most prestigious universities, from senior citizen centers to the Kennedy Center, from South America to Singapore and to audiences from elementary school students to heads of states.</p>
<p><span id="more-268"></span><!--more--></p>
<p>Dr. T. D. Singh founded the Ranganiketan Manipuri Cultural Arts Troupe in 1989 in order to introduce the Culture of Manipur to the world. “Ranganiketan”, which means “House of Colourful Arts”, is a diverse group of dancers, musicians, singers, martial artists, choreographers and craft artisans. Ranganiketan began its first international tour in 1990, with engagements in Europe and North America and has since then toured all over the world on a regular basis.</p>
<p>When arranging Ranganiketan’s world tours, Dr. T. D. Singh placed a special emphasis on educational programs. More than half of Ranganiketan’s performances take place before young audiences. Carefully created instructional materials prepare students for the performances, and lectures and demonstrations help them to further understand what they have seen. In 1993, Dr. T. D. Singh wrote a section for the Los Angeles County Music Centre’s <em>Artsource</em>, a teacher’s guide, and for the McGraw-Hill Textbook Series/ Performing Arts Audio- Visual Units. The materials written by Dr. T. D. Singh were descriptions of the Rasa Lila pastimes of Sri Sri Radha-Krishna and of the beautiful nature of Vrindavan.</p>
<p>As director of Ranganiketan, Dr. T. D. Singh had, through approximately 600 performances at over 300 venues in over 15 countries, introduced this divine Manipuri Vedantic Culture to millions of people. Some of the Prestigious places where Ranganiketan has performed are: The Kennedy Center for the Performing Arts,</p>
<p>Washington D.C.; EPCOT Center, Walt Disney World: The World Music Institute, New York: Los Angeles Music  Center: Seattle International Children’s Festival, and Singapore National Arts Festival. Ranganiketan is the largest, most frequently booked, cultural arts troupe hailing from India.</p>
<p>The Government of India sent Ranganiketan on a mission of goodwill to Syria, Egypt and Iraq in 2001. Ranganiketan participated in the Bosara International Folk Dance Festival, which had an audience of over 10,000 people. They performed in Damascus, Homns, Cairo and at the Babylon international Festival in Baghdad and at the cultural functions organized at the Indian Embassy and the Indian Cultural Centre in Iraq. Many of the people who witnessed the performances were convinced that within the Vaishnava music, song and dance of Manipur there were common roots that could make the whole world united in peace, friendship and prosperity.</p>
<p>In 2000, the Malaysian Ministry of Culture invited Dr. T. D. Singh and Ranganiketan for an international drumming festival in Kuala Lumpur. The Minister of Culture, after witnessing Dr. T. D. Singh sing during some of the performances, in the spirit of cross cultural exchange, gave special permission for Dr. T. D. Singh to visit the Masjid Sultan Salhuddin Abdul Aziz Shah, one of the world’s largest mosques. The Tok Imam Besar in charge of the mosque received Dr. T. D. Singh with great honour and respect and gave him a grand tour of the mosque. In this regard, Dr. T. D. Singh said, <strong>“Cultural art is a very significant part of life. People from various corners of the world will come much closer to each other, in friendship and understanding, through the universal language of art and Culture</strong>”.</p>
<p>Along with presenting Manipur’s culture throughout the world, Dr Singh also brought representatives of the world’s cultural traditions to Manipur. Dr Singh, as a scientist and a saint, used to say, “<strong>I am doing the chemistry of culture</strong>”. Martial arts, drumming and Rasa Lila dance dramas constitute the major part of a Ranganiketan performance. The martial arts tradition of the Manipur people is inherited from their forefathers who had to defend themselves from the attack of neighbouring countries. In the spirit of Chitrangada, the famed warrior princess of Manipur, women also participate in martial arts presentations.</p>
<p>The main drums of Manipur are the dhol, dholak and pung. Among them the two-headed classical pung drum, made from the seasoned woods of the jackfruit and wang trees, is an indispensable part of the lives of Manipuri Vaishnavas because it is used during the Hari Nama Sankirtan which is performed at all religious and social ceremonies. In Manipur, drumming is a graceful art form, involving dynamic movements of the head, legs and entire body. The musical pung is characterized by its</p>
<p>ability to create sounds ranging from a soft whisper to a thunderous climax. The virtuosic and acrobatic drum dances of Manipur are a powerful blend of complex <em>talas </em>or rhythms with the devotional mood of Vaishnava saints like Narottama Dasa Thakur.</p>
<p>In Manipur, Rasa Lila performances can last up to eighteen hours and can feature 216 dancers. Although shorter in duration and smaller in size, Ranganiketan’s performances evoke the same devotional emotions in those who witness them. T. D.</p>
<p>Singh said, “<strong>The purity and innocence of children’s depiction of the Lord’s pastimes can captivate the minds of everyone and gives us a glimpse of the Divine Realm</strong>”</p>
<p>for more on Ranganiketen Travel Troupe please visit www.ranganiketan.com</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=268&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/td-singh-contibutions-on-art-and-culture.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A PEACE VISIT TO PAKISTAN</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/a-peace-visit-to-pakistan.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/a-peace-visit-to-pakistan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 11:01:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Harmony and Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Bhaktisvarupa Damodara Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Bhaktisvarupada Damodara Swami Peace Harmony]]></category>
		<category><![CDATA[DR TD Singh on Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Peace Pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[Svarupada Damodara Peace Pakisatan]]></category>
		<category><![CDATA[TD Singh Peace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[August 26-29, 2004 by DR. T.D. Singh (HH Bhaktisvarupa Damodara Swami) In order to promote a culture of peace, friendship and brotherhood between India and Pakistan, Parliamentarian Smt. Nirmala Deshpande led a delegate of 22 Indians consisting of two other Members of the Parliament – Sri S.K. Kharventhan (Tamilnadu), Mr. Mohammad Salim (West Bengal), 19 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>August 26-29, 2004</p>
<p>by DR. T.D. Singh (HH Bhaktisvarupa Damodara Swami)</p>
<p>In order to promote a culture of peace, friendship and brotherhood between India and Pakistan, Parliamentarian Smt. Nirmala Deshpande led a delegate of 22 Indians consisting of two other Members of the Parliament – Sri S.K. Kharventhan (Tamilnadu), Mr. Mohammad Salim (West Bengal), 19 other social activists, religious leaders and university professors went for a 4 day trip to Pakistan. I was one of the delegates. For most of us this was our first trip to Pakistan. We went from New Delhi Station by Shatabdi Express through Amritsar and arrived in Lahore after walking for some distance from the Indian border to Pakistan border in the afternoon of August 26. Our Pakistani hosts welcomed us with great affection. Some young boys and ladies, youths and some elderly people garlanded all the Indian delegates. Among them a small sweet child with a welcome sign in his hand had attracted my attention.</p>
<p><span id="more-264"></span></p>
<p>The child’s innocence and love conveyed a profound message that love is beyond any boundaries. Mr. Muhammad Tahseen, Executive Director of South Asia Partnership, Pakistan welcomed us. A formal reception function was held in Holiday Inn, Lahore at 6:00 pm. It was held in the Holiday Inn, Lahore. There was a presentation in the form of a dance drama depicting the wars and tragedies undergone by the two countries and the hope that peace will definitely prevail someday. It was very moving to see the dramatic presentation. Mr. Tahseen said that because of conflicts between the two countries for over half a century, masses of people have undergone great sufferings, agony and pain beyond any description. Thus we common people from both the countries must impress our respective Governments to venture for peace. Kashmir issue was also mentioned. Our Bishop from New Delhi, our M.P. from West Bengal and a few others including Smt. Nirmala Deshpande spoke at the reception program.</p>
<p>The delegates stayed at different places. I stayed at the Human Rights Commission of</p>
<p>Pakistan (HRCP), Lahore with six other delegates. Next day on August 27 in the</p>
<p>morning all of us went to Kasur by bus to pay our homage to Baba Bulleh Shah, a</p>
<p>Sufi saint and mystic of the eighteenth century (1680 – 1752). On the way there was</p>
<p>another reception and we reached Kasur around 11.00am. We laid ‘chaddar’ on Baba</p>
<p>Bulleh Shah’s tomb remembering his message of love, respect and peace to humanity.</p>
<p>We also presented ‘chadars’ on behalf of the Prime Minister of India Dr. Manmohan</p>
<p>Singh and Foreign Minister Natwar Singh. There was a beautiful</p>
<p>reception with beautiful musical prayer accompanied by many instruments including</p>
<p>drums.</p>
<p>While coming out, many Pakistani children, old men and ladies wanted to have</p>
<p>photograph with us. All of them were very loving and welcoming. We then proceeded</p>
<p>for the Symposium on peace at Prince Marriage Hall, Kasur. The Hall was completely</p>
<p>full with over 400 people. All the Indian delegates presented a brief message on peace</p>
<p>and spoke about Baba Bulley Shah’s life and his profound contributions. I also spoke</p>
<p>and mentioned, “We have come here to bring the goodwill message of India to bring</p>
<p>peace between Hindustan and Pakistan. I also added that in this most critical juncture</p>
<p>of humanity when the whole world is facing fear, terrorism and anxiety, goodwill</p>
<p>visits for both countries for dialogues and friendship could play a vital role in</p>
<p>easing the tension and misunderstanding and restoring peace between the two</p>
<p>countries.” In between lectures there were beautiful songs about Baba Bulleh Shah’s</p>
<p>life and his contribution to humanity. Lunch was arranged in a nearby school. After</p>
<p>lunch we all went back again to the same hall for a Seminar on Baba Bulleh Shah’s</p>
<p>contribution to Peace. The hall was packed again. I was interviewed by Pakistan TV.</p>
<p>On the way back to Lahore, we visited Punjab Khoj Ghar in between Kasur &amp; Lahore.</p>
<p>They are trying to build Punjab Research  Center. Because of special permission, we</p>
<p>were free from any police inspection and were always protected</p>
<p>and led by a military convoy jeep. Next day morning on the 28th August, our group’s</p>
<p>visit was flashed in the morning news of National TV of Pakistan. Pakistan is about</p>
<p>half an hour behind Indian time. Our breakfast was hosted by Mr. Waheed Ahmed</p>
<p>Butt, president of Peace Keepers, Lahore, Punjab, Pakistan at Pakistan Council for</p>
<p>Scientific and Industrial Research (PCSIR), Lahore. All the Indian delegates again</p>
<p>briefly spoke about the purpose of our visit to Pakistan. It was attended by over 500</p>
<p>people. There was another dramatic presentation by 4 youths.</p>
<p>In the afternoon a group of Indian delegates including me were taken by Mr. Raheem</p>
<p>Ul Haque who is working in information and computer science to see a group of</p>
<p>Pakistani students at Nairang Art  Gallery to discuss about Peace with them. They had</p>
<p>an organization called Bargard for Peace and Youth Cooperation. We had a very nice</p>
<p>discussion for about one hour. They are also inviting Indian students to visit them. We</p>
<p>then visited Sikh Temple in Lahore and the famous Lahore  Museum. Then we visited</p>
<p>the famous Badshah Mosque. In the night we attended a concert on Baba Bulleh Shah</p>
<p>in the Open Air Baghe-Jinnah Amphitheatre, Lahore. It was quite impressive. Over</p>
<p>2000 people attended the program.</p>
<p>In the morning of August 29, I met one elderly scholar Mr. Nizamuddin who was incharge of Library at the HRCP. He was quite educated and 88 years old. When he knew that I was from Manipur, he became very enthusiastic and asked many interesting questions. He had a collection of newspaper cuttings about Manipur.</p>
<p>He was extremely happy that we came for promoting peace between Hindustan and Pakistan. I was very impressed with his wisdom and concern for the well-being of the people in general. I gave him little donation for buying his shoes. Before I left he said, “Please sacrifice your life for the welfare of the people. Please suffer for the people.” We left Pakistan at 12:00 noon.</p>
<p>– Dr. T.D. Singh (His Holiness Bhaktisvarupa Damodar Swami)</p>
<p>Indian Delegation led by Mrs. Nirmala Despande, on the way to Pakistan</p>
<p>Reception on arrival in Pakistan</p>
<p>Reception on</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=264&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/a-peace-visit-to-pakistan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Greetings of Love and Peace</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/greetings-of-love-and-peace.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/greetings-of-love-and-peace.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 13:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[Glorification]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[On Harmony and Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Berpulangnya Sripada Maharaja]]></category>
		<category><![CDATA[Bhaktisvarupa Damodara Swami]]></category>
		<category><![CDATA[DR TD Singh]]></category>
		<category><![CDATA[Sripada Thirobhava]]></category>
		<category><![CDATA[SripadaNectar]]></category>
		<category><![CDATA[Svarupa Damodara Srila Prabhupada]]></category>
		<category><![CDATA[TD Singh and Prabhupada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[by Rev. Canon Charles P. Gibbs, Executive Director of URI’s (Sent By gopijana of www.Mayapur.com on Mon, 2009-09-28 17:33. Today is HH Bhaktisvarupa Damodara Maharaja’s disapperance day.Maharaja is a dear most disciple of Srila Prabhupada. It was Maharaja’s desire to have URI (United Religious Initiative)Global Assembly in Mayapur.Honouring Maharaja’s desire, URI Global Assembly 2008 took [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by Rev. Canon Charles P. Gibbs, Executive Director of URI’s</p>
<p><span>(Sent By gopijana  of www.Mayapur.com on Mon, 2009-09-28 17:33. </span></p>
<div>
<p><img src="http://mayapur.com/sites/default/files/old/BSDS1.jpg" alt="" />Today is HH Bhaktisvarupa Damodara Maharaja’s disapperance day.Maharaja is a dear most disciple of Srila Prabhupada. It was Maharaja’s desire to have URI (United Religious Initiative)Global Assembly in Mayapur.Honouring Maharaja’s desire, URI Global Assembly 2008 took place in Mayapur.This meeting has a profound impact for us in Mayapur,which gave a unique oppurtunity to understand the vision of Maharaja and work with URI brothers in spreading the message of love and peace. On this day, as a dedication at the lotus feet of HH Bhaktisvarupa Damodara Maharaja, we offer Rev. Canon Charles P. Gibbs, Executive Director of URI’s letter on the URI experience in Mayapur.)</p>
<h4>Greetings of love and peace. Hare Krishna! Namaste!!</h4>
<p>Seven months have sped by since the URI community was blessed with your remarkable hosting of our Global Assembly – Pilgrims of Peace: Many Paths One Purpose – in Mayapur, but I don’t believe a single day has passed that you have not been present in our thoughts and in our prayers, with profound gratitude and a deep desire for blessing for the ISKCON community and for Jayapataka Swamiji’s return to health.</p>
<p>Indeed, in the conference room in our global office in San Francisco, which hosts nearly constant meetings every day dedicated to the ongoing work and development of URI around the world, there is a poster filled with pictures of the Global Assembly. I spend many hours each week in that room, always sitting in the chair where I can look at those pictures and feel that even as I am sitting in San Francisco some part of me is connected with your remarkable community on the banks of the Ganges.</p>
<p>Down the hall, Mark Mancao’s office wall is adorned with large posters from Mayapur. In my office, there are several pictures of our beloved Dr. T.D. Singh, including one with Jayapataka Swamiji. URI’s You Tube site has over 60 videos, most of them from the Global Assembly.</p>
<p>And these are simply symbolic representations of the profound impact our time in Mayapur has had on the life of URI. Our time with you was a time of spiritual deepening and broadening for all who came – a time of deepening in our own traditions, and a time of broadening as people learned about the traditions of others they had never encountered before, and especially of the tradition of the ISKCON community. That deepening and broadening is an incomparable blessing to our work. Then I think of the flowering of our Young Leaders Program, catalyzed by our time there. I think of one young man’s journey of service to help set up a computer training center, with donated computers he had obtained, in Malawi. I think of another young leader who has set up a program connecting high school students in Israel and Iran.</p>
<p>I think of the work moving forward to observe the International Day of Peace with a major football match between the North and South of Uganda – a division in that country that was been deep, long standing and tragic in its consequences. This football match, which the organizers hope will attract international participation, was born of a vision inspired when URI and ISKCON youth played each other in Mayapur.</p>
<p>I think of seven young leaders from diverse parts of the world who are privileged to spend a week this summer at a youth conference organized by Ven. Jinwol Lee in Korea. And I think about the e-mail conversations that take place each day involving young leaders all over the world who have a deeper commitment to change the world, beginning with their own deep spiritual practice and service, and a higher vision of what is possible when we reach across the chasms that can divide us and unite in mutual respect and common purpose for service.</p>
<p>Let these few examples from our young leaders symbolize the far-reaching impact our time in Mayapur has had on URI’s development. We were enriched beyond expression by the deep spirituality and extraordinary hospitability of your community while we were there, and the seeds that were planted in that soil will continue to bear fruit as long as URI exists. As long as the URI story is told, the Mayapur Global Assembly will be a part of that story, and we will be forever grateful to you and your community for the incomparable gift you have given us.</p>
<p>I look forward as the months and years untold, to exploring ways we can continue to deepen our relationship, and trust that our dear brother, Vrajapati Das, will play an important role in that effort.</p>
<p>In the meantime, please extend my deepest gratitude and respect on behalf of URI to the members of your community who gave so much to our community. And please accept my personal thanks to you and my pledge that you and your community remain in my prayers to continue to receive blessing upon blessing, even as you bestow the blessing of peace, justice and hearing on our world through deep devotion and selfless service.</p>
<p>Faithfully,<br />
The Rev. Canon Charles P. Gibbs<br />
Executive Director</p></div>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=126&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/greetings-of-love-and-peace.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Interrelligious Dialogue Concept :</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/interrelligious-dialogue-concept.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/interrelligious-dialogue-concept.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 06:03:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Harmony and Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Sripada Lecture]]></category>
		<category><![CDATA[Nectarian Srila Sripada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; We are all Chilldren of the same Father!!! &#8212;&#8212;&#8212;- Short Speech by Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami * (place : Bhakti-Yoga Ashram, Yogyakarta) (Pada Kesempatan Kali ini, Srila Bhaktisvarup Damodar Maharaj alias Dr. Singh, berbicara kepada penghuni asram dan beberapa tamu dari Interfidei, beberapa aktivitis muda Dialog Lintas Agama. Maharaj menyemangatkan anak-anak muda ini agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; </em></strong><strong><em>We are all Chilldren of the same Father</em></strong><strong><em>!!!</em></strong><strong><em> &#8212;&#8212;&#8212;-</em></strong></p>
<p><em>Short Speech by Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami *</em></p>
<p><em>(place : Bhakti-Yoga Ashram, Yogyakarta)</em></p>
<p>(Pada Kesempatan Kali ini, Srila Bhaktisvarup Damodar Maharaj alias Dr. Singh, berbicara kepada penghuni asram dan beberapa tamu dari Interfidei, beberapa aktivitis muda Dialog Lintas Agama. Maharaj menyemangatkan anak-anak muda ini agar semakin menggalang dialog antar agama, demi semakin mendorong adanya kerharmonisan dan kedamaian dalam pluralisme agama)</p>
<p>Saya baru datang dari Korea dalam rangka pertemuan Global URI (United Religion Initiative), dimana saya adalah salah satu pendiri &amp; Koordinatornya. Ada banyak tokoh dari berbagai kalangan dan agama yang datang ke pertemuan tersebut. Ada dari kalangan kristen, buddha, dan lain sebagainya termasuk agama islam, seperti beberapa delegasi dari negera Malaysia, Indonesia. Mungkin Anda juga pernah mendengar tentang parlemen agama-agama dunia? Tahun lalu parlemen ini mengadakan konferensi di Spanyol. Selama ini saya aktif dalam mengadakan  <em>interreligious/interfaith dialogue</em>, pertemuan &amp; dialog antar berbagai agama dan kelompok-kelompok relijius, demi atau dalam rangka mewujudkan ‘<em>world</em> <em>peace and harmony’ </em>Kedamaian dan keharmonisan masyarakat dunia.</p>
<p>Perdamaian Dunia tidak mungkin terwujud tanpa adanya perdamaian antar-agama, perdamaian antar agama tak akan ada tanpa diawali dengan dialog. Dialog berarti berkumpul, duduk bersama, saling mengemukan masalah secara bersama, sehingga tidak ada saling salah paham. Lalu bagaimanakah caranya agar ada suatu dialog ? Tidak mungkin ada dialog  tanpa ada <em>Global Ethics (</em>Etika Global). Maka itu adalah tanggung-jawab kita bersama untuk mengembangkan dialog.</p>
<p><span id="more-15"></span>Hampir dalam setiap agama mengatakan atau menjelaskan bahwa kita semua adalah “Anak-anak” Tuhan, Anak yang memiliki persamaan derajat dimata Tuhan. Tuhan memiliki banyak nama, seperti halnya Anda berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda. (begitu juga Tuhan dipanggil dengan berbagai Nama dalam bahasa yang berbeda, namun ia mengacu pada satu Tuhan, Tuhan yang sama-ed)</p>
<p>Konsep dalam dialog ini adalah bagaimana mendekatkan antara kita (antara umat beragama), bahwa kita adalah Saudara. Dan konsep ini harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, di dalam masyarakat, bukan hanya sekedar teori di mulut saja.</p>
<p>Di dalam tradisi Hindu, Tuhan Yang Maha Esa, disebut atau dikenal denan banyak Nama-nama sanskerta seperti Krishna (Dia Yang Maha Menarik). demikian juga di kalangan Kristen Tuhan disebut dengan Kristus (atau Bapa di Surga), dalam agama Islam Tuhan disebut dengan Alloh, sedang dikalangan agama Yahudi, Tuhan dipanggil dengan nama Jehovah. Jadi Tuhan itu adalah satu dan semua kitab suci mengatakan bahwa kita adalah “Anak-anak” Tuhan yang sama, Tuhan yang satu itu. Walau Tuhan satu tetapi Dia dipanggil dengan nama yang berbeda-beda. Seperti halnya di India ada sistem penamaan (orang) tersendiri, begitu juga di ndonesia juga memiliki sistem penamaan yang berbeda. Jadi walau kita memangil Tuhan yang sama itu dengan berbagai nama yang berbeda, namun kita tetap adalah “anak-anak”-Nya.</p>
<p>Dalam Bhagavad- Gita, Tuhan, Sri Krishna menyatakan :</p>
<p align="center"><em>mamaivamso jiva-loke       jiva-bhutah sanatanah</em></p>
<p align="center"><em>manah-sasthanindriyani       prakrti sthani karsati</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p>Mahluk-mahluk atau entitas hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian &amp; percikan yang kekal dari-Ku, mereka berjuang keras melawan 6 (enama) indera termasuk pikiran. (Bg. 15.7)</p>
<p><strong><em>We are all Chilldren of the same Father!!!</em></strong></p>
<p>Seluruh dunia sekarang sedang berpikir bagaimana cara mencari atau mewujudkan <em>Peace</em> and <em>Harmony!</em> Memang secara teori mudah mengatakan bahwa kita adalah “anak-anak” Tuhan, bahwa kita semua adalah Saudara, namun masih susah untuk mempraktekknya dan masih banyak terjadi pertikain dan peperangan atas nama agama, perbedaan suku dan ras, di berbagai belahan dunia.</p>
<p>Memang dalam kenyataan sehari-hari anak-anak yang lahir dari ayah (dan ibu)  yang sama pun bertengkar satu sama lain, yang mana pertengkaran itu biasanya terjadi dalam perebutan warisan, bisnis, dan lain sebagainya. Maka itu kalau kita sungguh-sungguh ingin mewujudkan <em>peace</em> and <em>harmony, </em>maka  kita harus belajar berdialog (dengan saudara-saudara kita yang lain).</p>
<p>Karena itu dialog antar umat beragama adalah mutlak diperlukan untuk menghindari berbagai masalah  seperti terorisme dan lain &#8211; lain.</p>
<p>Dialog ini juga sangat penting digalakkan dikalangan mahasiswa, karena mayoritas masyarakat dunia adalah anak muda dan mahasiswa merupakan bagian anak muda yang cukup besar dalam penduduk dunia, yang sekarang juga sedang mulai berminat dalam <em>interreligious dialogue</em> ini, sehingga kehidupan umat manusia yang harmonis (dan damai) akan lebih mudah untuk diwujudkan.</p>
<p>(Maharaj menunjukan sebuah buku baru yang berjudul “<strong>Toward world peace and harmony</strong>”)</p>
<p>Dan buku ini adalah merupakan kontribusi dari beberapa peraih hadiah nobel dalam rangka konferensi pendahuluan yang diadakan di New Delhi, sebelum menuju World Congress, yang diselenggarakan oleh <em>world relgious parilament</em> (Parlemen Agama-agama Dunia) pada tahun 2004 di Spanyol. Buku ini saya edit sendiri dan kata pengantarnya ditulis oleh Desmond Tutu (peraih Nobel dari Afrika Selatan). Para Penulis yang ada di dalam buku ini, datang dari berbagai kalangan (termasuk DR Singh) seperti ada juga seorang penulis muslim, peraih Nobel dalam Sains (Ilmu pengetahuna Eksak), Ada juga seorang peraih nobel dari Irlandia dan lain sebagainya.</p>
<p>(Maharaj mengutip kata-kata salah satu penulis dalam buku itu) :</p>
<p>“Saya sadar sepenuhnya kehadiran Tuhan dalam hati saya, dan dalam    setiap hati makhluk hidup lainnya. dan setiap kehidupan manusia adalah rahasia, lalu bagaimana saya dapat membunuh makhluk  atau umat lainnya.&#8221;</p>
<p>Kemudian Maharaj (Dr.singh) membacakan kutipan dari penulis yang lain , yaitu Desmond Tutu, dia mengatakan :</p>
<p>“Tidak akan ada masa depan tanpa rasa memaafkan tanpa kehadiran rasa pemaafan ini semua akan hancur”</p>
<p>“Tidak akan pernah ada Stabilitas jika ada dendam “</p>
<p>“Perdamaian bukan mimpi, namun melain kan adalah suatu kerja keras “<em>Hard Work</em>”, bukan pula sesuatu yang glamor, naif dan lain- lain.</p>
<h1>Inti interreligious dialogue</h1>
<p>Dan di dalam dialog antara agama, (sebaiknya) ada dialog <em>science</em> dan <em>religon</em> (dialog antara Ilmu pengetahuan ilmiah dan ilmu agama). Sains dapat menghasilkan bom, yaitu senjata untuk membunuh. Jika disalahgunakan maka akan berdampak sangat fatal. Namun disisi lain tak dapat dipungkiri sains sangat membantu kehidupan manusia seperti halnya mikropon ini, dapat memperkeras suara. Ini merupakan contoh produk sains yang bermanfaat bagi umat manusia. Demikian juga dengan produk-produk yang dihasilkan sains lainnya seperti pesawat terbang dan lain sebagainya, sangat banyak membantu kehidupan manusia.</p>
<p>Maka itu, karena hasil-hasil sains sangat penting, seperti juga di  dalam <em>medical science </em>(Ilmu pengetahuan medis atau kedokteran), Sains Pertanian dan lain-lain. Karena itu Sains sangat menguntungkan tetapi juga dapat menghancurkan seperti dapat kita lihat dengan adanya bom-atom. Betapa dahsyat juga, efek negetif yang pernah dihasilkan oleh sains ini (yaitu hancurnya dua kota besar di Jepang akibat bom atom).</p>
<p>Maka itu adalah sangat mendasar, ilmuwan itu diajak untuk berdialog (dalam rangka mewujudkan perdamaian dan keharmonisan dunia). Siapakah yang dapat menginspiraksikan atau mengarahkan para ilmuwan ini?, hanyalah seorang rohaniawan!! Karena konsep-konsep religi memberikan suatu konsep benar-salah. Agama yang benar atau agama yang benar-benar <em>bona fide,</em> dapat menjelaskan mana kegiatan yang benar mana kegiatan yang salah, karena itu dalam <em>interreligious dialogue</em> harus ada ruang bagi dialog antara sains dan agama, dialog  ini merupakan suatu gerakan dan proyek besar di masa mendatang bagi masyarakat manusia.</p>
<p>Saya juga kenal dengan beberapa <em>groups </em>atau kelompok yang sedang mengumandangkan dialog antar sains dan agama ini, seperti di Amerika Serikat ada Metanexus Institute dan lain-lain. Dan ada lokal group seperti di Yogyakarta atau UGM ini (di Yogya, kalo ga salah ada Interfidei!). Ceramah singkat ini akan saya akhiri dengan sebuah doa dan saya akan menjelaskan arti doa  itu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hindu Adalah Monoteisme.</strong></p>
<p>(<em>Setelah DR. Singh Memimpin hadirin dengan mengucapkan berbagai doa dalam bahasa sanskerta, lalu beliau berbicara tentang doa dan kegiatan asram setempat sebagai berikut</em>: )</p>
<p>Dalam kehidupan keseharian kita dalam tradisi Hindu seperti yang dilakukan oleh anak-anak di Asrham ini, ketika bangun pagi-pagi sekali. Kita mulai dengan sembahyang (yang mulai sekitar jam 4 30 am). Hinduisme juga menganut keyakinan Monoteisme seperti halnya agama-agama besar lainnya. Namun terjadi salah paham selama ini yang menganggap Hindu adalah memuja banyak dewa. Kesalahan ini terjadi karena kurang ada dialog, kurangnya ada komunikasi dengan sikap <em>open-minded</em>. Seperti halnya kelompok <em>abhrahamic</em>, kelompok Kristen, Islam, maka dalam Hindu juga dikenal satu Tuhan.  Di dalam keyakinan Hindu, sedikit ada ekstranya (dengan adanya keyakinan akan mahkluk–makhluk surgawi yang sering disebut dengan para dewa, semacam malaikat di agama lain) dan kita (keyakinan Hindu atau Veda), menerima Tuhan itu adalah satu, namun saat yang sama juga Dia Dapat memperbanyak diri menjadi banyak, Dia dapat ber-ekspansi atau memperbanyak diri mejadi Avatar.</p>
<p>(<em>Ekspansi Tuhan ini disebut dengan Avatar dalam sanskerta, Avatar berbeda dengan para dewa; Avatar adalah Ekspansi atau Inkarnasi Tuhan, sedangkan para dewa adalah makhluk-makhluk surga, merupakan makhluk pelayan-pelayan Tuhan</em>).</p>
<p>(Kemudian Maharaj memperkenal nama-nama ekspansi Tuhan dan nama namanya, yang di puja diasrham.)</p>
<p>Arca ini kelihatannya saja seperti terbuat darri metal atau kayu, namun semua ini adalah berdasarkan kitab suci, sudah dihidupkan secara <em>prana pratistha. </em> Prinsip pentingnya adalah Tuhan itu satu kita punya hubungan yang pribadi dengan-Nya karena itu diantara semua agama dan persamaan,</p>
<p>Maka itu perlu adanya dialog untuk menghindari adanya kesalahpahaman.</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=15&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/interrelligious-dialogue-concept.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERANAN UMAT MANUSIA DI ALAM SEMESTA*</title>
		<link>http://www.sripadanectar.com/peranan-umat-manusia-di-alam-semesta.html</link>
		<comments>http://www.sripadanectar.com/peranan-umat-manusia-di-alam-semesta.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 05:59:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sripada</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Harmony and Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Sripada Lecture]]></category>
		<category><![CDATA[Lecture]]></category>
		<category><![CDATA[Nectarian Srila Sripada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sripadanectar.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Dari Perspektif Vedanta By Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami+ Saudara-saudari dan para peserta Parlemen Agama-Agama Dunia! Tidak lama lagi kita akan memasuki sebuah era baru, dengan harapan baru akan sebuah dunia yang penuh makna, dimana segala (lapisan) umat manusia dapat hidup dengan damai. Modal besar untuk mencapai harapan ini berada dalam benak setiap orang yang tulus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Dari Perspektif Vedanta </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<h1>By Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami+</h1>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p>Saudara-saudari dan para peserta Parlemen Agama-Agama Dunia!</p>
<p align="center">
<p>Tidak lama lagi kita akan memasuki sebuah era baru, dengan harapan baru akan sebuah dunia yang penuh makna, dimana segala (lapisan) umat manusia dapat hidup dengan damai. Modal besar untuk mencapai harapan ini berada dalam benak setiap orang yang tulus menginginkannya. Salah satu hal yang harus dipelajari adalah cara untuk saling menghormati satu sama lain, dengan setulus hati, meskipun kita berbeda dalam hal; budaya, tradisi, bahasa, warna kulit dan lain-lain atau dengan kata lain menyadari bahwa <strong>kita semua adalah “Anak-anak” Tuhan yang sama.</strong> Parlemen agama-agama dunia merupakan sebuah wadah yang sempurna untuk menciptakan dialog-dialog penting diantara semua komunitas religius yang ada di muka bumi ini, dan kami ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada para pelopor organisasi ini.</p>
<p><span id="more-13"></span>Agama merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia sejak awal peradaban. Memang nyatanya agama dan budayalah yang membuat manusia berbeda dengan bentuk-bentuk kehidupan lainnya (seperti kehidupan hewan, tumbuhan dan lain sebagainya.) Dalam berbagai waktu atau zaman yang berbeda, sepanjang sejarah peradaban manusia, terjadi banyak kesalahpahaman yang serius diantara berbagai kelompok-kelompok religius baik dalam satu agama, maupun antar-agama, yang berdampak timbulnya perang dan perpecahan, yang akhirnya berujung pada merosot dan hilangnya makna dan tujuan religius yang sebenarnya. Kita hanya dapat menyarankan bahwa sebab utama semua ini adalah kurangnya pendidikan spiritual &amp; budaya dan juga kurang atau tidak adanya prinsip-prinsip pengetahuan dan aplikasi atau penerapan suatu agama yang sejati!</p>
<p>Kita para peserta parlemen agama atau biasa dikatakan sebagai para peziarah perdamaian (Pilgrame of Peace) telah datang kemari untuk belajar dari satu sama lain untuk mendapatkan <strong>kebijaksanaan dan pengetahuan dari berbagai tradisi (yang ada di dunia) </strong>untuk sebuah pengalaman yang memuaskan<strong> (<em>fullfilling experience</em>). </strong>Saya sangat senang bahwa para panitia parlemen agama-agama dunia mengundang saya sebagai salah seorang pembicara di dalam pertemuan ini. Saya akan menyajikan sebuah tema “Vedanta and Peranan Umat Manusia di Jagat Raya”</p>
<p>Beberapa hadirin mungkin sudah familiar dengan kata Vedanta. Namun untuk keuntungan hadirin yang lain, yang belum mengenal kata ini, saya akan menjelaskan artinya secara ringkas. Vedanta merupakan sebuah kata Sanskerta yang berasal dari dua kata “<em>Veda</em>” dan “<em>Anta</em>” Veda berarti “Pengetahuan,” anta berarti “akhir atau puncak.” Jadi Vedanta berarti puncak segala pengetahuan. Mungkin akan ada pertanyaan “Apakah puncak atau akhir segala pengetahuan itu?” Bhagavata Purana dalam tradisi Veda menjawabnya:</p>
<p align="center"><strong><em>Vasudeva para veda/ vasudeva para makha</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Vasudeva para yoga/ vasudeva para kriya</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Vasudeva param jnanam/ vasudeva para tapah</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Vasudeva paro dharmo/ vasudeva para gatih</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em> </em></strong></p>
<p>Artinya :</p>
<p>“Obyek pengetahuan tertinggi adalah Vasudeva, Krishna, Pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan melaksanakan korban suci adalah untuk memuaskan-Nya. Yoga adalah untuk menginsyafi Diri-Nya. Segala hasil karma (pahala) sebenarnya hanya dianugerahkan oleh-Nya. Dia adalah pengetahuan tertinggi dan segala pertapaan keras seharusnya dilakukan hanya untuk mengenal Diri-Nya. Agama (<em>Dharma</em>) adalah pelayanan suci kepada-Nya. Dia adalah tujuan tertinggi hidup kita.</p>
<p>Didalam Bhagavad gita, Nyanyian Tuhan, Bhagavan Sri Krishna, bersabda:</p>
<h2>Vedais cat sarvair aham eva vedyo</h2>
<p align="center"><em>Vedanta krd veda vid eva caham</em></p>
<p align="center"><em>(Bhagavad Gita 15,15)</em></p>
<p>“Tujuan mempelajari segala kitab Veda adalah untuk mengetahui Aku. Bahkan, Aku-lah penyusun Vedanta dan Aku-lah yang mengetahui Veda.”</p>
<p>Tujuan empat Veda, semua Upanisad, Vedanta–Sutra, Purana dan segala literatur Veda adalah untuk mengerti tentang Tuhan, Sri Krsihna.</p>
<p>Vedanta-Sutra (1:1:4) menegaskan : <em>tat su samanvayet</em>, yang berarti “Seseorang dapat mencapai kesempurnaan dengan mengerti kitab suci Veda”</p>
<p>Srila Vyasadeva adalah penyusun Vedanta dan semua kitab-kitab suci Veda. Beliau merupakan inkarnasi Tuhan sebagai penyusun Veda (<em>Literary Inkarnasi of Krishna</em>). Ilmu pengetahuan dan filosofi Vedanta bersifat universal dan merupakan mahkotanya kitab suci Hindu dan tradisi spiritual. Vedanta menjelaskan tentang realitas yang utama “<em>Ultimate Reality</em>”</p>
<p>Vedanta merupakan pengetahuan yang lengkap tentang Tuhan dalam agama Hindu. Vedanta–Sutra ditulis dalam ungkapan-ungkapan sangat ringkas (yang disebut <em>Sutra</em>). Sutra berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ayat/sloka yang sangat pendek. Setiap Sutra mengandung pengetahuan ilmiah dan spiritual yang mendalam dan setiap kata di dalam setiap Sutra memerlukan penjelasan yang benar-benar mendalam. Sutra pertama dalam Vedanta-Sutra menjelaskan atau berkenaan dengan peranan umat manusia di alam semesta atau dunia ini.</p>
<p>Sutra pertama ini mengandung makna yang paling mendalam akan pengetahuan dan filosofi kehidupan manusia. Sutra pertama itu berbunyi :</p>
<p align="center">“<strong><em>Athato Brahma Jijnasa</em></strong>”</p>
<p align="center">
<p>“Oleh karena itu, sekarang orang harus bertanya tentang Brahman, kebenaran Mutlak yaitu Tuhan”</p>
<p>Kata-kata “Oleh karena itu, sekarang” memiliki makna yang mendalam.Banyak sarjana terkenal menjelaskan bahwa dua kata ini menerangkan bahwa sekarang engkau telah mendapatkan wujud kehidpan manusia ini dan oleh karena itu bertanyalah tentang Brahman, Kebenaran Mutlak (Tuhan-ed). Orang bijaksana, setelah mengalami segala jenis yang namanya saja kebahagiaan dan kemewahan material, akan segera atau akhirnya melihat bahwa dunia materiil ini merupakan sebuah tempat penderitaan yang tak akan pernah berakhir, bukannya tempat kebahagiaan atau pemenuhan segala keinginan. Bahkan orang yang paling kaya dan dokter yang paling ahli pun, tidak bisa terhindar dari penyakit, usia tua dan kematian. Dewasa ini, setelah mencapai kemajuan pesat dalam sains dan teknologi, kita semakin merasakan alam dimensi baru, <em>alam bahaya yang lebih besar didalam wujud terorisme, perang nuklir, perang kuman atau Virus (germ warfare) dan dipertaruhkannya kelanggengan peradaban manusia. </em></p>
<p><strong>Vedanta Menjawab tantangnan ini</strong></p>
<p>Vedanta menjelaskan penyebab segala bahaya ini adalah kurangnya pengetahuan akan kehidupan dan pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, Sang Kebenaran Mutlak. Jadi, dalam wujud kehidupan sebagai manusia, seorang bijaksana seharusnya mampu menginsafi bahwa tidak ada hal yang lebih penting daripada mengerti atau mengetahui realitas tertinggi itu, yaitu Brahma/Tuhan.</p>
<p>Berdasarkan Vedanta, kita mendapatkan badan manusia setelah melewati 8 (delapan) juta badan atau bentuk kehidupan dibawah manusia (seperti amuba, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya) Kehidupan dalam badan manusia merupakan bentuk kehidupan paling mulia, berharga dan tidak ada jaminan setiap orang apakah dia mendapatkan kesempatan memperoleh kehidupan sebagai manusia lagi atau tidak, pada kelahiran berikutnya. Badan manusia merupakan satu-satunya kesempatan dengan mana kita dapat keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian di dunia materiil ini dengan cara memotong sepenuhnya rantai karma. Hal ini dapat dicapai dengan jalan spiritual Bhakti-Yoga yaitu <em>sravanam</em> (mendengar), <em>kirtanam</em> (memuji), Smaranam (mengingat) keagungan Tuhan dan llain sebagainya. Seseorang yang serius tidak akan melewatkan kesempatan emas ini (kesempatan keluar dari lingkaran penderitaan kelahiran dan kematian).</p>
<p>Karena alasan ini maka filosofi Vedanta tidak mengijinkan atau menganjurkan segala tindakan yang tidak alamiah seperti euthanasia, pembunuhan atau bunuh diri yang dianjurkan bahkan bagi orang-orang yang memiliki penyakit kronis (<em>terminal disease</em>) atau memperpanjang hidup secara tiruan. Jadi, Vedanta juga mengajarkan banyak tentang etika biomedis. Oleh karena itu, kata-kata “Oleh karena itu, Sekarang juga”, mengandung makna yang dalam mengenai betapa pentingnya bentuk kehidupan manusia dan manusia memiliki peranan yang penting di Jagat Raya ini (untuk menciptakan kedamaian-ed).</p>
<p>Catatan:</p>
<p>*    Rangkuman Ceramah. Ceramah ini disampaikan oleh Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami di depan berbagai tokoh lintas agama, anggota Parlemen Agama-agama dunia, pada salah satu pertemuannya di Cape Town, Afrika Selatan</p>
<p>+  Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami, merupakan salah satu anggota pendiri URI (United Religion Initiative), Organisasi terbesar di dunia dalam bidang menggalakana Dialog Lintas agama dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia dan menghindari kekerasan yang mengatasnamakan agama. (lihat juga ceramah beliau tentang pentingnya dialog antar agama.</p>
<img src="http://www.sripadanectar.com/?ak_action=api_record_view&id=13&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sripadanectar.com/peranan-umat-manusia-di-alam-semesta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

